
Pada saat pembangunan Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria awal tahun 1820-an, pembangunan belum selesai, namun untuk kesekian kalinya wabah kolera berkecamuk sebagai akibat buruknya sistem pemantusan di kota bawah (Beneden Straat). Gedung gereja yang belum rampung itu digunakan sebagai rumah sakit darurat, terutama untuk anggota militer dan keluarganya.
KEGIGIHAN pastor dan umat dalam merawat yang sakit mengharumkan nama dan mendapat tempat di hati masyarakat non Katolik. Menurut sejarawan sekaligus penulis buku Gereja Katolik Pertama di Surabaya Stefanus Nuradhi Tanuridjo, wabah kolera tersebut berasal dari delta sungai Gangga pada tahun 1818. “Lalu menyebar ke Jessora Benggala dan India jajahan Inggris, merambat ke Sumatera, Jawa dan Kalimantan,” ujarnya kepada Radar Surabaya.
Akhirnya pada tahun 1822 gereja diresmikan dan diberkati oleh Mgr. Lambertus Princen. Gembalanya adalah Pastor Hendrikus Waanders yang melayani di gereja ini sampai dia pensiun pada tanggal 12 Februari 1827 dengan uang pensiun sebesar 125 pound sterling tiap bulan.
“Dana yang dihabiskan untuk membangun gereja ini dilaporkan 95.000 pound sterling untuk bangunannya, 10.000 pound sterling untuk menara, 60.000 pound sterling untuk fondasinya. Akhirnya gereja ini diresmikan oleh Vikaris Apostolik Mgr,” ungkapnya.
Pada tahun 1867 gempa bumi hebat membuat gereja tersebut rusak parah. Gempa bumi itu kekuatannya lebih dari 6 skala richter. Kusen horisontalnya patah dan terjadi banyak keretakan. Perbaikan yang dilakukan menimbulkan pemandangan yang buruk dan mengkhawatirkan. Dalam buku Oud Soerabaia G.H. von Faber melukiskan gereja ini salah lokasi, mungkin yang dimaksud adalah arah kiblat bangunan tidak lazim untuk bangunan gereja pada zaman itu yang selalu dibangun searah gerak matahari (timur barat) sesuai dengan istilah Sol Christi (matahari melambangkan Kristus, lambang harapan ke depan). Sedang Gereja Maria Geboorte membujur utara-selatan.
Ada banyak faktor yang memungkinkan jemaat dan gembala memutuskan dan merencanakan untuk membangun gereja baru, disamping kualitas bangunan, juga perkembangan di sekitar gereja membuat peribadatan tidak nyaman.
“Ada catatan yang mengatakan lahan gereja itu diminta kembali oleh pemerintah, dan di lokasi itu didirikan pabrik uang logam,” pungkasnya (bersambung/nur)
