Terkena pemutusan hubungan kerja tidak lantas membuat Bibit Ariyani [49] patah semangat. Sebaliknya, pengalaman itu membuat ia meneguhkan tekad untuk berhenti menjadi karyawan, kemudian memulai langkah baru sebagai wirausaha. Kini, semangat menggeluti telah mewujud dalam usaha tas berbahan ranting bambu.

Merintis usaha pada tahun 2008, Bibit ketika itu bermodal uang senilai Rp. 2 juta. Ia bersama dengan 10 karyawannya kini memproduksi sedikitnya 100 tas per bulan. Tas ini merupakan tas wanita dengan berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari tas jinjing hingga ransel. Harga tas dari ranting bambu ini bervariasi dari Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000.

Produk tas ini telah terdistribusi ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Batam, Makasar, dan kota-kota di Kalimantan. Tas produksi Bibit ini pun juga memikat warga asing dan laku terjual ke Amsterdam, Turki, dan Abu Dhabi.

“Beberapa warga asing itu ada yang datang langsung ke rumah saya, ada pula yang lalu menindaklanjuti dengan meminta tambahan tas untuk dikirim langsung ke negara asal mereka,” ujarnya.

Sejumlah pelanggan, termasuk yang berasal dari luar negeri, tertarik karena tas ini memiliki karakter unik, jarang ditemui atau diproduksi di daerah lain.

Usaha Bibit ini berawal dari cerita pahit ketika dia dan suaminya menjadi korban PHK, setelah lebih dari 20 tahun bekerja di sebuah pabrik mesin fotokopi. Sempat merasa limbung dan bingung, tahun 2007, keduanya pun merasa tidak ada pilihan lain, kecuali pulang ke kampung halaman mereka di temanggung, Jawa Tengah.

Sejalan dengan pilihan kembali ke kampunng, Bibit pun bertekad tidak akan melamar pekerjaan dan menjadi karyawan lagi. Sebaliknya, dia bercita-cita mebuka lapangan kerja di desa.

Demi mewujudkan tekad itu, Bibit mulai mengeksplorasi potensi desanya. Ia mencari tahu usaha apa yang bisa dikembangkan dari skala mikro atau kecil. Akhirnya ia pun mulai dengan usaha membuat keripik pisang, menggunakan modal senilai Rp. 500.000.

Sekalipun produknya diminati, usaha keripik pisang yang sempay dijalankannya selam satu tahun itu perlahan mulai ditinggalkan. Dia tidak ingin meneruskan, karena pada industri makanan itu ada resiko kedaluwarsa dan terbuang sia-sia.

Setelah itu, dia pun mulai melirik peluang usaha membuat kerajinan. Di tahap awalm dia mencoba membuat tas berbahan tempurung kelapa dna tas berbahan ranting bambu. Ketika itu, semua dilakukan sendiri, hanya dengan mengandalkan kemampuan menjahit, dan kreativitasnya sendiri. “Saya hanya membayangkan, mencoba-coba, bagaiman tas ini kelihatan bagus dikenakan perempuan seperti saya,” ujarnya,

Lakuakan perbaikan

Sebagai upaya melakukan uji coba, dia mulai membuat 1-2 tas yang kemudian dijual dan ditawarkan ke tetangga, warga sekitar rumahnya. Hal itu dilakukannya berulang kali selama sekitar setahun. Dari upaya itulah, Bibit mendapat banyak kritikan, yang kemudian dipakainya sebagai bahan pertimbangan untuk terus memperbaiki produk.

Salah satu hal yang dikeluhkan oleh salah seorang tetangga, misalnya, adalah bagian ranting dan kulit kelapa yang mudah ditumbuhi jamur saat disimpan. Dari situ, Bibit kemudian belajar memakai obat atau bahan kimia pencegah jamur.

Seiring dengan upaya-upaya perbaikan itulah, dia mulai mendapatkan pesanan tas dari tetangga-tetangga sekitar. Tidak hanya mendapatkan pesanan, sebagian warga sekitar pun tertarik utnuk ikut membuat tas tersebut. Mereka tertarik untuk dilatih membuat tas. Akhirnya sebagian juga direkrut Bibit sebagai karyawan atau tenaga lepas dalam proses produksi tas.

Respons positif dan peningkatan permintaan dari lingkungan sekitarnya, mendorong Bibit mengembangkan pemasaran dengan memperkenalkan produknya ke Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Temanggung. Dari situlah, ia kemudian mulai diajakn untuk mengikuti pameran-pameran. Pada pameran pertama yang diikutinya tahun 2010, produk tas dari ranting bambu yang diproduksi Bibit mendapatkan respons tak terduga.

“Waktu itu, saya mendapatkan pesanan 102 tas dari Denpasar, Bali,” ujarnya. Permintaan tersebut dipenuhinya dengan memberdayakan ibu-ibu rumah tangga sekitarnya.

Dengan makin seringnya mengikuti pameran, Bibit pun mendapatkan semakin banyak pesanan dari berbagai kota di Indonesia. Hal ini mendorong Bibit terus berkreasi mengembangkan produknya. Bahan ranting bambu, misalnya, dipadupadankan dengan bahan-bahan lain, seperti tali kur dan biji genitri.

Selain memproduksi, Bibit pun giat berbagi ilmu dan keterampilan pembuatan tas. “Sejak tahun 2010 hingga sekarang, saya mengajar, berbagi ilmu tentang cara membuat tas di lebih dari 20 sekolah,” ujarnya.

Ia tidak keberatan jikan karyawan atau orang yang oernah ia latih nantinya jadi pesaing usahanya.

“Saya ingin agar pada kondisi paling sulit, orang bisa mencari uang dengan bekal keterampilan sendiri. Saya ingin mengajarkan semangat berwirausaha, karena saya sendiri pernah mengalami masa susah, pernah di-PHK, dan merasakan krisis keuangan,” ujarnya.

 

 

Sumber: Kompas.10-Maret-2018.Hal_.19