Ditengah senyapnya ruang koleksi Museum Negeri Sumatera Utara, Mehamat Br Karo (51) tampak serius memandangi naskah kuno sembari sesekali mengetik di komputer jinjing miliknya. Sama seperti hari-hari lain, ia sibuk dan asyik sendiri menerjemahkan serta mengalihaksarakan naskah kuno beraksara Batak ke aksara Latin berbahasa Indonesia.
OLEH ANGGER PUTRANTO
Di meja kerjanya sebuah kitab yang terbuat dari kulit kayu berumur ratusan tahun bersanding dengan komputer jinjing keluaran tahun 2010-an. Ia perhatikan dengan seksama aksara Batak yang ada di kitab kuno itu, lantas mengetik beberapak kata di komputer jinjingnya hingga tersusun belasan baris bahasa Batak. Setelah proses alih aksara selesai, ia mulai menerjemahkan bahasa Batak ke dalam bahasa Indonesia.
Saat itu, Mehamat adalah satu-satunya tenaga alih aksara dan penerjemah kuno Batak di Museum Negeri Sumatera Utara. Padahal, jumlah naskah kuno yang dimiliki museum itu tergolong banyak, yakni 200 naskah kuno beraksara Batak. Karena keterbatasan tenaga ahli, baru 70 naskah yang diahliaksarakan. Sebanyak 50 naskah diantaranya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
“Saat ini sedikit sekali warga yang bisa membaca aksara Batak. Sekarang saya harus berkejaran dengan waktu karena sejumlah naskah mulai rusak dimakan usia,” ujarnya, akhir November lalu.
Sejumlah naskah di ruang penyimpanan koleksi memang mulai terkoyak. Lembaran-lembarannya mulai rusak dan berlubang dimakan rayap. Selain itu beberapa tulisan juga mulai kabur tak terbaca.
Sejak 1998, Mehamat terdaftar sebagai pegawai negeri sipil yang bertugas di Museum Negeri Sumatera Utara. Ia beberapa kali terlibat dalam tim penerjemah aksara Batak yang dibentuk Dinas Pariwisata Sumatera Utara. Namun, lima tahun terakhir, proyek tersebut tak pernah bergulir.
Meski begitu, Mehamat tetap bersemangat mengahliaksarakan dan menerjemahkan naskah-naskah kuno Batak. Hal itu ia lakoni kendati tidak ada pemasukan tambahan dari proyek terjemahan. Sejauh ini, setidaknya ia telah mengalihaksarakan 10 naskah kuno dan menerjemahkan 5 naskah kuno ke dalam bahasa Indonesia dengan biaya pribadi.
“Teks yang menurut saya menarik saya ambil dan saya terjemahkan. Ini untuk memuaskan hasrat pribadia saja. Nilai lebihnya dalam terjemahan tersebut bisa dimanfaatkan oleh orang lain,” katanya.
Salah satu naskah yang getol ia terjemahkan ialah naskah kuno Injil Markus yang ditulis dalam bahasa batak. Naskah yang ia temukan tersebut dicetak pada 1867. Mehamat bersemangat mengalihbahasakan naskah itu karena penasaran mengetahui bagaimana orang Belanda menyebarkan agama Kristen ke tanah Batak pada zaman dahulu.
Otodidak
Mehamat menuturkan, ia sejatinya tidak memiliki latar belakang keilmuan yang memadai dalam sastra Batak. Saat kuliah di Universitas Sumatera Utara, ibu dua itu merupakan lulusan Sastra Melayu. Namun, karena kecintaannya pada budaya luhur dan adat istiadat batak, ia menekuni sastra Batak secara otodidak. Kini, ia mencurahkan tenaga, waktu, dan seluruh hidupnya untuk sastra Batak.
Mehamat mengatakan, tidak mudah mengalihaksarakan dan menerjemahkan naskah-naskah kuno Batak. Pasalnya, naskah-naskah itu tidak mencantumkan penulis dan tahun pembuatan. Akibatnya dia kesulitan mengetahui konteks tulisan dalam naskah.
Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk menerjemahkan akasara batak. Mehamat terus berusaha agar aksara Batak dapat dipahami dan dimengerti oleh orang-orang Batak di zaman modern saat ini.
MEHAMAT BR KARO SEKALI
- Lahir: Seberaya, 12 Agustus 1965
- Suami: Hotlan Simanjuntak
- Anak:
- Febe L Nosa Kasih
- Steven Minuel
- Pendidikan
- SDN Seberaya
- SMP 1 Kabanjahe
- SMA 1 Kabanjahe
- Sastra Melayu Universitas Sumatera Utara
- Pekerjaan
- Anggota staf koleksi Museum Sumatera Utara.
