Oleh Agustine Dwiputri – Psikolog

Saya adalah seorang ayah dengan dua anak yang masih duduk di sekolah dasar. Istri mengurus anak dan rumah tangga sambil menerima jahitan di rumah. Kami tinggal di pinggiran kota Jakarta. Setiap hari saya harus berjuang hampir dua jam perjalanan sampai di kantor.

Memang saya sadari hidup pada masa kini penuh dengan situasi stres sepanjang hari. Ada saja amburadul, atasan tidak puas, rekan kerja tidak saling bantu, anak merengek ingin punya gadget, orangtua sakit, dan sebagainya. Kami berusaha bersyukur bahwa kami sekeluarga tetap dapat hidup layak secara ekonomi dan sosial.

Hal yang saya khawatirkan adalah bagaimana jika lama-kelamaan menjadi lelah dan tak bisa dihindari, tapi lebih baik dikelola. Tetapi, adakah cara lain untuk melakukan persiapan atau antisipasi agar kita tidak mudah terjebak ke dalam situasi yang berat atau dapat bertahan dengan lebih kuat menghadapi berbagai stres kehidupan? Terima kasih informasi nya.

T di B

Saudara T yang baik,

Saya setuju bahwa hidup di kota besar saat ini lebih penuh dengan stres karena sumber stresnya memang banyak. Nah, kita memang perlu mengelola stres tersebut jika sumber stresnya memang banyak. Nah, kita memang perlu mengelola stres tersebut jika sumber stresnya tak bisa dihindari lagi. Namun, kita juga harus mempunyai suatu kualitas diri agar tidak mudah terjerumus ke dalam rasa tidak berdaya. Orang yang hidupnya terus berada dalam zona nyaman, dimanja, dan tidak terbiasa menghadapi masalah tentu lebih sulit bertahan.

Empat pendekatan

Menurut Dr Eddie Murphy (psikolog berpengelaman di Inggris), ada empat pendekatan dalam mengatasi stres. Pendekatan pertama adalag mengubah situasi yang menimbulkan stres, pendekatan kedua adalah mengubah cara berpikir tentang situasi, pendekatan ketiga adalah meningkatkan berbagai strategy coping, dan pendekatan keempat adalah membangun resiliensi (ketangguhan).

Tiga pendekatan pertama merupakan teknik untuk dipraktikkan dalam menghadapi stres dan pembahasan mengenai pendekatan ini sering disebut sebagai mengelola stres, yang memang penting untuk dilakukan jika kita tidak dapat lagi menghindari sumber stres dan mengalami tekanan karenanya. Sementara pendekatan keempat adalah sesuatu yang dapat kita persiapkan dan lakukan sebelum stres potensial benar-benar dialami sehingga kita dapat emnjaga kesehatan mental tetap baik.

Pengertian

Ketangguhan dapat digambarkan sebagai kemampuan kita untuk bangkit kembali kemalangan (Murphy, 2015). Penegertian harfiah dari resiliensi adalah ‘membal’ atau melenting, umpama kita terjatuh di kasur, badan kita akan lenting lagi ke atas, tidak terenyak terus di kasur terseut. Menjadi tangguh berarti bersikap fleksibel, beradaptasi pada situasi baru secara cepat, dan berkembang dalam suatu suasana peruahan yang terus menerus. Ketangguhan akan membantu mencegah stres yang kita hasilkan sendiri dan akan sangat bermanfaat jika kita menghadapi kejadian yang diramlkan atau tak terduga yang dpaat menyembabkan kita stres berat.

Mengembangkan ketangguhan adalah suatu pengalaman yang bersifat pribadi. Orang tidak akan beraksi demngan cara yang sama terhadap kejadian kehidupan stres yang sama. Pendekatan untuk membangun ketangguhan yang sesuai bagi seseorang mungkin tidak tepat bagi yang lain.

Beberapa strategi

Lebih lanjut Murphy mengajak kita membayangkan bahwa ketangguhan itu seperti otot, yang perlu dilatih terus-menerus. Berikut saya cuplikan beberapa strategi untuk memperkuatnya.

