Oleh: Dewa Gde Satrya, Dosen Tourism Business Universitas Ciputra, peneliti CSR pariwisata
Program Corporate Social Responsobility (CSR) yang dilakukan oleh perusahaan asal Jerman, Kaercher, dengan membersihkan Tugu Monas yang terlihat kumuh dan berlumut patut diapresiasi. Sebelumnya, program “Kaercher Cleans Monas” pernah dilakukan tahun 1992.
Obor api yang dilapisi emas seberat 50 Kg tidak disentuh. Sebelum melakukan kegiatan ini menerjunkan tim teknisinya sejak tahun 2011 untuk melakukan riset dan survei. Riset itu diperlukan untuk menganalisis jenis kotoran yang mengendap dan menyiapkan strategi pembersihan yang tepat. Kaercher menjamin hanya akan membersihkan kotoran tanpa merusak lapisan terluas Monas.
Selain menggandeng Pemprov DKI Jakarta, Kaercher juga mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatan “Monas Fun Cleaning Day with Kaercher” yang menjadi puncak dari kegiatan CSR Kaercher Cleans Monas pada 15 Mei.
Aksi CSR atas ikon Indonesia yang selama ini luput dari perhatian korporasi lain itu, tergolong sebagai wujud tanggung jawab sosial yang unik sekaligus kreatif. Selain itu, aksi CSR kreatif itu dapat menjadi model atau referensi bagi korporat lainnya, baik BUMN, BUMD maupun swasta dalam negeri atau modal asing, untuk mengampanyekan CSR yang tidak sekadar membagi-bagikan uang.
Pola CSR kreatif serupa juga dilakukan oleh dua perusahaan asing lain: pertama, Royal Dutch Philips yang sejak tahun 2012 menjalankan program “Kota Terang Hemat Energi”. Perusahaan elektronik konsumen terbesar di dunia yang berasal Eindhoven, Netherland, ini bertujuan untuk menerangi banyak landmarck kota di Indonesia melalui kemitraan dengan pemerintah maupun badan-badan komersial dan industrial di pulau Jawa, Bali, dan Sumatrera.
Kesan unggul dan peka
Di Surabaya, misalnya, CSR Philips yang menggunakan teknologi pencahayaan Philips LED Coloreach Powercore yang sangat canggih itu menerangi Tugu Pahlawan, Taman Dolog, Air Mancur Jalan Pemuda, dan Jembatan Suramadu. Sistem ini dapat beroperasi di semua kondisi cuaca, dapat diprogram hingga rangkauan warna yang dihasilkan tiap lampu LED menjadi bagian dari pertunjukkan cahaya yang dirancang secara khusus. Kini, landmarck yang diterangi LED Philips terkesan berbeda, dan tentu saja, menjadi elegan dan lebih bagus.
Kedua, AkzoNobel. Perusahaan cat dan pelapis terbesar di dunia yang bermarkas di Amsterdam, Netherland, ini memiliki program CSR kreatif bertanjuk “Preserving Glory of Iconic Buildings” sejak tahun 2010. Melalui program CSR, perusahaan yang mendunia dengan merk cat Dulux, CatyLac dan brand internasional lainnya ini berusaha mengembalikan kejayaan bangunan-bangunan warisan sejarah di berbagai negara.
CSR kreatif menancapkan kesan mendalam bagi lingkungan
Di Indonesia, programnya menjangkau Jawa dan Sulawesi. Di Surabaya, AkzoNobel melakukan pengecatan Gedung Balai Pemuda, salah satu gedung bersejarah yang menjadi saksi pendudukan kolonialisme dan semangat juang Arek-arek Suroboyo. Di Makasar, AkzoNobel mengecat kembali Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam) di Makassar.
CSR kreatif menjadi salah satu cara agar perusahaan dapat memperoleh simpati, bahkan mendapat ‘hati’ di tengah masyarakat dan menjadi kenangan posotif yang mendalam, syaratnya dengan melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh perusahaan atau pihak lain. Perusahaan tidak selayaknya hanya sekadar menyumbang dana atau menulis selembar cek, tetapi harus lebih dari itu, memberikan nilai lebih yang diakui oleh masyarakat luas.
Mengapa CSR kreatif patut diapresiasi? Perusahaan tersebut tahu persis arti penting sasaran CSR mereka. Seperti arti penting Monas bagi warga Jakarta dan bangsa Indonesia. Tugu Monas diyakini menjadi salah satu pengikat rasa kebangsaan (emotional bonding). Selain Monas, Kaercher pernah membersihkan 80 monumen di dunia. Di antaranya, Basilita St. Petrus, Italia pada 1998, Gunung Rushmore, AS pada 2005 dan London Eye, Inggris pada 2013. Hal serupa juga dilakukan Philips dan AkzoNobel.
Aksi CSR kreatif ini justru tidak melepaskan core business dan keunggulan kompetitif setiap korporasi. Melalui CSR tersebut, perusahaan-perusahaan itu menancapkan kesan mendalam di kehidupan masyarakat: menjadi perusahaan yang unggul di bidang tertentu dengan kepekaan dan sensitivitas terhadap kebutuhan lingkungan dan masyarakat.
Sumber: Kontan.24-Mei-2014.Hal.19