“Banyak ajaran penting dan berguna (dalam aksara kuno) yang bisa diterapkan dalam kehidupan saat ini. Sayang, kalau petuah-petuah tersebut hanya dibiarkan begitu saja. Kerja saya hari ini merukapan upaya untuk menyampaikan ajaran nenek moyang kami kepada generasi saat ini,” tuturnya.
Bulu kuduk
Mehamat yaki, ajaran-ajaran yang dituliskan nenek moyang orang Batak tidak ditulis sembarangan. Ada doa dan tirakat dalam setiap aksara yang ditulis. Berbagai pengalaman ia rasakan saat mencoba membaca naskah kuno yang ternyata isinya mantra. Tak jarang ia menghentikan kegiatannya karena merasa ketakutan dan bulu kuduknya berdiri.
Kitab-kitab kuno Batak, lanjut Mehamat, biasanya berisikan keterangan tentang ramuan obat-obatan, ramalan hari buruk dan hari baik, mantra-mantra, serta berbagai pedoman dalam hidup sehari-hari. Naskah-naskah itu biasanya ditulis di atas kulit kayu ulin, gading gajah, tulang kerbau, dan bambu.
Alat yang digunakan menulis naskah-naskah kuno tersebut adalah bulu ayam. Adapun tinta yang digunakan berasal dari ramuan hasil bakaran kayu jeruk purut yang dicampur air tebu.
Khusus untuk naskah yang ditulis dari kulit kayu, orang-orang tua zaman dulu membentuknya menjadi sebuah kitab yang terdiri dari atas 30 lembar hinga ratusan lembar. Biasanya Mehamat membutuhkan waktu 1 minggu hingga 3 bulan untuk menerjemahkan sebuah naskah.
Saat ditemua pada jumat (28/10), ia sedang menerjemahkan naskah Matiri Ari. “Naskah ini berisi anjuran atau pedoman untuk menentukan hari baik dan buruk. Kapan waktu bercocok tanam yang baik, kapan waktu mengadakan upacara yang baik, semua ada di sini,” ujarnya.
Sadar akan kekayaan naskah kuno, Mehamat terkadang mencari tahu dimana naskah-naskah kuno Batak tersimpan. Ia kaget bukan kepalang saat mengetahui ada ratusan naskah kuno tersimpan di Perpustakaan Leiden di Belanda.
Sebenarnya kata Mehamat, sudah ada upaya untuk membawa pulang naskah-naskah kuno Batak itu ke Indonesia. Namun, pihak Perpustakaan Leiden keberatan karena Indonesia belum memiliki ruang penyimpanan yang sesuai dengan standar yang berlaku di Belanda.
Oleh karena itulah, Mehamat memiliki keinginan besar untuk dapat berkunjung ke Perpustakan Leiden. Ia ingin mengetahui naskah apa saja yang tersimpan di sana.
“Satu bulan saja saya di sana, ingin saya baca semua naskah yang ada di sana. Siapa tahu ada kisah atau ajaran penting yang belum kita ketahui, padahal itu berguna bagi kehidupan orang Batak,” katanya.
Fenomena letusan Gunung Sinabung yang tak kunjung henti merupakan salah satu pertanyaan besar buat Mehamat. Ia yakin, ada sebuah naskah kuno yang bercerita tentang Gunung Sinabung. Namun, hingga saat ini, ia belum menemukan naskahnya. Ia berharap suatu ketika menemukan naskah itu.
“Mungkin naskah itu tersembunyi di Leiden,” ujarnya,
Mehamat mengatakan, aksara Batak sejatinya tak jauh beda dengan aksara-aksara tradisional lain. Jika suku Jawa memiliki aksara Hanacaraka dan suku Lampung memiliki aksara Kaganga, suku Batak memiliki aksara Hakabapa yang terdiri atas 16 aksara.
“Suku Batak memiliki lima sub-suku besar, yaitu Karo, Toba, Simalungun, Angkola/Mandailing, dan Pakpak/Dairi. Kelimanya memiliki aksara tersendiri. Namun, kalau sudah menguasai salah satu aksara, mudah untuk memahami aksara lain,” ujar perempuan kelahiran 12 Agustus 1965 itu.
Sumber: Kompas, 2 Desember 2016 Hal 16

