Pemunculan wabah yang kini tengah menghebohkan dunia, sejatinya bukan tiba-tiba. Setidaknya, keberadaan virus-virus pencabut nyawa sudah diramalkan sejak puluhan tahun sebelumnya. Gangguan keseimbangan ekologi diduga sebagai penyebabnya. Virus-virus baru pun akan terus lahir sewaktu-waktu.
Sungguh tragis nasib Dr. Liu Zhiming, Direktur Rumah Sakit Wuchang, di kota wuhan, ibukota provinsi Hubei, Tiongkok. Ia terinfeksi virus Covid-19 dan meninggal pada Selasa 18 Februari 2020 pagi dalam usia 51 tahun setelah upaya habis-habisan menyelamatkannya gagal. Ia menjadi tenaga media ketujuh di Tiongkok yang meninggal akibat wabah virus Corona jenis baru ini.
Lebih dari 1.700 tenaga medis dan paramedis di Tiongkok terinfeksi Covid-19. Liu sejak awal telah mengambil bagian dalam pertarungan melawan virus penyebab pneumonia fatal yang mirip penyebab SARS dan MERS ini.
Nasib tragis serupa dialami Dr. Li Wenliang, seorang dokter spesialis mata di sebuah Rumah Sakit Pusat Wuhan yang meninggal pada 7 Februari 2020 dini hari. Ia adalah whistle blower pertama yang pada 30 Desember 2019 mengingatkan lewat jejaring sosial WeChat tentang adanya kasus-kasus gangguan pernapasan mirip SARS pada sejumlah warga di sebuah pasar ikan di Wuhan yang juga menjual kelelawar.
Tanggal 3 Januari 2020 ia kemudian dibungkam oleh polisi Wuhan agar tidak menyebarkan desas-desus tentang infeksi virus Corona yang mulai berjangkit di kota itu. Jutaan warga Tiongkok berduka dan menganggap Dr Li sebagai pahlawan. Mereka marah dan menyatakan tak percaya kepada pemerintah pusat Tiongkok maupun pemerintah pusat Tiongkok maupun pemerintah provinsi Hubei. Jika peringatan Dr Li ditanggapi serius, jumlah korban akan dapat lebih dikendalikan.
Belakangan Presiden Tiongkok Xin Jin ping menginstruksikan agar pemerintah provinsi Hubei dan kota Wuhan mengambil langkah isolasi kota Wuhan, dan upaya ini walaupun agak terlambat namun dihargai oleh Dirjen WHO. Jika tidak jumlah warga Tiongkok maupun luar Tiongkok yang terinfeksi dan meninggal akan bertambah banyak.
Deretan mereka yang terinfeksi dan meninggal akibat virus Covid-19 tak selayaknya hanya menjadi angka statistik yang bertambah setiap hari. Karenanya kita perlu memberi wajah manusia terhadap kisah tragis namun heroik Dr. Liu Zhiming dan Dr. Li Wenliang dalam pemberitaan wabah virus Corona jenis baru ini.
Bulan Januari-Februari 2020 kemarin warga dunia memang dicekan ketakutan. Bahkan kepanikan akibat melimpah ruahnya informasi tentang wabah pneumonia mematikan akibat infeksi virus Corona baru yang diidentifikasi di kota Wuhan, Tiongkok ini muncul banyak disinformasi dan hoaks. Teori konspirasi bahwa virus ini adalah senjata biologis yang dibuat oleh Amerika Serikut dan Tiongkok, hingga ujaran kebencian serta munculnya kasus-kasus diskriminasi terhadap warga asal Tiongkok di luar negeri. Termasuk ujaran bahwa ini adalah azab Allah karena Tiongkok menzalimi warga Muslim etnis Uighur.
Virus yang semula disebut Novel Corona Virus ini kemudian oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) resmi diberi nama Covid-19. Covid adalah singkatan Corona Virus Disease, sedang 19 menunjuk ke tahun 2019 yaitu awal ditemukannya kasus penyakit sistem pernapasan ini. Sementara Komite Internasional untuk Taksonomi Virus menamai virus ini sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 atau SARS-CoV-2.
Bernuansa politis
WHO secara sengaja menghindari penggunaan nama virus atau penyakit yang berawal di Wuhan diberi nama geografis. Kendati demikian nama Wuhan awalnya dikaitkan dengan virus Corona jenis baru ini, karena memang wabah ini bermula mengjakiti warga kota Wuhan, provinsi Hubei, Republik Rakyat Tiongkok. Namun kemudian epidemi menyebar ke kota-kota lain di Tiongkok dan ke hampir 30 negara lain di berbagai penjuru dunia. Terjadilah apa yang disebut wabah raya atau Pandemi.
