
Ketika zaman Jepang aktivitas di Jalan Merak cenderung dipakai hilir mudik militer menuju ke markas tentara Jepang (gedung Handels Vereeniging Amsterdam/HVA). Namun saat itu kawasan tersebut juga menjadi lalu lintas orang yang hendak ke makan yang terdapat di kawasan Krembangan.
SETELAH Surabaya jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942, mereka menguasai kota selama tiga tahun lebih. Penduduk Eropa disekap. Sebagian besar laki-laki dipaksa bekerja untuk Jepang. Pada saat perang waktu itu daftar pemakaman di Krembangan jumlahnya berkurang. Berarti pemakaman itu jauh lebih sedikit digunakan. Banyak orang yang disekap sampai mati dalam kurungan dan dikuburkan di tempat lain.
Pakar sejarah Stefanus Nuradhi Tanudirdjo menuturkan, ada atau tidaknya makam Belanda tidak ada satu literatur pun menyebutnya. Menurutnya di Krembangan (Krembangan Makam) ada makam. Pemakaman Belanda sebelum Peneleh dibuka. “Tapi sudah hilang jeleknya yang Krembangan jadi pemukiman padat, “terangnya kepada Radar Surabaya.
Dengan menyerahnya Jepang pada Agustus 1945, situasi di Indonesia dalam keadaan yang simpang siur dan membingungkan. Pemerintah kolonial tidak langsung kembali, karena banyak orang Belanda tetap dalam sekapan. Kebanyakan menyebar di wilayah yang diduduki oleh tentara Jepang. Dan Belanda sama sekali tidak memiliki tentara untuk mengambil kembali kekuasaan di Indonesia. Pasukan Inggris, yang seharusnya melucuti senjata pasukan Jepang yang ada di Hindia-Belanda diterima sebagai lawan, oleh karena itu mengalami perlawanan dan pertempuran sengit di Surabaya.
Sementara itu pustakawan Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, bahwa di Jalan Merak saat itu digunakan untuk aktivitas militer Indonesia pasca kemerdekaan.
“Pada masa revolusi atau masa kemerdekaan antara Agustus-November 1945, jlan itu masih dipaka aktivitas militer tapi kali ini militer Indonesia,” ungkapnya
Aktivitas di Comediestraat saat itu menjadi jalan bagi orang lewa ke berbagai tujuan di kawasan Surabaya Utara tersebut.
“Tapi jika dilihat dari gedung yang ada di sana, maka bisa disimpulkan meski jalannya pendek namun disitu aktivitas pun banyak. Itulah keunikan jalan Merak disbanding kota lama lainnya,” pungkasnya. (bersambung/nur)
