Pelestari Bakau dari Kabola
Sepuluh tahun lalu, ketika laut di Pantai Mali, Kecamatan Kabola, Alor, Nusa Tenggara Timur, pasang, halaman rumah Martha Lotang (55) dipenuhi air. Tanaman buah seperti pisang dan kelapa terendam air asin sehingga rusak. Genangan itu hanya berjarak 2 meter dari pintu belakang rumah.
Oleh Laraswati Ariadne Anwar
Akibatnya, keluarga menjadi cemas kalau-kalau pasang bertambah sehingga air bisa masuk ke rumah. Kejadian itu terus berulang.
“Setiap air laut pasang atau hujan, halaman rumah dan kebun habis terendam.” Kata Martha saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Kabola, Alor, akhir Maret lalu.
Tidak hanya perempuan itu yang jengkel dengan pasang, tetangga sekitar juga mengalami nasib buruk serupa selama setidaknya sepuluh tahun berturut-turut. Banyak tenaga dan biaya terkuras untuk membersihkan dan memperbaiki rumah beserta halaman.
Bertekad memperbaiki keadaan, Martha mengumpulkan tetangga dan mengusulkan untuk membuat kelompok kerja menanggulangi pasang. Ide itu disambut hangat. Maka, sejak 27 Januari 2008, terbentukla kelompok Tani dan Nelayan Cinta Persahabatan (KCP) beranggotakan 12 orang, termasuk suami Martha.
Mereka berembuk untuk mencari cara menghadapi air pasang. Alam tidak bisa dilawan, tetapi manusia bisa mencegah kerusakan, setidaknya mengurangi dampak buruknya.
“Kami ingat, dulu pesisir di kelurahan Kabola penuh pohon bakau. Akan tetapi, hingga tahun 2008, pohon bakau sudah jarang sekali di temui di Kaloba,” ujar Martha.
Berdasarkan data organisasi pelestarian lingkungan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia tahun 2009, ada beberapa titik yang ditumbuhi pohon bakau di Pulau Alor. Secara garis besar, kondisi hutan bakau Alor masih bagus. Namun, ada sebagian pantai garis yang terkikis akibat hilangnya hutan bakau. Satu-satunya di Kabola.
Akibat pengikisan, pesisir pantai menjadi semakin sempit dan air meluap memasuki perkebunan warga. Selain merusak perpohonan besar, air menyeret habis tunas-tunas pohon yang baru ditanam. Padahal, tunas itu calon tanaman sumber pangan dan nafkah warga.
“Dulu, di daerah ini ada banyak sekali bakau. Penduduk senang menebang bakau untuk dijadikan kayu bakar. Selain itu, batu karang dan pasir di sekitar bakau juga ditambang untuk bahan bangunan,” tutur Martha. Sebagian batu, pasir, dan kayu dijual warga.
Ia tidak menampik bahwa dulu para anggota KCP juga melakukan hal semacam itu. Saat itu, mereka masih tidak mengetahui perilaku demikian sangat merugikan alam dan masyarakat. Mereka hanya berpikir, alam memberikan segala kecukupan. Tidak terbayang bahwa berkah dari alam itu bakal habis.
Reboisasi Bakau
KCP menyadari, untuk mencegah air pasang naik ke halaman dibutuhkan pemecah ombak. Pada awalnya, mereka berpikir akan memangun turap. Namun, untuk membuatnya butuh biaya, terutama untuk membeli batu dan semen.
Mereka kemudia mengamati wilayah sekitar Pantai Mali. Mereka menyadari, ternyata pohon bakau bisa memecah ombak, termasuk ombak besar. Akar-akar bakau yang kokoh juga mengurangi debit air yang mengalir ke pantai.
Para anggota KCP lantas memetakan kemungkinan menanam bakau. Mereka menemukan pohon-pohon bakau tersisa yang masih bisa dipanen buahnya untuk di semai. “Buahnya harus bewarna merah, baru bisa di petik,” ujar Martha.
Walaupun merupakan alternative termurah, membuat pembibitan bakau tetap membutuhkan biaya. Padahal, mereka hanyalah nelayan kecil, petani, wirausaha kecil, dan peternak. Mereka tidak memiliki cukup sisa tabungan untuk disisihkan buat kegiatan organisasi itu.
