
Di awal tahun 2018, saya mendapatkan pembelajran tentang organisasi bisnis yang sangat menarik dari seorang pengusaha kawakan. Ilustrasinya begitu jelas dan juga sederhana. Beliau mengawali sharing-nya dengan mengatakan, “Membangun sebuah organisasi bisnis itu laksana menempuh suatu perjalanan.” Menarik bukan?
Sebagai suatu perjalanan (travelling), pertama kita harus menetapkan terlebih dahulu destinasi yang hendak dituju. Dari situ kita bisa kedua, menentukan rute yang akan ditempuh, entah melalui jalan darat, jalur udara, atau laut.
Setelahnya, ketiga, kita pun perlu menetapkan sekaligus mempersiapkan kendaraan ttransportasi yang baik. Tentu kita harus memastikan bahwa modal transportasi yang dipilih tersebut adalah saran angkut yang bukan hanya sekedar layak jalan, namun musti cakap jalan.
Keempat, kita harus memastikan bahwa ssang pengemudi kendaraan (entah itu supir, pilot, nahkoda dan juga masinis) adalah orang yang cakap dan profesional. Kelima, tentunya tak lupa pula, kita harus memastikan bahwa crew (awak) perjalanan terdiri dari pekerja yang terampil, ramah, dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya.
Seandainya kelima elemen perjalanantersebut terkelola dan tertata dengan baik, semesrinya kita akan menempuh proses perjalanan yang aman,nyamaan,dan tiba di tempat sesuai dengan rencana.
Dan, sang guru pun memberikan analogi kelima elemen perjalanan tersebut dalam konteks membangun organisasi bisnis. Jika, pertama, perjalanan memerlukan “destinasi, maka membangun organisasi bisnis membutuhkan tujuan besar pula. Tujuan besar merupakan kehendak mulia dari organisasi yang dipersembahkan kepada lingkup kehidupan yang lebih luas. Entah itu berwujud keinginan mendatangkan kesejahteraan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, atau memerangi kemiskinan dan kebodohan rakyat.
Faktor manusia
Jims Collins dan Jerry Porras (dalam bukunya Built to Last,1994) menyebutnya sebagai big hairy audicious goal, tujuan yang jauh lebih besar dari sekedar soal uang dan keuntungan.
Demikian hanya, kedua, ada sebgaian pilihan “rute” praktis bisnis, yang meruoakan pilihan strategis seseorang dalam membangun usahanya. Kita mengenalnya pula dengan sebutan “stratgei”. Ada yang menempuh model seperti Warren Buffett yang menciptakan kekayaannya dengan cara meracik portofolio investasi di berbagai perusahaan yang potensial mendatangkan keuntungan, dan ada juga yang melakoni cara Bill Gates yang mengumpulkan kekayaan dengan membangun Microsoft.
Apapun pilihan model bisnisnya, yang jelas pilihlah lapangan bisnis yang memiliki hembusan angin kencang. Bukankah kita bisa menerbangkan layang-layang ke tempat yang tinggi, dengan dorongan angin besar?
Beerikutnya, ketiga, memastikan “kendaraan” yang tepat pada dasarnya analogis dengan membangun “organisasi” yang kapabel. Cita-cita yang mulia dan strategi bisnis yang hebat tak akan mendatangkan hasil bila tak diiringi oleh kemampuan eksekusui yang solid. Hanya manajemen organisasi yang baik, dengan segala perangkatnya (yakni struktur organisasi, sistem dan proses bisnis, budaya kerja) yang bisa memungkinkan eksekusi gagasan strategis berjalan dengan baik.
Tentang elemen keempat dan kelima, yakni pengemudi dan crew, tak sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa ini berbicara tentang pemimpin organisasi dan sumber daya yang profesional. Jim Collins, dalam bukunya Good to Great (2011), bilang bahwa yang paling penting (sekaligus sulit) dalam membangun organisasi adalah get the right people on the bus. Lebih jauh, katanya: first who, then what…, yang berarti kecakapan manusia acapkali jauh lebih penting daripada kecanggihan strategi bisnis dan manajemen organsiasi.
Singkat kata, ada lima elemen yang disyaratkan untuk membangun organisasi unggul, yakni tujuan besar organisasi yang dirumuskan baik, strategi yang hebat, organisasi yang tertata rapi, pimpinan yang cakap, sekaligus juga jajaran SDM yang profesional.
Secara bergurau saya bertanya, bagaimana jika analogi kendaraan yang digunakan adalah “kendaraan otonom” nirawak semisal kereta listrik? Apakah itu berarti sebuah organnisasi bisa saja tak membutuhkan pemimpin dan jajaran SDM? Sang guru hanya menjawab “Dalam gerbong kereta listrik memamng tak ada masinis dan awaknya. Mereka ada di ruang kontrol yang mengendalikan seluruh sistem pengatur gerak langkah kereta yanng berseliweran tersebut.”
Sumber: Kontan.22-28-Januari-2018.Hal_.29
