Oleh : Frans Pati Herin

 

Frets Salakan (36) berkarya melampaui tugasnya sebagai seoarang pendeta. Ia melepas jerat kemiskinan kreasi para tengkulak yang bertahun-tahun melilit warga Desa Eliasa, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku. Warga di perbatasan itu kini mandiri, tengkulak pun akhirnya pergi.

Frets Salakan

Lahir                                                  : Karlu, 3 November 1980

Istri                                                     : Yohana Sitangsu Batbul (24)

Pendidikan Terakhir            : Sarjana Teologi, Universitas Kristen Artha Wacana,                                                                                   Kupang. Tamat 2006.

 

Tahun 2012, saat pertama kali bertugas di desa Eliasa, Frets mendapati banyak tengkulak yang bergerilya memberi pinjaman kepada warga. Paling banyak untuk modal dan bahan kebutuhan pokok. Pinjaman itu akan dikembalikan setelah mereka menjual hasil panen rumput laut setiap tiga bulan. Meraka wajib menjualnya kepada tengkulak dengan harga yang juga dipatok tengkulak.

Jauh dari akses informasi membuat warga tak pernah tahu harga sebenarnya. Saat panen melimpah, hampir setiap hari harga terus berubah dan cenderung menurun. Para pengulang yang umumnya mengekor satu bos besar itu beralibi, harga rumput laut selalu turun setiap kali panen.

Eliasa berada di Pulau Selaru, Kepulauan Tanimbar. Tanimbar adalah sebutan lain Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Selaru berbatasan dengan Australia. Timggal di wilayah terisolasi, warga kesulitan menanyakan perkembangan harga di Saumlaki, ibu kota kabupaten. Di Eliasa belum ada signal telekomunikasi.

Datang langsung ke Saumlaki bakal menghabiskan ongkos cukup mahal. Biaya pergi pulang dengan angkutan umum (ojek dan perahu cepat) paling sementara itu, harga rumput laut tertekan di bawah Rp 7.000 per kilogram. Bagi yang berlimpah panen hingga 500 kilogram, misalnya penghasilannya hanya Rp.3,5 juta. Meraka hanya pasrah dengan nasib.

Jika beredar kabar bahwa harga rumput laut di tempat lain leih tinggi dari pada di Eliasa, tengkulak cepat-cepat membuat klarifikasi bahwa informasi itu tidak benar. Bahkan tengkulak tak segan mengancam akan menyetop pinjaman jika ada warga yang berani menjual ke tempat lain. Warga takut dan tunduk dibawah kaki tengkuluk. Tengkuluk sukses menciptaka ketergantungan itu.

Uang hasil menjual rumput laut langsung dipakai membayar utang ke tengkulak. Jika gagal panen, utang tak bisa di lunasi dan menambah lagi untuk modal budidaya tahap berikutnya. Utang menumpuk. Warga semakin terlilit dan sulit keluar dari lingkaran kemiskinan lintas generasi. Tengkulak merawat lingkaran itu. Akibatnya, ada warga yang tak mampu membayar utang hingga meninggal.

Sementara itu, sejumlah anak muda memilih untuk menjadi pemburu hiu. Banyak dari mereka ditangkap tentara Angkatan Laut Australia, dipenjara, kemudia di deportasi ke Indonesia. Ada juga yang hilang jejak hingga saat ini, meninggalkan istri dan anak.

“Kalau seperti ini, kapan mereka bisa hidup layak? Bagaimana mungkin anak-anak meraka bisa sekolah? Bagaiamana kalau mereka sakit. Uangnya dari mana untuk berobat?” Itulah pertanyaan yang menggugah Frets. Ia lantas mencoba mencari jalan keluar atas kondisi itu.

