Sumber:https://surabaya.pikiran-rakyat.com/metrolife/pr-3929243079/menapaki-warisan-dua-dunia-fantasi-budaya-tionghoa-indonesia-yang-menghipnotis-generasi-muda

Menapaki Warisan Dua Dunia, Fantasi Budaya Tionghoa-Indonesia yang Menghipnotis Generasi Muda

15 April 2025

PR  SURABAYA – Mengabadikan buah pemikiran dan talenta seni dalam paduan akulturasi karya menjadi sebuah novel.

Inilah sisi lain dari budaya yang bisa divisualisasikan dalam model yang lebih menarik, seru, dan mengikuti perkembangan generasi.

Sebuah novel terbaru yang berjudul Warisan Dua Dunia, sebuah karya alur cerita kehidupan sang tokoh yang hidup di antara ragamisasi budaya Tionghoa-Indonesia, khususnya tradisi Lontong Cap Go Meh.

Karya otentik yang dikemas secara apik oleh Dr. Shienny Megawati Sutanto, dosen Desain Komunikasi Visual dari Universitas Ciputra Surabaya.

Menariknya, novel ini bukan cuma sekadar buah karya tulisan, namun juga merupakan bagian dari disertasinya di program doktoral, yang ia mulai sejak tahun 2022.

Tentang novel berjudul Warisan Dua Dunia, Shienny mengajak pembaca masuk ke dalam dunia fantasi yang kaya unsur budaya peranakan Tionghoa.

Ia mengungkapkan bahwa alur cerita banyak terinspirasi dari masa kecilnya yang tumbuh dekat dengan Klenteng Hok An Kiong di Surabaya.

“Saya dulu sering menemani mama ke Klenteng An Kiong, dan kemudian saya gunakan untuk tokoh utamanya dan latarnya,” ujar Shienny, Selasa 15 April 2025.

Tak hanya berisi tentang tulisan, novel berjudul Warisan Dua Dunia ini juga disertai dengan 18 ilustrasi, di mana kesemua ilusrasi tersebut digambar sendiri olehnya.

“Ada penggambaran 12 shio dan arsitektur Klenteng di novel Warisan Dua Budaya,” ungkapnya.

Penggambaran ilustrasi diakui menjadi tantangan terbesar Shienny dalam menyelesaikan novel Warisan Dua Dunia.

Bukan sekedar lukisan indah, namun bagaimana agar unsur budaya bisa selaras dalam alur cerita yang disajikan dalam novelnya.

“Tantangan terbesar dalam pembuatan novel ini adalah bagaimana pembuatan unsur budaya agar terasa menyatu dalam cerita,” kata Shienny.

“Dan ini menjadi salah satu kesulitan yang saya alami,” lanjutnya.

Berbeda dengan novel fiksi yang telah Ia produksi sebelumnya, dalam novel berjudul Warisan Dua Dunia ini, Shienny mengatakan bahwa menulis budaya itu butuh waktu dan riset yang dalam, agar pembaca bisa menikmati tanpa merasa digurui.

“Jadi melalui cerita fantasi saya pengennya budaya bisa dekat dengan generasi-generasi muda,” harap Shienny.

Dirilisnya novel Warisan Dua Dunia adalah kado bagi generasi saat ini bisa lebih mengenal dan memahami budaya Tionghoa-Indonesia melalui media yang sesuai dengan dunia saat ini.***