
Jalan Comediestraat atau saat ini Jalan Merak juga terdapat gereja Katolik pertama saat itu. Menurut Sejarawam sekaligus penulis buku Gereja Katolik Pertama di Surabaya, Stefanus Nuradhi Tanudirdjo, gereja Katolik pertama ada di lokasi yang sekarang ada gedung ptpn.
LOKASI gereja saat itu terletak di lahan yang sekarang dibatasi Jalan Krembangan Barat-Merak-Sriti-Sikatan. Gereja berdiri di sebidang tanah lapang yang disebut Komediepleine.
“Gereja tersebut merupakan cikal bakal Gereja Kepanjen (Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Red),” ujarnya kepada Radar Surabaya.
Gereja permanen pertama di Surabaya, yakni Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria dibangun oleh Pastor H. Wanders yang di resmikan tanggal 22 Maret 1822. Lokasi gereja saat itu berada di tikungan Roomsche Kerkstraat dan Komedieplein (Kira-kira sekarang Jalan Cenderawasih dan Jalan Merak).
Pada tahun 1867, bangunan gereja ini mengalami retak-retak akibat gempa bumi, sehingga tanggal 4 April 1899 dibangunlah gereja baru di Tempelstraat (kini Jalan Kepanjen) dengan arsitek W. Weestmas.
“Pada tahun 1821 jemaat Katolik Paroki Maria Geboorte mendirikan sebuah gereja. Lokasinya di Roomsche Kerkstraat di pojok Komedieplein (Jalan Merak, red), imbuhnya.
Dalam peta-peta lama posisi ini kurang lebih di lahan antara Jalan Krembangan Barat (dulu Krembangan), Jalan Merak (Komedieweg), Jalan Sriti, dan Jalan Sikatan (Paradestraat). Tepat di belakang kompleks Polrestabes Surabaya saat ini, kurang lebih sekarang di tempat Gedung PTPN XI berdiri. Jalan Sriti yang sekarang adalah jalan masuk dari Paradestraat menuju ke gereja, yang memisahkan Markas Jotangan dengan Komedieplein. Jalan Sriti inilah yang dulu bernama Roomsche Kerkstraat. “Ada sumber tulisan yang menyatakan bahwa gereja ini adalah hibah dari Gubernur Jendral Herman Willem Daendels berupa tanah dan bangunannya,” katanya.
Tetapi rentang waktu sepuluh tahun sejak lengsernya Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dan berdirinya gereja ini sepertinya tidak mendukung teori tersebut. “Tapi hampir dipastikan ada campur tangan pemerintah dalam mendukung pendirian gereja itu secara finansial, selain sumbangan dari pedagang-pedagang kaya dan pemilik perkebunan Belanda,” terangnya. (bersambung/nur)