Hingga 18 Februari 2020 total ada 72.236 kasus positif Covid-19 atau SARS-CoV-2 dengan 1.868 orang meninggal. Di luar Tiongkok ada 827 kasus positif di 26 negara serta lima kematian. Tingkat kasus kematian (case fatality rate, CFR) pneumonia akibat virus ini di Tiongkok memang cuma di kisaran 2 persen, jauh di bawah SARS yang berawal di Tiongkok juga tahun 2002 dan lalu menyebar ke 28 negara lain hingga 2003 dengan total 8.096 kasus dan 774 kematian (9,6 persen), atau MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang berjangkit pertama kali di Timur Tengah pada tahun 2012 dengan 2.294 kasus di 28 negara dan 858 kematian (17,4 persen) per November 2019.
Baik Covid-19 maupun virus Corona penyebab SARS dan MERS masih tergolong dalam genus virus Beta Corona dari familia Coronaviridae.
Tingkat penularan virus Covid-19 jauh lebih tinggi dibanding virus SARS maupun MERS, namun tingkat fatalitasnya tergolong lebih rendah. Lebih mirip virus Influenza biasa. Bandingkan dengan virus flu burung H5N1 yang diidentifikasi tahun 1997 hingga saat ini tercatat 861 kasus dengan 455 kematian (52,8 persen), atau virus flu burung H7N9 yang diidentifikasi tahun 2013 dengan 1.568 kasus dan 616 kematian (39,3 persen).
Lain lagi dengan flu babi (swine flu) akibat virus H1N1, pertama kali dikenal mengjakiti tenak babi pada tahun 1919, lalu muncul sebagai virus flu musiman yang menjangkiti manusia. Tahun 2009 wabah virus flu H1N1 mulai berjangkit di Amerika Serikat yang hingga tahun 2010 menyebar menjadi pandemi di 214 negara seluruh dunia, menjangkiti 1.632.258 orang dan 284.500 kematian (17,4 persen).
Dibandingkan wabah virus Corona baru di Wahun, pandemi flu H1N1 yang berjangkit mulai di AS sejak 2009 lalu ini nyaris tak dihebohkan Barat, walaupun data epidemiologi resmi di CDC (Center for Disease Control) Atlanta AS, WHO dan jurnal-jurnal ilmiah seperti The Lancet dan New England Medical Journal memuatnya.
Kelelawar, reservoir virus Beta Corona
Baik Covid-19 maupun virus Corona penyebab SARS dan MERS masih tergolong dalam genus virus Beta Corona dari familia Coronaviridae. Ketiga jenis virus genus Beta Corona ini diketahui punya banyak inang yang mirip, baik inang alami pada satwa liar seperti kelelawar dan binatang pengerat (rodensia) maupun hewan ternak, hingga inang fatal yaitu manusia.
Fakta itu dikemukakan oleh Dr drh Joko Pamungkas M.Sc, peneliti senior virolog Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor dalam sebuah seminar awam di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada 12 Februari 2020 lalu. Juga resmi terpublikasi di beberapa jurnal virologi.
Makanya sungguh mengherankan jika Menteri Kesehatan RI, Dr Terawan Agus Putranto menyatakan bahwa informasi bahwa satwa liar seperti kelelawar menjadi inang atau reservoir virus Corona adalah Hoax! Ia juga cenderung kurang mampu dalam Komunikasi Krisis atau Komunikasi Risiko. Maksudnya memenangkan masyarakat, namun pernyataan-pernyataannya, namun pernyataan-pernyataannya justru kurang pas. Misalnya: “Santai saja, cukup perbanyak doa karena Tuhan melindungi bangsa Indonesia, dan kalau masyarakat panik lalu memborong masker hingga harganya melonjak lebih dari tiga kali lipat maka itu salah warga sendiri.”
Namun kemudian terbukti HIV/AIDS menjalar ke berbagai provinsi di Indonesia, menulari hingga para ibu rumah tangga yang tak pernah berselingkuh dan bayi-bayi yang mereka kandung.
Hingga 18 Februari 2020 memang belum ada satupun kasus positif infeksi virus Covid-19 di wilayah Indonesua. Mungkin saja virus ini sudah masuk atau menginfeksi manusia di Indonesia seperti dalam model epidemilologi beberapa pakar Harvard School of Public Health, hanya tidak terdeteksi. Namun ada tiga WNI awak kapal pesiar Diamond Princess yang sedang dikarantina di Pelabuhan Yokohama, Jepang, termasuk dalam 572 penumpang dan awak kapal (dari sekitar 3.700 orang penumpang dan awak kapal asal 50-an negara) yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19. Seorang asisten rumah di Singapura asal Indonesia dinyatakan positif juga.
Penyangkalan dan ucapan yang cenderung mengentengkan ancaman masuknya virus Covid-19 mengingatkan kita pada awal epidemi HIV/AIDS di Indonesia akhir 1980-an. Seorang pejabat tinggi menyatakan masyarakat Indonesia akan aman dari ancaman AIDS karena kita negara Pancasila.
AIDS sempat distigma sebagai sindroma akibat perilaku seks menyimpang. Kasus pertama HIV/AIDS di wilayah Indonesia memang terjadi pada seorang turis pria homoseksual asal Belanda di Bali. Namun kemudian terbukti HIV/AIDS menjalar ke berbagai provinsi di Indonesia, menulari hingga para ibu rumah tangga yang tak pernah berselingkuh dan bayi-bayi yang mereka kandung.
