
Jalan Comediestraat atau saat ini dikenal dengan nama Jalan Merak, sejak zaman dahulu menjadi Jalur perlintasan banyak orang. Letaknya yang diapit oleh tiga jalan, yakni Jalan Krembangan, Sriti dan Cendrawasih tersebut selalu dilewati orang.
NAMUN Jalan Merak dahulu tidak seramai dengan saat ini. Menurut pustakawan Chrisyandi, tingkat keramaian bisa dilihat dengan jumlah penduduk saat ini. “Tingkat keramaiannya pasti jelas berbeda, jumlah penduduk dan moda transportasi pun untuk zaman sekarang lebih banyak,” katanya Kepada Radar Surabaya.
Selain dari jalan, juga bangunan yang menjadi bagian penunnjang adanya kawasan tersebut. Karena dulu orang-orang Belanda saat membangun jalan untuk aktivitas Belanda saat itu. Meski banyak masyarakat Indonesia yang dipekerjakan rodi ketika itu. “Dari pemikiran arsitek Belanda yang artistik dan mengacu untuk membangun suatu daerah yang nyaman untuk ditempati dan dihuni oleh penduduk,” jelasnya.
Mulai berkembangnya kota Surabaya yaitu setelah berpindahnya kekuasaan VOC langsung kepada pemerintahan Belanda terhadap kota Surabaya, yaitu tahun 1806. Sepanjang sungai yang berada disekitar Jembatan Merah, benteng-benteng mulai dibangun di tepi laut untuk mempertahankan kota dari serangan Inggris. Tahun 1830, pada saat pemerintahan Gubernur Jenderal Van den Bosch, diputuskan untuk membangun benteng yang mengelilingi kota Surabaya yaitu Benteng Lodewijk. Sejak itu, Surabaya menjadi kota perbentengan, dimana kota tidak bisa mengalami perluasan keluar benteng.
Sementara itu Gedung-gedung yang terkenal hingga saat ini di kawasan Jalan Merak yakni gedung Handelsvereeniging Amsterdam atau HVA, kini menjadi kantor PTPN XI. Dari zaman Belanda hingga Jepang menjajah negeri ini, hanya zaman penjajahan Belanda yang sampai saat ini masih membekas hasil bangunannya dan juga tata kota yang baik. Transportasi saat itu masih menggunakan tenaga kuda.
“Dilihat saat gedung kesenian masih ada (sebelum 1900,Red), transportasi masih banyak memakai tenaga kuda,” pungkasnya. (*/nur)
