MENCOKOL SENI KERA INDONESIA
Oleh Aryo Wisanggeni G
Ada keramik dan ada seni rupa. Jebakan “takdir keramik” sebagai seni kriya seolah memisahkan keduanya. “Takdir keramik” pula yang menguapkan peradaban gerabah Nusantara, melenyapkan desa-desa keramik yang terserak di pelosok Indonesia. Akankah 3rd Jakarta Contemporary Ceramics Biennale meretas “takdir keramik?”
Sarah Younan, keramikus asal Wales, Inggris Raya, bekerja di Studio Keramik Falcultas Seni Rtipa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, Selasa (26/8). Younan adalah satu dari empat seniman asing yang menjalani program seniman mukim untuk menyiapkan pameran Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB#3) yang akan digelar di Galeri Nasional pada 23 September hingga 13 Oktober mendatang.
Persis tangan bocah, tangan Sarah Younan lembut menggilasi tanah liat berwarna ‘abu-abu pucat menjadi untaian tanah liat lemas sepanjang 15 sentimeteran, dengan diameter seukuran jari bocah. Diangkatnya lembut tanah liat bercampur bubur kertas itu, lalu ditempelkarmya ke rangka kurungan burung buatannya.
Diambilnya tabung gas berpemantik, lidah apinya yang memberi dibakarkan ke tanah liat basah itu hingga setengah kering. “Dengan mengeringkannya, saya bisa merangkai kurungan burung itu dengan jeruji-jeruji baru. Saya membahas lagi beberapa bagian, untuk menaruh detail bentuk wajah di tiap-tiap kurungan burung saya,” kata Younan, Selasa (26/8).
Sudah dua pekan keramikus asal Wales, Inggris Raya, itu bekerja di bengkel Studio Keramik Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Ini kali pertamanya datang ke Indonesia, dan di Bandung ia penasaran dengan kegemaran orang Bandung bersepeda motor membawa-bawa kurungan burung, juga oleh ragam wujud kurungan di pasar burung.
Selama dua pekan berbalur tanah liat dan bubur kertas, Younan sudah menyelesaikan sebuah kurungan burung dengan wujud badan manusia, seukuran manusia pula besarnya. Beberapa kurangan yang lebih kecil, seukuran kepala manusia dan kepala raksasa, juga menyerupai beragam ekspresi wajah. “Saya ingin menaruh burung hidup di dalamnya agar kita bisa mendengar kicauannya di ruang pamer biennale keramik kita,” ujar Younan.
Younan adalah satu dari empat seniman asing yang sejak Juli menjadi seniman mukim 3rd Jakarta Con-temporary Ceramics Biennale (JCCB#3) yang akan digelar di Galeri Nasional pada 23 September hingga 13 Oktober mendatang. Steven Low Thia Kwang (Singapura) dan Krstie ‘van North (Belanda) menjadi seniman mukim dua industri kerarnik di Bali, sementara Amornthep Mahamart yang asal Thailand tengah menikmati interaksinya di desa gerabah Bayat, Klaten, Jawa Tengah.
Keempat seniman asing itu menjadi bagian dari 32 seniman dari 22 negara yang akan meramaikan pameran keramik kontemporer dua tahunan yang kini mengusung tema “Coefficient of Expansion” itu. “Kalau melihat banyaknya keramikus dan seniman asing yang dilibatkan, ini JCCB yang paling ambisius mencokolkan keramik Indonesia dalam peta keramik Asia Tenggara,” kata kurator JCCB#3, Asmudjo Jono Irianto.
Meretas jebakan
Masalah keramik Nusantara sebenarnya lebih dari sekadar upaya mencari penanda “keramik Indonesia” dalam peta seni keramik dunia. Selama ribuan tahun, peradaban gerabah (pottery) seni keramik yang mengandalkan pernbakaran suhu rendah) Nusantara terhubungkan sekaligus terasingkan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Tiap kantong-kantongnya, desa gerabah (pottely village) di Indonesia tumbuh mandiri, sekaligus saling menyalin satu sama lain, lalu kembali tumbuh mandiri. Tiap-tiapnya menghasilkan keragaman teknik gerabah yang memesona dunia.
