Jalan Sulung dahulunya sempat dinamai dengan Bahasa Belanda, namun di era tahun 1950, nama tersebut telah di ganti dengan Bahasa Indonesia hingga kini,” Ginanjar Elyas Saputra

Jalan Sulung dahulunya sempat dinamai dengan Bahasa Belanda, namun di era tahun 1950, nama tersebut telah di ganti dengan Bahasa Indonesia hingga kini. Contong 1, ada juga jembatan kereta api (Viaduct) dan di Jalan Johar yang berdampingan dengan Jalan Sulung terdapat jejak perkembangan keturunan Tionghoa peranakan yang menganut agama Kristen.

Sejarahwan sekaligus pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chriayandi Tri Kartika menjelaskan, nama-nama jalan di kawasan tersebut dahulu menggunakan Bahasa Belanda, seperti Jalan Sulung Tengah dulu bernama Belakang Polack, Jalan Sulung Utara bernama Lindesteces Weg, sedangkan Jalan Sulung Sekolahan bernama Polack Straat.

              “Ada nama Belandanya. Kalau Jalan Johar dulunya bernama Djoharletan,” kata Chrisyandi kepada Radar Surabaya.

Saat disinggung apakah ada keterkaitan dengan Tuan Polack si saudagar kaya yang tinggal di kawasan Jalan Undaan, Chrisyandi belum bisa memastikan mengapa nama di Jalan Sulung Sekolahan dan Jalan Sulung Tengah ada embel-embel nama Polack.

“Kalau terkait Jalan Sulung apakah ada kaitan nya dengan Tuan Polack belum saya telisik lagi. Tapi kalau Jalan Johar itu ada kaitannya dengan perkembangan Tionghoa peranakan yang beragama Kristen,” ujarnya.

Beberapa kawasan di pusat Kota Surabaya pada masa penjajahan Belanda (di sekitar Jembatan Merah) memang bernama jalan dengan Bahasa Belanda, seperti halnya Jalan Sulung. Akan tetapi setelah masa kemerdekaan Indonesia nama-nama jalan tersebut  diganti menggunakan Bahasa Indonesia. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 7 Januari 2021. Hal. 3