RIVER RANGERS
Ada banyak hal menarik di sekitar. Sayangnya, tidak semua bisa menangkapnya dengan teliti. Tim River Rangers membuktikan, jika bisa lebih jeli, alam menyediakan banyak tunbuhan untuk dikonsumsi.
Saat ini semua serba instan. Dengan kecanggihan teknologi pangan, banyak bahan pangan dan minuman yang siap saji. Tinggak glek.
Minggu (1/3) sekelompok anak muda menyusuri bantaran kali Brantas di wilayah Wringinanom, Gresik. Mereka tidak sekedar bersepeda dan bersenang- senang. Tim yang terdiri atas 12 siswa itu berkali – kali menghentikan perjalanan dan menyuruk ke semak-semak. Mereka mengamati daun-daun, mengelus, mencium sebelum kemudian memetik.
Itu memang menjadi bagian dari tugas sebagai River Rangers. Mereka harus mengenali sepuluh jenis tumbuhan obat di Kali Brantas. Selain itu, mereka juga wajib mengenali lima manfaat sungai bagi kehidupan dan menuliskan lima faktor penyebab kerusakan sungai. Sudah tentu itu sepaket dengan lima aksi penyelamatan sungai. Supaya mendapatkan informasi akurat, mereka juga harus mewawancarai masyarakat yang tinggal disekitar sungai. Apabila itu sudah dikakukan, mereka pantas dinyatakan sebagai River Rangers.
Imas Maskhuroh, mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya, menjadi guide bagi para peserta. Ia senang melihat semangat peserta.
“ Anak-anak pada era teknologi saat ini lebih sering bersosialisasi dengan menggunakan gadget sehingga umumnya mereka tidak langsung berinteraksi dengan lingkungan sekitar,” ujar Imas.
Lebih lanjut mahasiswa asal Tangerang ini mengungkapkan bahwa kondisi ini berdampak kesenjangan perkembangan psikologis anak usia dini yang tidak sesuai dengan proses perkembangan masanya. Salah satu akibatnya anak tidak memiliki kepekaan sosial dan hilang kepedulian pada masalah lingkungan sekitar. Untuk menjawab keprihatinan ini mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Social Entrepreneurship berkolaborasi dengan pelajar – pelajar yang berdomisili di Daerah Aliran Sungai Brantas bagian hilir di Desa Wringinanom.
Kelompok Social Entrepreneurship Universitas Ciputra ini menciptakan sebuah permainan petualangan bagi anak usia 12-15 tahun. Kegiatannya mengajak peserta untuk menyusuri bantaran sungai menggunakan sepeda dan mengobservasi dengan mengamati aktivitas sosial di sekitar sungai, merasakan, dan menginventsrisasi flora dan fauna menarik yang ditemukan sepanjang perjalanan.
“River Rangers ini adalah permainan petualangan dengan obyek lingkungan sungai yang bisa menumbuhkan empati, kepekaan sosial, dan merangsang lahirnya critical thinking berupa kepedulian yang pada gilirannya membuahkan aksi-aksi sosial untuk membuat perubahan,” tutut Setyo Ruci Dewaningrum.
Lebih lanjut Ketua Himpunah Mahasiswa Psikologi Universitas Ciputra itu menjelaskan, River Rangers mengajak anak untuk mengenal lingkungan sekitar dan berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di tepi sungai. Peserta juga diwajibkan mendokumentasikan hasil temuan ini melalui foto.
Sepeda disiapkan untuk menemani semua peserta. Mereka yang bergabung langsung berbinar-binar ketika tahu akan menyusuri bantaran sungai dengan sepeda. Semua siap bergerak dan berburu tumbuhan obat. (tim river rangers)
Mencari Sumber Obat
Kegiatan berburu tumbuhan obat ini adalah salah satu item kegiatan dalam Program River Rangers. Pada awal kegiatan semua peserta diminta untuk mengingat sepuluh jenis daun berkhasiat obat yang ditunjukan oleh guide.
“Sebelum kegiatan dimulai kami sudah meyiapkan sepuluh jenis daun tumbuhan yang berkhasiat obat. Tumbuhan ini kami letakan berjajar diatas meja dan ditutup dengan kain,” ujar Imas Maskhuroh.
Selanjutnya kain penutup dibuka dan peserta diperbolehkan untuk melihat, meraba, mencium, dan mengingat-ingat bentuk daunnya. Ada waktu tiga menit untuk mengenali daun-daun itu. Setelah tiga menit, daun ditutup kain lagi.