Melawan Tengkulak

Kami berkunjung ke Eliasa pada Agustus lalu. Eliasa merupakan desa paling selatan di Selaru. Tiba di desa Adaut, perjalanan dilanjutkan dengan ojek sejauh lebih kurang 60 kilometer. Kondisi jalan dominan tanah dan bebatuan. Di Selaru ada tujuh desa. Empat desa lainnya adalah Lingat, Kandar, Namtabung, dan Fursuy.

Kondisi serba terbatas, jauh, dan terisolasi menjadi tantangan yang diperhitungkannya. Kendati sebagai pemimpin umat di desa yang warganya 100 persen memeluk Kristen Protestan, Frets tak mau resisten dengan tengkulak. Padahal ia bisa sanja melawan dengan keras. Di daerah itu suara pemimpin agama paling di dengar. Modal itu dia abaikan. Ia melawan dengan mengajak warga memanfaatkan waktu tiga bulan menanti panen rumput laut itu.

Setelah memasang benih rumput laut itu, warga diminta menagkap ikan. Sedari dulu potensi ikan perairan Eliasa diabaikan begitu saja. Niat warga menagkap ikan terhalang akses. Pada bulan-bulan tertentu, banyak ikan terdampar dan mati gratis. “Saya minta tokoh umat dan gereja untuk membeli kemudian jual ke Saumlaki, “katanya.

Frets memimpin penjualan ikan ke Saumlaki dengan menyewa perahu motor. Waktu tempuh ke Saumlaki sekitar delapan jam. Selama enam bulan, mereka berjualan tiga kali seminggu. Uang beredar setiap hari. Mereka mulai naik kelas dengan membeli boks pengawetan ikan.

Uang hasil penjualan ikan dipakai membayar hutang kepada tengkulak sebelum panen rumput laut. Bahkan, kini sebagan besar warga sudah memiliki perahu motor. Ikan dan rumput laut langsung di jual ke Saumlaki. Warga mandiri, Frets tak lagi jualan. Tengkulak pun pergi dari desa berpenduduk 600 jiwa itu.

Kini, nelayan Eliasa menyuplai ikan ke Saumlaki bekerja sama dengan pedagang asal Sulawesi dan Jawa yang merantau disana. Frets memperkenalkan jaringan itu. “Kini relasi mereka semakin kuat. Pedagang dari Buton mengaku terbantu. Ada dari mereka yang membuka tempat jualan nakar ikan, “katanya.

Kini, hasil laut benar-benar menopang kehidupan warga Eliasa. Selain membei perahu motor untuk menangkap ikan, beberapa warga memakainya untuk mengangkut warga terutama orang sakit dan ibu yang mau melahirkan ke Saumlaki atau Adaut. Sudah jarang warga tidak tertolong lantaran tidak ada angkutan. Pendidikan anak pun mulai diperhatikan.

Namun, penghasilan yang bertambah sempat mengubah pola hidup masyarakat. Di beberapa keluarga, uang hasil jualan ikan dan rumput laut dipakai untuk membeli sopi, minuman beralkohol lokal. Hampir setiap hari mabuk minuman. Keributan dan perkelahian pun sering terjadi. Ini menjadi pekerjaan rumah baru bagi Frets.

Suatu ketika terjadi perkelahian massal. Beberapa tetua adat meminta Frets untuk menengahi, tetapi ia tolak. Ia mengambil toga, pakaian kebesaran pendeta, kemudian berjalan menuju halaman gereja. Ia membunyikan lonceng tujuh kali, perkelahian pun berhenti. Hingga saat ini perkelahian pun tidak ada lagi.

“ Bunyi lonceng tujuh kali dalam ajaran Kristen itu bermakna lonceng kematian. Jadi meraka takut dan tidak berani ribut lagi sampai saat ini. Mereka takut kalau ribut lagi pasti meninggal. Seiring waktu, mereka sadar dengan sendirinya bahwa mabuk dan ribut itu tidak ada manfaatnya, “ujar Frets sambil tersenyum mengenang.

 

Sumber: Kompas.-19-September-2017.-Hal.12