Menelisik Sejarah Jalan Kasuari (5)
Sungai Kalimas Jadi Alternatif Jalur Perdagangan

Jalan Kasuari sangat menarik jika dibahas lebih dalam . Karena jalan tersebut lokasinya berdekatan dengan Sungai Kalimas yang pada saat itu menjadi akses perdagangan di Kota Surabaya.

JALAN tersebut menghubungkan antara Jalan Rajawali, Jalan Kalisosok, Jalan Nelayan, Jalan Kelasi dan Jalan Kalimas Barat. Jika dilihat lebih ke dalam, kawasan tersebut terdapat sungai yang jaraknya sangat berdekatan persisi di samping Jalan Kasuari.

Sejarawan sekaligus pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, jalan tersebut merupakan alternatif jalur perdagangan melalui sungai. Namun, jam lalu lalang perahu, pedati atau truk yang mengangkut barnag dangangan hanya beroperasi mulai dari pagi sampai sore saja.

“Pada saat malam, jalan itu tampak sepi. Mungkin tidak menarik karena kegiatan kantor di sekitarnya tutup.” ujar Chrisyandi kepada Radar Surabaya.

Mengapa digunakan sebagai alternatif jalur perdagangan melalui sungai? Lantaran letaknya berdekatan dengan kantor perusahaan besar sehingga memudahkan para pengusaha pada zaman dulu.

“Di situ (Jalan Kenari, Red) tempatnya perusahaan-perusahaan dagang besar. Selain itu juga ada perkantoran seperti Javasche Bank, dan gedung lainnya.” jelasnya.

Perkembangan kawasan tersebut semakin hari makin pesat pada saat itu. Karena pengembangan kawasan kota pada saat itu tergantung dengan pemimpin pemerintahan. “Dalam buku Oud Soerabai disebut Kota Pahlawan saat itu dengan munculnya proyek perbentengan yang dimulai pada 19 April 1871. Benteng itu juga berada di kawasan Jalan Kasuari.” paparnya. (bersambung/nur)

Sumber : Radar Surabaya, 13 April 2020 | Hal 3