Eko Alvares Z Membangun Rumah Gadang. Kompas. 4 Maret 2016. Hal 16

Merekonstruksi sebuah rumah gadang berusia lebih dari 100 tahun bukanlah pekerjaan mudah. Aktivitas itu tidak hanya menuntut riset mendalam tentang detail arsitektur, tetapi juga kemampuan merangkul masyarakat sekitar agar mau ikut berperan.

OLEH ISMAIL ZAKARIA & RINI KUSTINAH

Eko Alvares Z (50), ahli cagar budaya dari Universitas Bung Hatta (UBH), Padang, Sumatera Barat, harus melewati itu semua saat terlibat dalam rekonstruksi rumah gadang di Nagari Sumpur, kecamatan Batipuh Selatan, sekitar 75 kilometer dari Kota Padang.

Sumpur dalah nagari elok di tepi Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar. Saat berkeliling nagari itu, kita kan dimanjakan oleh keindahan sawah hijau, jejeran pohon sawo, dan tenangnya permukaan Danau Singkarak yang berkabut lembut. Kita juga kan terpesona oleh megahnya rumah-rumah gadang kayu berusia lebih dari 100 tahun yang terbsebar di beberapa bagian nagari.

Sayangnya, sebagai tuan rumah gadang di Sumpur tak samoai 70 unit dari sebelumnya sekitar 200 unit. Jumlah bangunan it uterus berkurang. Salah satunya, akibat kebakaran seperti yang melanda lima rumah gadang pada Mei 2013. “ dari lima rumah telah dibangun kembali,” kata Eko kepada Kompas saat peresmian rumah dagang keduas di Sumpur, sabtu (27/2).

Eko menjadi project director dalam rekonstruksi rumah gadang. Proyrk itu hasil kerja sama dengan Yayasan Tirto Utomo, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Yayasan Rumah Asuh, pemerintahan  Kabupaten Tanah Datar, Forum Kampuang Minang Nagari Sumpur, Ikatan Keluarga Sumpur, dan Jurusan Arsitektur UBH Padang, Eko, yang berlatar belakang arsitek, harus melalui proses panjang selama pembangunan dua rumah gadang yang dimulai tahun 2013. Ia harus meyakinkan masyarakat bahwa rumah gadang itu penting. Perlu juga didorong sikap saling percaya dan kerja sama dengan semua pihak.

Persoaalnnya, kebanggan masyarakat terhadap rumah gadang memudar. Tak sedikit warga y6ang berniat merobohkan rumah gadang dan menggantinya dengan rumah tembok. Padahal, biaya untuk memugar rumah gadang baru itu mahal, yakni sekitar Rp 1 miliar. “ masuk (ke masyarakat) Sumpur tidak mudah. Meskipun kita terdidik, kepercayaan masyarakat ternyata tidak bisa didapatkan begitu saja,” kata Eko.

Eko memantapkan niat untuk mendorong rekonstruksi rumah gadang. Ia berbekal teori dan data yang dihimpun selama belasan tahun menggelar kuliah lapangan dengan fokus rumah gadang. Ia juga memanfaatkan pengalamannya sebagai tim Rapid Assessment Heritage Emergency Respone yang mengurus bangunan-bangunan yang rusak akibat gempa Sumbar tahun 2009.

`               “mengembalikkan rumah gadang ternyata bukan persoalan uang. Meski uang dari donor ada. Ada sisi lain menyangkut masyrakat yang mesti diselesaikan dulu,” ujarnya.

Untuk memilih rumah mana yang akan dibangun, misalnya, harus melalui perdebatan lama dengan pemangku kepentingan. Begitu juga setelah ada kepastian rumah yang akan dibangun. Ketika mulai pembangunan, mayarakat punya kearifan lokal dalm meletaka rumah di antara lingkungan, menebang pohon, dan menegakkan rumah.

Setelah proses awal selesai, proses juga tak lah menantang “ sebagai seorang arsitek, saya membuat gambar (untukj rumah gadang yang dibangun), tapi gambar itu tak bisa diterima langsuing oleh tukang tuo atau kepala tukang,” kenangnya. Eko harus berdialog untuk menentukan bentuk yang pas.

Alih-laih mengeluh, Eko justru menikmati proses ini. “saya ingin pembangunan rumah gadang di Sumpur menjadi antietias dari pandangan bahwa rumah gadang hanya masa lalu. saya ingin pembangunan ini mengembalikan kebanggan warga terhadap rumah gadang,” katanya.

Keberhasilan membangun kembali dua rumah gadang di Sumpur berdampak postif. Masyrakat kembali memiliki catatanm pengetahuan tentang pembangunan rumah gadang yang sudah 100 tahun tidak dilakukan. Minat untuk merobohkan rumah gadang kian surut. Pantauan kompas dalam dua tahun terakhir, rumah-rumah gadang yang dulu terpelihara kini mulai mendapatkan sentuhanm di beberpa bagian. Sumpur juga kian menarik untuk dikunjungi mahasiswa arsitektur dari berbagai kampsu di Indonesia dan Malaysia.

Sejak Kuliah

Eko tertarik rumah gadang justru saat kuliah di Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, tahun 1984. Di kota Kembang itu, dia merasakan romantisme orang Minang, bahwa kampung halamnnya kian terasa cantik dan indah saat berada di rantau.

Romantisme itu juga menghinggapi Eko. Ia mulai menyukai segala sesuatu berbau Minang . “saat kuliah, hampir semua program studi mengadakan kuliah lapangan. Saya pikir, kampung halaman saya cantik. Karena itu, setiap saya liburan saya pulang ke Mianangkabau dan membawa kamera,” kenangnya.

Pada 1988, Eko membawa serombongan mahasiswa Parahyangan dalam Ekspedisi Ranah Minang. Dia bersama kawan-kawan mengeksplorasi rumah gadang. “mata saya semakin terbuka melihat kekayaan arsitektur di Minangkabau,” katanya.

Setelah menamatkan kuliah S-2 di Magister Teknik Arsitektur Istitusi Teknologi Bandung dan menjadi pengajar di UBH. Padang, ia tularkan hobi berkeliling kampung kepada mahasiswa. Kebakaran yang menghanguskan lima rumah gadang di Nagari Sumpur pada Mei 2013 menjadi titik penting. “Februari 2013, saya ke Sumpur. Tidak disangka, dua bulan setelah mengambil foto, terjadi kebkaran. Melihat lima rumah gadang terbakar, saya merasa bersalah. Tak cukup sekadar foto-foto, harus ada yang diperbuat,” katanya.

Eko kini mencintai rumah gadang yang ia sebut sebagai puncak kebudayaan Minangkabau. Ia bertekad untuk menukarkan kecintaannya itu pada generasi muda.

Sumber : Kompas, jumat. 4 Maret 2016