Penularnya adalah para pria heteroseks yang tidak berperilaku seks aman dan ogah memakai kondom sebagai alat untuk harm reduction, selain juga para penyalahguna narkoba suntik serta penerima transfusi darah yang tidak diperiksa dengan tes Elisa.
Ramalan yang terbukti
Laurie Garrett, penulis sains dan ilmu kedokteran Newsday New York, yang pernah memenangkan Hadiah Pulitzer untuk liputannya terhadap wabah virus Ebola di Afrika, tahun 1992 pernah menulis satu bab berjudul “The Next Epidemic” dalam buku AIDS in the World terbitan Harvard University Press.
Ia membuat daftar puluhan virus yang muncul dan berbahaya bagi manusia selama abad ke-20 lalu. Dia meramalkan pada tahun 2000-an, dengan makin merosotnya kualitas lingkungan hidup di berbagai benua, seiring dengan meningkat pesatnya populasi dunia, ketercerabutan penduduk dari permukiman aslinya, dan migrasi urban, sementara virologi secara perlahan mengalami kemajuan, maka akan banyak jumlah virus baru terindentifikasi.
Lauria Garrett selama dua tahun magang sejak 1992 menjadi Research Fellow di Harvard School of Public Health, Boston. Ia berkeliling ke berbagai negara di Afrika, Amerika Latin, Eropa dan Asia untuk menginvestigasi asal usul HIV dan AIDS, epidemi Ebola, virus Marburg, penyakit kuning, wabah meningitis Brazil, demam berdarah Bolivia, demam virus Lassa, flu babi, hingga virus Hanta.
Hasil dari magang, tahun 1994 ia menerbitkan buku “The Coming Plague: Newly Emerging Diseases in a World Out of Balance” setebal 750 halaman. Bab “The Next Epidemic” dan buku monumentalnya ini sudah meramalkan bahwa kita tak perlu terkaget-kaget dengan munculnya berbagai penyakit baru di dunia yang mengalami gangguan keseimbangan ekologi ini.
Ramalan Laurie Garrett terbukti dalam survei yang dilakukan bersama oleh Pusat Studi Satwa Primata IPB bersama. Lembaga Biologi Molekuler Eij kman dalam proyek Predict/USAID untuk melakukan One Health Surveillance yang didukung berbagai lembaga internasional yang tergabung dalam Global Health Security Agenda antara tahun 2011-2014 dan 2015-2019 di berbagai pulau di Indonesia.
Sebanyak 800 spesiemen arsip dari kasus pasien dengan demam akut yang tidak terdiagnosis di lima provinsi, serta 1991 spesimen dari lebih 400 satwa liar (primate, rodensia, dan kelelawar) di Jawa Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Bali. Predict fase 1 (tahun 2011-2014) menemukan 14 virus baru dan 6 virus yang sudah diketahui di satwa-satwa liar, sedang pada fase 2 (tahun 2015-2019) menemukan 13 virus baru dan 17 virus yang sudah dikenal.
Menurut Dr Joko Pamungkas, konsep One Health surveillance harus dilakukan secara kontinyu dengan frekuensi lebih kerap, agar kesehatan manusia, hewan ternak/peliharaan, dan satwa liar dapat terdeteksi untuk antisipasi terjadinya wabah seperti Covid-19 dan lain-lain. Jadi Litbang Kementerian Kesehatan perlu bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup/Kehutanan.
Kunci untuk mencegah dan menanggulangi wabah seperti Covid-19, menurut Prof Herawati Sudoyo Supolo dari LBM Eijkman adalah kolaborasi, kolaborasi, kolaborasi. Jangan paranoid atauu meremehkan persoalan. Plus ojo gumunan…
NAMA VIRUS DAN GEOGRAFIS
Keputusan WHO untuk tidak mengaitkan virus ini dengan Wuhan, tentu bernuansa politis. Karena tak sedikit nama virus maupun penyakit yang menyebut nama lokasi dan negara tertentu. Beberapa di antaranya:
Virus demam berdarah Marburg yang diidentifikasi di daerah Marburg dan Frankfurt, Jerman tahun 1967.
Virus Ebola, penyebab pendarahan parah dan kegagalan organ yang pertama kali ditemukan kasusnya di sebuah desa Sungai Ebola di Republik Demokratik Kongo tahun 1976, menyebabkan 33.577 kasus dan 13.562 kematian atau 40,40 persen.
Virus Hendra yang menyebabkan zoonosis (penyakit yang menjangkit hewan lalu menular ke manusia), dilaporkan di distrik Hendra, Brisbane, Australia tahun 1994 pada ternak kuda dan manusia.
Virus Nipah (menyebabkan radang otak, diidentifikasi tahun 1998-1999 di Sungai Nipah, Semenanjung Malaysia, menjangkiti 513 orang dan 398 orang diantaranya meninggal atau 77,6 persen).
Virus ensefalitis Jepang yang ditularkan nyamuk.
Sumber: Intisari, Maret 2020