Bersikap optimistis. Kita dapat membayangkan memakai kacamata yang secara aktik memilih optimisme. Sama seperti seseorag yang memiliki kebugaran fisik, demikian juga ada kebugaran mental. Hal ini jadi berkaitan dengan seberapa sering kita melatih otak kita.

Memberikan kembali. Apakah Anda memilki energi dan hati untuk membantu orang lain? Ada banyak kesempatan untuk menjadi relawan. Ada banyak area yang mungkin menarik bagi Anda, dari kemiskinan hingga kebersihan lingkungan.

Menjadi seorang yang spritual. Iman, doa, dan spritualitas memainkan peran luar biasa dalam kehidupan emosional beberapa orang. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa semua ini berperan penting sebagai penyangga stres. Banyak dari kita memiliki keyakinan terpendam yang bisa diaktifkan. Hal ini bisa memberikan jalan lain bagi terjadinya pertumbuhan dan eksplorasi.

Hidup bermakna dan bersemangat. Terkadang kita perlu bergerak melampaui dunia pribadi kita sendiri. Individualisme hanya menyebabkan keterasingan dan minat yang sempit. Keluar dan lampaui diri kita shingga dapa menemukan makna dan hasrat, kemudian penuhi hidup dengan hal-hal tersebut. Sebagai gambaranm seorang wanita yang mengalami depresi setelah kehilangan banyak anggota keluarga karena kanker. Dia kemudian mengumpulkan uang untuk membantu layanan rumah sakit. Dia juga berenang, berjalan, berlari, mendaki gunung, dan memotong pendek rambutnya. Hidupnya penuh dengan makna an gairah dan depresinya sekrang menghilang.

Menertawai diri. Seberapa banyak kita dapat melakukannya? Tertawa pada diri sendiri saat melakukan sesuatu yang bodoh bisa melepaskan berbagai emosi negatif. Humor dapat membantu menyembuhkan banyak orang dari trauma yang berat.

Menemukan panutan. Kita semua membutuhkan orang bijak dalam hidup orang yang dapat kita panuti dan darinyabisa memperoleh nasihat. Seseorang yang memang ada dan benar-benar tampil apa adanya. Lihatlah ke sekeliling, mereka acap kali ada lebih dekat dari perkiraan kita. Terkadang kita juga bisa memilih sebagian ciri seseorang untuk ditiru, misalnya ketegasannya, kepeduliannya, kesabrannya, dan cara melihat masalah dari pandangan yang lebih luas.

Mengadopsi pendekatan baru. Ketimbang melihat kemunduran sebagai kegagalan, atau tantangan seperti stres, lebih baik menanyakan keapda diri pertanyaan-pertanyaan berikut ini. “Apa hal baik yang bisa saya lakukan di sini? Pilihan apa yang saya punya? Adakah yang bisa saya pelajari dari situasi ini?” Apabila kita mengadopsi sikap sebagaipembelajar, pertanyaan ini mendorong penerimaan dan memberdayakan usaha kita pada berbagai langkah baru.

Memelihara persahabatan dan relasi. Memiliki jaringan pertemanan atau kekeluargaan memberi kita dukungan sosial yang sangat penting untuk memperoleh kesempatan berbahagia dan mengatasi saat-saat sulit. Jika sebuah masalah dibagi bersama, maka akan terasa lebih ringan. Kondisi ini akan mengatasi perasaan terasing, membuka peluang baru, dan menyadarkan bahwa kita tidak sendirian.

Mengendalikan diri. Tidak ada yang bertanggung jawab atas hidup kita kecuali diri sendiri. Dengan meyakini bahwa kita memiliki kendali, kepercayaan diri akan beralih ke berbagai arah yang benar. Ini berarti mengadalikan semua bagian kehidupan kita, terutama kesehatan fisik dan emosioanal. Senantiasa menangani sesuatau secara segera, tidak menunda-nunda. Tidak mengabaikan masalah kita, lakukan dan selesaikan aja hari ini. Ketika beralih dari hal yang tadinya memenuhi pikiran, kita menjadi lebih nyaman dan lebih mudah beralih ke berbagai tuntutan baru.

Selamat berlatih.

Sumber: Kompas.24-Maret-2018.Hal_.24