Dunia pernah memuja lombok pottery” atau “sasak pottery”, tempayan raksasa para perajin gerabah dari Banyumulek, dan Panunjak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 1970-an, ekspor gerabah sasak begitu memakmurkan para warganya, ditopang oleh keterpesonaan para peneliti keramik dunia melihat keang-gunan gerabah sasak.
“Hari ini, di desa-desa itu gerabah kehilangan fungsinya, digantikan oleh perkakas plastik. Kepiawaian perajin gerabah Lombok tak terwariskan. Kondisi serupa terjadi di Gayo, Aceh misalnya. Juga terjadi di Galogandang, Sumatera Barat. Keanekaragaman gerabah Nusantara tak berbilang, namun semuanya menjelang punah,” kata Asmudjo.
Dalam konteks seni keramik kon-temporer, warisan teknologi keramik para keramikus Indonesia tak sekaya seniman keramik Tiongkok, Jepang, atau Korea. Para keramikus Tiongkok, Jepang, atau Korea mewarisi peradaban keramik teknik pembakaran bersuhu tinggi, dengan segala artefak porselen dan keramik mereka yang indah.
“Namun” keragaman gerabah Nusantara adalah modal berharga untuk dieksplorasi para keramikus Indonesia. Tidak hanya sebagai perbendaharaan gerabah, namun bisa dicangkokkan dalam beragam teknik penggarapan keramik lainnya,” ujar Asmudjo.
Lewat sodoran tema “Coefficient of Expansion” (istilah teknis seni keramik, mengacu pada pemuaian materi keramik dalam pembakaran), Asmudjo dan Rifky Effendy menantang 28 keramikus dan seniman kontemporer Indonesia untuk “memuaikan” seni keramik kontemporer.
JCCB#1 2009 dan JCCB#2 2012 memang kaya oleh pilihan para kuratornya menghadirkan seniman non keramik dalam perhelatan mereka. Pada JCCB#2 misalnya, hadir video animasi digital karya Tromarama berjudul “Ons Allet Belang”. Lewat performing art “Where Are We?”, Herra Pahlasari membaluri benda sehari-hari, seperti lampu hias, topi, kursi, karpet, dan kuda-kudaan, dengan keramik yang jelas meretas “takdir keramik” sebagai kriya.
Namun segala pencapaian dalam JCCB#1 dan JCCB#2 tak lantas memudahkan kerja Direktur JCCB#3 Nia Gautarna mengurus perhelatannya. Meski telah didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonoini Kreatif juga sejumlah lembaga kebudayaan intemasional seperti Wales Foundation, Korean Cultural Centre of Indonesia, Swiss Art Council Pro-Helvetia, Stikk.No-Norwegia, Russian Cultural Center hingga pekan ini Nia masih pusing mencari kekurangan dana Rp 600 juta untuk membiayai pengiriman karya para seniman luar negeri dan membayar jaminan impor sementara.
“Sejumlah seniman luar negeri yang sempat menyatakan ikut batal turut serta, karena panitia JCCB#3 belum seperti lazimnya biennale, belum mampu menanggung biaya trans-portasi para keramikus dan seniman,” kata Nia.
Nasib pengorganisasian JCCB#3 sebenarnya perulangan dari apa yang dialami para pemerhati dan kurator yang pusing tujuh keliling menghelat peristiwa seni rupa demi menghadirkan Indonesia dalam peta seni rupa dunia. Pola, kerja sektoral dan hitungan laba-rugi jangka pendek kerap membuat para pekerja seni kesulitan menaut para pemangku kepentingan lain termasuk industri kreatif untuk turut rnenyokong perhelatan seni rupa.
Sumber : Kompas 31 Agustus 2014 | Hal 26

