Kontan.7 September 2013.Hal.19

CSR Pariwisata harus disengaja alias didesain demi pertumbuhan turisme.

Oleh I Dewa Gde Satrya, Dosen Tourism Business Universitas Ciputra, Peneliti CSR Pariwisata

Event jelajah sepeda Sabang-Padang yang dihelat Kompas bersama perusahaan Gas Negara (PGN) dapat ditafsir dari berbagai aspek, salah satunya dari perspektif turisme. Di ranah pariwisata pun, event kreatif itu bermakna multidimensional. Disamping mempopulerkan destinasi baru yang kerap menjadi program Kementrian Pariwisata, juga dapata diartikan sebagai produk populer sebagai sport tourism. Tulisan ini sedikit mengulas dari pendekatan Corporate social responsibility (CSR) bernafaskan turisme.

Maaf jika berpraduga bahwa event sepedaan Sabang-Padang  buah kerjasama lintas korporasi itu tidak disadari atau disengaja (by design) sebagai CSR yang by accident memasuki ranah turisme. Tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan itu unik, kreatif sekaligus penting bagi tumbuhnya kepariwisataan dikota berjuluk kota pahlawan itu.

Kesadaran, bahwa turisme mesti ditumbuhkan dengan melibatkan dunia usaha tidak sebatas pada partisipasi pembangunan, tetapi juga perlu ranah partisipasi sosial. Untuk hal yang terakhir, agak ambigu, bias dan mungklin dikotomis. Bahkan dibeberapa temuan lapangan, asumsi dan dugaan CSR pariwisata itu gampang diperdebatkan. Namun baiklah fakta empirik itu menyiratkan pesan betapa CSR bernafaskan turisme perlu semakin dipopulerkan, mengukuti CSR bidang pendidikan, lingkungan hidup, dan kesehatan yang lebih dulu populer.

HARUS DIDESAIN

Artinya, CSR Pariwisata harus disengaja, alias didesain, untuk kepentingan pertumbuhan turisme daqlam berbagai bentuk. Diyakini bahwa tiada CSR yang sekedar aksi sosial/charity. Hal itu sekjali lagi tidak perlu diperdebatkan, yang terpenting, niat baik yang diaktualisasikan lewat program yang rasional dan efektif bidang turisme mesti digulirkan terus. Kerjasama business to business yang secaratidak disengaja layak dilabeli CSR pariwisata seperti event Jelajah Sepeda Sabang-Padang, perlu ditumbuhkan dalam format dan model lainnya.

Patron perjalanan atau travel pattern sebagai dasar pembuatan paket wisata untuk mendorong agar wisatawan memiliki alternatif tujuan wisata lain yang pernah dikembangkan Kementrian Pariwisata, seharusnya menjadi peluang bagi pelaksanaan program CSR bidang pariwisata. Kementrian pariwisata melakukan pengembangan destinasi dengan fokus pada market attractiveness yang meliputi 14 provinsi dan pendekatan pada pushing product yang meliputi 8 provinsi dengan keunggulan yang dimiliki masing-masing destinasi.

Program pengembangan destinasi yang berfokus pada pushing product meliputi Tanjung Leusung” (Banten), Raja Ampat (Papua Barat) Weh-Sabang (Nanggroe Aceh Darussalam) Togean Tomini (Suteng) , Wakatobi (Sultra), Banda (Maluku) Tanjung Putting (Kalteng) dan Derawan (Kaltim)

Sedangkan pengembangan destinasi dengan fokus market attractiveness di 14 provinsi anatara lain Bromo Tengger Semeru (Jatim), Danau Batur (Bali) , Toba-Nias (Sumut), Komodo-Kelimutu (NTT), Kepulauan Seribu Kota Tua (DKI Jakarta) (budpar.go.id)

Sinergi business to business dan business to goverment dalam bingkai kerja sama pariwisata seperti yang marak dilakukan di Surabaya. Sekiranya pararel dan mendukung program pengembangan destinasi dan peningkatan kunjungan wisatawan ke destinasi baru di Tanah Air. Di Surabaya, bentuk CSR yang merupakan skema B to G terdiri dari skema hibah dan kerjasama.

Paling tidak ada enam dasar hukum yang terkait hal tersebut, yakni Permendagri 69/2007 tentang Kerjasama Pembangunan perkotaan, Permendagri 19/2009 tentang Pedoman Peningkatan Kapasistas Pelaksanaan Kerjasama daerah, Permendagri 22/2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah, Peraturan Pemerintah 56/2011 entang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam penyediaan Infrastruktur dan Peraturan Pemerintah 2/2012 tentang Hibah.

Sebagaimana pariwisata merupakan industri yang terkait dengan berbagai aspek, demikian pulalah CSR bidang pariwisata merupakan kerja lintas kedinasan/departemen. Produk populer CSR di Surabaya yang by accident merupakan bentuk kontribusi bidang turisme adalah renovasi taman kota.

Renovasi serta perawatan taman dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Pematusan,  inti taman dikerjakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan, pengaman sekitar taman menjadi tanggung jawab Satpol Pamong Praja (PP), penataan pedagang kaki8 lima dikelola oleh Dinas Koperasi dan UKM. Pengemasan menjadi objek wisata menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata.

Teamwork lintas kedinasan menjadi ciri khas CSR bidang pariwisata. Oleh karena identitasnya adalah CSR pariwisata, maka objek CSR adalah semua aspek yang terkait dengan kegiatan wisata, serta pengembangan destinasi wisata baru seperti Kampung Wisata yang mulai marak tumbuh sejak tahun 2005.

Semisal, kampung Wisata Jambangan di Surabaya, ini merupakan produk wisata kontemporer yang unik dan berkualitas berkat kerja keras warga setempat dan kontribusi CSR beberapa perusahaan, seperti Unilever, dan Pembangkit Jawa Bali (PJB).

Ada fenomena unik yang ditemukan dilapangan dalam hal kecenderungan perusahaan yang melakukan CSR dibidang pariwisata sebagai secial response (Susant 2003), karna semata-mata untuk berkonstribusi atau sebagai rasa ungkapan terimakasih kepadsa pemerintah dan masyarakat. Halo itu terjadi pada salah satu armada taksi nasional y6ang sukarela. “Menyampaikan kampanye city branding melalui penempelan stiker pada 5.000 armadanya. Sekiranya CSR pariwisata semakin populer dan tidak sulit untuk dilakukan.

Sumber: Kontan.7-September-2013.Hal_.19