7 Januari 2016. James T. Riady tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia_Mendidik itu Menjadikan Manusia Utuh. Jawa Pos. 7 Januari 2016.Hal.1,11

Tiada mungkin menganggapi kemajuan dan merengkuh kesuksesan tanpa memperihitungkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Perbaikan di sisi itu akan membuat Indonesia menyusuri jalan yang dilalui negara-negara maju.

BAGI James Tjahaja Riady, Indonesia kini tengah melalui pengalaman negara-negara maju 50-60 tahun silam. Bedanya, belum ditunjang SDM yang mumpuni. Sector industry didominasi pekerja berketrampilan rendah dengan bayaran murah.

Korupsi Lahir dari Kebijakan Salah

MENDIDIK

Nilai tambah pun menjadi jauh panggang dari api.

“Kondisi pekerja Indonesia kurang lebih 100 juta: 70 persen bekerja di sector informal, selebihnya 30 persen di sekitar formal. Nah, di sector informal itu low-skill, low pay,” kata CEO Lippo Group tersebut ketika berbincang dengan Manado Post (Jawa Pos Group) di Sekolah International Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, Banten.

Agar Indonesia lepas landas menjadi negara maju, mengasah SDM harus menjadi focus. Putra sulung Chairman Lippo Group Mochtar Riady itu mengatakan,, tenaga kerja tak terampil tersebut merata, baik di koa-kota maupun pedesaan. Itu tentu menjadi tantangan besar lantaran bangsa ini tak mungkin terus-menerus mengandalkan sumber daya alam (SDA) mentah bernilai tambah rendah.

“Inilah pekerjaan utama para pemimpin bangsa ini untuk sepuluh tahun yang akan datang. Yakni focus memperhatikan SDM berkualitas,” tutur pimpinan grup usaha yang merambah banyak sector, mulai property, industry keuangan, media, pendidikan, hingga kesehatan, tersebut.

Dengan SDM berkualitas, SDA mentah bisa dioah sehingga punya nilai tambah. Dia mencontohkan, semestinya Indonesia bisa menjadi basis industry makanan. Dengan populasi yang amat besar, tanpa ekspor pun, pasar domestic Indonesia amaat menjanjikan.

Suami Aileen Hambali itu menambahkan, untuk mewujudkan basis industry, tentu saja diutuhkan infrastruktur yang memadai. Listrik, air, serta bahan penunjang seperti semen dan baja perlu mendapatkan perhatian. Itu yang menjadi tugas pemerintah. “Apakah di Indonesia ada sentra-sentra industry yang bebas dan birokrasi? Apakah cost industry itu bisa turun, khususnya listrik?” sentilnya.

Dengan pasar sebesar itu, akan otomatis manufacturing akan meningkatkan skalanya. Sebab, dasar globalisasi adalah kompetisi. Tabiat kompetisi adalah efisiensi. Dengan begitu, ekonomi biaya tinggi bisa ditekan dan ekonomi Indonesia akan berdaya saing.

Jika ekspor berbasis SDA yang bernilai tambah telah terwujud, Indonesia akan mampu mengekspor komoditas berbasis industry. Ke depan juga bukan tidak mungkin Indonesia bisa berjaya di bidang jasa seperti industry keuangan. “Ini semua bisa karena negara kita besar,” tegas pria kelahiran 1957 itu.

Menurut pendiri dan chairman Yayasan Pendidikan Pelita Harapan tersebut, peran pemerintah amat besar dalam memajukan bisnis. Dia menyebut negara-negara seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Untuk sepuluh tahun mendatang, James mengatakan, pemerintah perlu menyiapkan fondasi sejak sekarang. Menurut dia, tanda-tanda mulai terlihat dengan kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berusaha memperbaiki infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, jalan tol, listrik, dan air. Terobosan itu sangat membantu untuk melancarkan perdagangan.

Di mata James, Presiden Jokowi sudah melakukan gebrakan di berbagai sector. Semuanya bergerak dinamis dan ini menjadi fondasi bagi Indonesia sepuluh tahun ke depan. Salah satu yang positif yang dilakukan Jokowi adalah membangun wilayah timur Indonesia seperti Papua.

“Orientasi beliau itu ke timur terus (Papua, Papua Barat, NTT, Sulawesi) dan ini semua adalah rangkaian bagian dari ekspresi kebijakan Pak Jokowi membangun daerah melalui pembangunan infrastruktur,” jelasnya.

Namun, James mengingatkan, sumber korupsi di negara ini lahir dari kebijakan yang salah. Semua kebijakan yang salah akan langsung berdampak pada masyarakat luas.

