Setahun hidup dari kemurahan lembaga donor korban gempa dan tsunami, Rubama Muhammad (31) mulai resah. Resah karena warga kian bergantung pada bantuan lembaga – lembaga itu. Dia ingin warga hidup mandiri seperti sebelum bencana. Lewat sampah, cita – cita itu diperjuangkan.
OLEH ZULKARNAINI
Saat bencana gempa dan tsunami akhir tahun 2004 melanda Aceh, Desa Nusa, Lhoknga, Aceh Besar, tak luput dari amukan gelombang raksasa. Rumah Rubama beserta ratusan rumah warga lain rusak parah. Tiba – tiba saja mereka kehilangan tempat tinggal.
Rubama bersama warga lain terpaksa mengungsi ke barak. Selama di barak, warga mendapat bantuan dari pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. Bantuan mengalir deras memembuat warga terbiasa hidup dengan tangan di bawah.
Satu setengah tahun kemudian, ketika warga Nusa kembali ke kampung, mereka masih mendapat bantuan. Hal ini membuat Rubama resah.
“Saya khawatir saat masa rehabilitasi usai dan bantuan berhenti, warga tidak bisa bertahan hidup karena sudah terbiasa menerima bantuan,” kata Rubama, Rabu (13/1), di rumahnya di Desa Nusa.
Perempuan itu pun bertekad mencari jalan keluar dari “bantuan yang melenakan”. Akhir 2005, bermodalkan semangat dan sedikit pengetahuan, Rubama mengajak warga untuk mengelola sampah rumah tangga menjadi barang yang bermanfaat. Awalnya Rubama mendapat pelatihan mengelola sampah berbasis desa dari satu lembaga swadaya masyarakat.
Seusai pelatiah , dia kumpulkan ibu-ibu di desa, sekitar 35 ibu rumah tangga bergabung. Buat Rubama, itu pertanda di awal langkah menuju kemandirian. Mereka sepakat memberi nama kelompok itu sebagai Nusa Creation Community (NCC). Namun seiring waktu, anggotanya menyusut tinggal 15 orang.
Rubama merelakan rumah panggungnya dijadikan pusat kegiatan NCC Di ruang depan, berserakan beraneka ragam sampah rumpah tangga. Sebagian sudah berbentuk barang, seperti vas bunga, tas, sandal, dan kotak tisu. Anggota komunitas dilatih untuk mengenal sampah dan memilahnya. Sampah itu lantas diolah menjadi berbagai macam kerajinan yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari – hari.
Ada 22 produk kreasi NCC dengan bahan baku sampah, seperti kotak tisu, tas, bunga, sandal, dan tempat pensil. Sampah yang semula dianggap tak berguna di tangan mereka kini menjadi bermakna. Hasil kerajinan itu kemudian dijual.
Harganya bervariasi, bergantung pada besar kecil barang, besaran modal, dan tingkat kesulitan pembuatan. Secara umum, harga kerajinan buatan NCC berkisar Rp.1.000 hingga Rp.300.000 per unit. Dalam sebulan, tak kurang dari 200 produk dihasilkan. Semua itu dikerjakan di rumah atau sambil menjaga sawah dari serangan burung pipit.
Sekitar 90 persen uang dari hasil penjualan menjadi hak anggota sebagai pemilik barang, sedangkan 10 persen masuk kas NCC. Ka situ digunakan untuk pengembangan anggota dan belanja peralatan, seperti lem, gunting, dan alat menjahit.
Produk NCC dipasarkan ke sejumlah daerah di Aceh. Promosi memanfaatkan media social dan berpartisipasi dalam pameran kerajinan serta produk usaha kecil menengah. Saat ini mereka kerap diminta membuat souvenir dan tas seminar.
Pada tahun 2015, ada pesanan 1.500 tas untuk peserta pelatihan. Namun, NCC hanya mampu mengerjakan 600 tas. “Dengan anggota 15 orang, kami tidak sanggup membuat tas sebanyak itu,” ujar Rubama.
Setiap Rabu, anggota NCC berkumpul. Mereka saling berbagi pengalaman. Tidak ada topic khusus yang dibicarakan pada pertemuan rutin itu. “Yang penting kami ngumpul. Biasanya dari sana banyak timbul ide membuat kreasi produk baru,” katanya.
Pertemuan rutin itu, lanjut Rubama, juga mempererat hubungan antar anggota komunitas. Anggota tak pernah dibatasi dalam berinovasi untuk melahirkan produk yang berkualitas. Setiap anggota memiliki keahlian tersendiri. Ada anggota yang mahir membuat bunga berbahan kulit jagung, tetapi belum tentu dia bisa membuat kotak tisu berbahan daun cemara. Karena itu, mereka saling berbagi ilmu.
Dari kegiatan tersebut, kata Rubama, setidaknya ibu-ibu punya penghasilan sendiri. “Saat anaknya minta uang jajan, sudah tahu dia ambil dimana,” katanya.
Bank Sampah
Gerakan kerajinan berbahan sampah telah membidani lahirnya Bank Sampah Nusa (BSN). BSN dikelola oleh anak – anak Nusa usia sekolah dasar. Tak ubahnya bank umum lainnya, mereka juga memakai buku tabungan. Namun, yang tercatat disana bukan berapa saldo uang, melainkan saldo sampah. Sampah yang ditabung oleh anak-anak sebagian dijadikan bahan baku pembuatan kerajianan.
“Sampah yang dikumpulkan oleh nasabah dibeli seharga Rp.3000 sampai Rp.7000 per kilogram. Namun, mereka baru boleh menarik uangnya minimal enam bulan sekali,” kata Rubama.
Anak-anak yang menjadi nasabah BSN dilarang mencari sampah hingga ke luar kampung. Sampah yang mereka tabung berasal dari konsumsi sendiri, di rumah, dan menemukan di jalan.
“Kalau mencari sampah tak ubanhya seperti pemulung. Kami buat bak sampah untuk mendidik anak-anak agar menjaga lingkungan, bukan mencari uang,” ujar Rubama.
Saat ini anggota NCC kerap diundang ke sejumlah kabupaten dan kota di Aceh untuk menularkan semangat mengelola sampah berbasis masyarakat.
RUBAMA MUHAMMAD
- Lahir : Nusa, Aceh Besar, 17 Agustus 1985
- Pendidikan : S-1 di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
- Aktivitas : Pendiri Nusa Creation Community (NCC)
- Penghargaan : Perempuan Inspirasi Nova (2013) kategori Perempuan dan Lingkungan
UC-Lib Collect
Kompas, Jumat, 29 Januari 2016

