Menciptakan Kamera 3D Lebih Murah
redaksi@bisnis.co.id
Hampir semua orang saat ini membawa ponsel kamera. Namun kamera yang dimiliki ponsel, dan kamera digital populer lainnya, tidak dapat menangkap informasi bentuk tiga dimensi. Foto dan video yang ditangkap kamera ponsel hanya mampu menyimpan gambar bidang datar.
Beberapa peneliti pada saat ini sedang menjajaki penerapan teknologi kamera tiga dimensi yang dapat dipasang di peranti portabel seperti ponsel. Kamera seperti ini akan lebih mampu mempersepsi lingkungan sekitarnya dengan lebih baik.
Ponsel yang dilengkapi dengan kamera (atau sensor tiga dimensi lainnya) akan dapat menangkap susunan perabotan dalam rumah atau kontur jalanan. Dengan informasi dari sensor seperti ini pengembang bisa menciptakan aplikasi mulai dari permainan video interaktif, sampai bimbingan untuk orang-orang yang terhalang secara visual.
Perusahaan seperti Google berusaha melakukan miniaturisasi kamera tiga dimensi agar dapat digunakan pada ponsel. Proyek perintis yang sedang dikembangkan Google, Project Tango, masih berada dalam tahap awal. Namun Microsof tampaknya mengambil langkah lain yang mungkin dapat menghemat biaya.
Kelompok peneliti dari Microsoft Research yang terdiri dari Sean Ryan Fanello, Cem Keskin, dan Shahram Izadi berusaha memodifikasi kamera ponsel yang sudah ada untuk dijadikan kamera 3D. Tujuannya adalah membuat biaya pengembangan aplikasi kamera tiga dimensi menjadi lebih murah dan mudah. Hasil karya mereka ini telah dipresentasikan di konferensi komputer grais dan interaksinya, SIGGRAPH, yang diselenggarakan di Vancouver, Kanada, 10-14 Agustus.
MODIFIKASI FISlK
Modifikasi fisik yang dilakukan oleh Microsoft Research adalah dengan menyingkirkan tapis (filter) cahaya yang panjang gelombangnya mendekati cahaya inframerah (near-infrared).
Tapis ini biasa ditemukan, pada kamera ponsel untuk menghalangi spektrum cahaya yang tidak diinginkan, yang dapat mengganggu kualitas foto yang diambil.
Setelah tapis dekat inframerah ini disingkirkan, Grup Microsoft Research tersebut menambahkan tapis yang hanya membolehkan cahaya inframerah lewat, ditambah lagi dengan kumpulan LED yang memancarkan cahaya dekat infra-merah. Modifikasi ini secara kese-luruhan mengubah kamera biasa menjadi kamera inframerah.
Kamera yang sudah dimodifikasi tersebut akan memancarkan cahaya inframerah, yang berfungsi seperti sonar dan obor. Cahaya yang dipancarkan tersebut akan memantul dari benda di dekatnya, dan ditangkap kembali oleh kamera. Kamera dapat mengukur intensitas cahaya yang dipantulkan, yang menunjukkan jaraknya. Cahaya yang terang menunjukkan objek yang dekat, dan cahaya yang lebih redup menandakan benda yang lebih jauh.
Sayangnya kamera ponsel tidak bisa langsung mengenali jarak seperti ini dari intensitas.cahaya yang dipantulkan. Ponsel harus dilatih terlebih dahulu, menggunakan teknik yang disebut sebagai pembelajaran mesin (machine learning).
Untuk tahap awal Grup Microsoft Research ini memusatkan perhatian dengan melatili kamera untuk mengenali tangan dan wajah manusia. Setelah melatih kamera dengan sekumpulan data, kamera tersebut dapat mengukur gerakan manusia sampai kecepatan 220 bingkai per detik.
Meskipun untuk tahap awal pihak Microsoft Research melatih perantinya dengan tangan dan wajah manusia, pada dasarnya pendekatan yang dilakukan mereka dapat digunakan secara lebih luas.
Namun harus kita lihat apakah teknik ini bisa membuat Microsoft meluncurkan peranti kamera 3D lebih dulu daripada Google. (k8)
Sumber : Bisnis Indonesia 20 Agustus 2014 | Hal 27