Setiap peserta diharapkan menemukan sepuluh jenis daun selama perjalanan dan menjelaskan manfaatnya, bagi peserta yang menemukan 10 jenis daun dalam perburuan dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan predikat sebagai River Rangers.
Kedua belas peserta bersepeda menyusuri tanggul Kali Brantas hilir di Desa Wringinanom. Semua melewati Desa Penambangan dan Desa Jeruk Legi, Kecamatan Balongbendo kemudian peserta menyebrangi sungai dengan perahu kayu menuju Desa Sumengko dan Lebani Waras Kecamatan Wringinanom. Perjalanan ini sejauh 4 km.
Sepanjang perjalanan kondisi bantaran sungai masih terpelihara kelestariannya. Peserta secara berkelompok menyusuri tanggul sambil sesekali berhenti saat menemukan tumbuhan yang memiliki daun yang berkhasiat obat.
“Senang ikut kegiatan ini. Kami menjadi tahu manfaat tanaman yang ada ditepi sungai, padahal setiap hari bertemu dengan tumbuhan-tumbuhan ini tetapi tidak tahu manfaatnya sehingga sering dianggap sebagai tumbuhan tidak berguna” ungkap Feni Anggraeni, pekajar SMPN 1 Wringinanom yang rumahnya berjarak 200 meter dari Kali Brantas hilir.
Pada akhir kegiatan, peserta River Rangers berkunjung ke Kebun Tumbuhan Obat Pak Kasimin di Desa Lebani Waras. Kasimin menjelaskan jenis tumbuhan dan manfaatnya. Tumbuhan semak sungai ternyata berkhasiat.
Tim River Rangers mendapatkan penjelasan hasil berburu tumbuhan obat seperti ciplukan, kunir, meniran, alang-alang, tapak liman, bambu jawa dan bambu ori, bangle, tidur malam (trembesi), putri malu, sambung nyawa, ekor kucing, kumis kucing, ande-ande lumut, semanggi, dan temulawak. Ternyata di Kali Surabaya terdapat 231 tumbuhan berkhasiat obat.
Dirumahnya di Desa Sidowaras Lembani Waras, Kecamatan Wringinanom, tumbuh-tumbuhan itu diolah menjadi jamu. River Rangers pun mencicipi jamu sinom yang ternyata kompososinya beragam yaitu sinom, akar padi, rumput teki, akar alang-alang, asam dan temulawak. Semuanya dimasak dengan air panas. Rasa sinomnya berbeda selain manis, asam, dan yang pasti membunuh dahaga. (tim river rangers)
Saya seneng banget karena hari ini dapat pelajaran berharga tentang tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat obat. Saya jadi tahu kalau disekitar kita banyak tumbuhan yang bisa dimanfaatkan dan digunakan untuk bahan jamu seperti ciplukan, kunir, tapak liman, alang-alang, dan sambung nyawa. Saya ingin mengajak teman-teman dikampung dan teman di SMPN 1 Kedamean untuk mengikuti kegiatan River Rangers karena banyak manfaatnya
THARA BENING SANDRINA (SMPN 1 KEDAMEAN KELAS VII)
Kami akan mempromosikan dan mengajak sekolah-sekolah yang ada di sekitar Kali Brantas untuk mengikuti program River Rangers, saya berharap makin banyak anak-anak yang mengikuti River Rangers maka makin banyak orang yang peduli dan ikut melestarikan Kali Brantas. Kami yakin kepedulian akan tumbuh bila sejak dini anak-anak dikenalkan dengan lingkungan sekitar.
IMAS MASKHUROH (MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS CIPUTRA)
Seneng sekali bisa jadi bagian River Rangers, bisa punya banyak teman baru. Aku jadi tahu bahwa di sekitar rumahku ada banyak tumbuhan yang bermanfaat. Setelah mengikuti River Rangers, aku jadi lebih mengenali kegiatan orang yang tinggal di tepi sungai seperti menjala dan aktivitas penyebrangan. Meskipun demikian, saya juga sedih karena banyak oirang yang masih buang air besar dan buang sampah ke sungai.
SOFI AZILAN AINI (SMPN 1 WRINGINANOM KELAS IX)
Saya jadi bersemangat karena bisa berolahraga dan dapat ilmu baru mengetahui manfaat tumbuhan di sekitar kampung yang sebelumnya dianggap sebagai hama dan pengganggu.
FENI ANGGRAENI (SMPN 1 WRINGINANOM KELAS IX)
SUMBER: DigiMag (Digital Magazine), Surya.Hal.10 Kamis,5 Maret 2015