Misalnya, di bidang pertanian, ada subsidi bahan bakar untuk mereka yang punya mesin. Itu tentu tidak menyentuh petani. Semakin besar subsidi berarti banyak distorsi. Itu adalah pangkal pemborosan. “Itu tidak mengembangkan infrastruktur di daerah dan salah satu kebijakan yang salah.”

 

 

JAWA POS 7 JANUARI 2016

 

Tiada mungkin menggapai kemajuan dan merengkuh kesuksesan tanpa memperhitungkan kualitas sumbeer daya manusia. Perbaikan disisi itu akan membuat indonesia menyusuri jalan yang dilalui negara negara maju.

 

Korupsi lahir dari kebijakan salah

Nilai tambah pun menjadi jauh panggang dari api. “kondisi pekerja indonesia kurang lebih 100 juta: 70% bekerja disektor informal,selebihnya 30% disektor formal. Nah,di sektor informal itu low skill,low pay” kata CEO Lippo Group tersebut ketika berbincang dengan manado post disekolah internasional pelita harapan,karawaci,tangerang,banten. Agar indonesia lepas landas menjadi negara maju,mengasah SDM harus menjaadi fokus. Putra sulung chairman lippo group mochtar riady itu mengatakan, tenaga kerja tak terampil tersebut merata. Baik di kota kota maupun pedesaan. Itu tentu menjadi tantangan besar lantaran bangsa ini tak mungkin terus menerus mengandalkan SDA mentah bernilai tambah rendah. “inilah pekerjaan utama para pemimpin bangsa ini untuk sepuluh tahun yang akan datang. Yakni fokus memperlihatkan SDM berkualitas” tutur pemimpin grup usaha yang merambah banyak sektor,mulai properti,industri keuangan,media,pendidikan,hingga kesehatan tersebut. Dengan SDM berkualitas,SDA mentah bisa diolah sehingga punya nilai tambah. Dia mencontohkan,semestinya indonesia bisa menjadi basis industri makanan. Dengan populasi yang amat besar,tanpa ekspor pun pasar domestik indonesia amat menjanjikan. Suami aileen hambali itu menambahkan,untuk mewujudkan basis industri,tentu saja dibutuhkan infrastruktur yang memadai. Listrik, air, serta bahan penunjang seperti semen dan baja perlu mendapatkan perhatian. Itu yang menjadi tugas pemerintah. “apakah  di indonesia ada sentra sentra industri yang bebas dari birokrasi? Apakah cost industri itu bisa turun,khususnya listrik?” sentilnya. Dengan pasar sebesar itu,otomatis manufacturing akan meningkatkan skalanya. Sebab dasar globalisasi adalah kompetisi. Tabiat kompetisi adalah efisiensi. Dengan begitu,ekonomi biaya tinggi bisa ditekan dan ekonomi indonesia akan berdaya saing. Jika ekspor berbasis SDA yang bernilai tambah telah terwujud,indonesia akan mampu mengekspor komoditas berbasis industri. Ke depan juga bukan tidak mungkin indonesia bisa berjaya dibidang jasa seperti industri keuangan. “ini semua bisa karena negara kita besar” tegas pria kelahiran 1957 itu. Menurut pendiri dan chairman yayasan pendidikan pelita harapan tersebut,peran pemerintah amat besar dalam memajukan bisnis. Dia menyebut negara negara seperti jepang,tiongkok dan korea. Untuk sepuluh tahun mendatang,james mengatakan pemerintah perlu menyiapkan fondasi sejak sekarang. Menurut dia tanda tandanya mulai terlihat dengan kebijakan presiden joko widodo yang berusaha memperbaiki infrastruktur sepeerti pelabuhan,bandara,jalan tol, listrik dan air. Terobosan itu sangat membantu untuk melancarkan perdagangan. Di mata james, jokowi sudah melakukan gebrakan di berbagai sektor. Semuanya bergerak dinamis dan ini menjadi fondasi bagi indonesia sepuluh tahun kedepan. Salah satu yang positif yang dilakukan jokowi adalah membangun wilayah timur indonesia seperti papua. “orientasi beliau itu ke timur terus(papua,papua barat,ntt,sulawesi) dan ini semua adalah rangkaian bagian dari ekspresi kebijakan pak jokowi membangun daerah pembangunan infrastruktur” jelasnya. Namun james mengingatkan sumber korupsi dinegara ini lahir dari kebijakan yang salah. Semua kebijakan yang salah akan langsung berdampak pada masyarakat luas. Misalnya, dibidang pertanian,ada subsidi bahan bakar untuk mereka yang punya mesin. Itu tentu tidak menyentuh petani. Semakin besar subsidi berarti banyak distorsi. Itu adalah pangkal pemborosan. “itu tidak mengembangkan infrastruktur didaerah dan salah satu kebijakan yang salah”

 

Sumber: jawa pos,kamis 7 januari 2016