“Saya terpikir untuk mencari uang dengan cara menjual jasa,” ucap Martha. Setelah berdiskusi, mereka menawarkan tenaga membersihkan kebun serta ladang milik orang lain. Syaratnya, pemilik kebun membayar upah Rp 10.000 sampai Rp 20.000 untuk setiap orang setiap kali membersihkan. Upah itulah yang ditabung sebagai modal awal KCP.
Setelah terkumpul beberapa ratus ribu rupiah, Martha menggunakannya untuk membeli kantong plsatik kecl-kecil sebagai tempat penyemaian bibit bakau. Kantong-kantong itu diisi tanah bercampur pasir dan di tengahnya dimasukkan biji bakau dari buah yang sudah matang. Kelompok ini punya dua bedeng pembibitan, masing-masing berukuran 4 meter x 4 meter.
Bakau yang disemai termasuk jenis Rhizophora mangle dan Bruguiera gymnorrhiza. Keduanya jenis yang paling lazim ditemu di Alor. Dalam dua bulan, tunas bakau tumbuh sepanjang 20 sentimeter dan mulai berdaun. Dalam tiga bulan, tinggi batangnya mencapai 30 sentimeter dan siap diatanam di pantai.
Diterjang Ombak
Tiba giliran menanam bibit bakau, masalah lain datang. Banyak tunas muda yang terseret gelombang karena pasir pantai tidak kuat menahan akarnya. Menghadapi soal ini, KCP memutar otak. Mereka lantas menanam bibit bakau di wilayah yang tidak berhadapan langsung dengan gelombang besar. Ini memang membuat bakau tak bisa langsung memecahkan gelombang. Namun, menjaga kelangsungan hidup tunas bakau dianggap lebih prioritas.
Perlahan, pohonnya nanti akan tumbuh menyamping ke daerah yang diterjang ombak besar dan menghadang ombak itu,” kata Martha.
Saat bakau mulai tumbuh, ada lagi kendala lain. Terkadang ombak membawa gelondongan kayu besar seperti batang kelapa sepanjang 2 meter yang bisa mematahkan pohon-pohon bakau muda.
Meski banyak tantangan, anggota KCP gigih mengatasi semua itu. Pada akhirnya hasil kerja mereka mulai diperhartikan berbagai pihak. Pada 2010, WWF Indonesia yang terkesan dengan inisiatif KCP menghibahkan dana Rp 12 juta untuk membantuk pembellian bibit bakau dari Dinas Kelautan dan Perikanan Alor, membeli plastik, dan alat-alat pendukung lain. Pada 2012, kelompok ini berhasil membibitkan 8.500 tunas bakau.
Jumlah bakau KCP terus bertambah menjadi 13.006 tunas pada 2016. “Selain kami tanam, tunas juga diberikan kepada kelompok tani dari desa lain yang mengikuti jejak KCP. Ada juga yang kami jual kepada dinas kelautan dan perikanan seharga Rp 7500 per batang,” kata Martha.
Kini, warga bisa bernapas lega. Selama lima tahun terkahir, air laut tidak lagi menghantam halaman mereka. Pohon-pohon pisang dan kelapa bisa tumbuh dengan subur.
Martha Lotang
- Lahir : Alor, 3 Maret 1962
- Suami : Daniel Belmo
- Anak : 6 orang
- Kegiatan :
- Penggerak kelompok Tani dan Nelayan Cinta Persabatan
- Penghargaan
- Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security Women’s Leaders Forum Awards (2014)
Sosialisasi
Hari-hari Martha kini tidak hanya diisi dengan membibit dan menanam bakau. Ia pun aktif mengunjungi sekolah-sekolah serta kelompok-kelompok tani di Alor untuk sosialisasi perawatan dan pengolahan bakau. Ia juga berkampanye mengajak masyarakat untuk menerapkan sistem pariwisata ramah lingkungan. “Jangan sampai demi mendapat uang, kita rusak rumah sendiri,” ujarnya.
Berkat kegiatan itu, pada 2014 badan kerjasama enam Negara Asia Pasifik untuk konservasi bahari, yaitu Coral Triangle Intiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security memberi Martha penghargaan atas upayanya membantu pelestarian alam Alor.
Sumber : Kompas. 4 April 2017. Hal 16

