“Saat masa kolonial, kawasan Sisi barat Nyamplungan menjadi ramai karena banyak kapal yang bersandar dari sungai Kalimas. termasuk orang-orang Eropa dulu banyak bermukim di kawasan tersebut, sehingga suku dan etnis bercampur menjadi satu,” Rahmat Sudrajat.

Menurut pustakawan sejarah Chrisyandi Tri Kartika, tanah-tanah di masa kolonial hukumnya masih berat sebelah.

Karena banyaknya suku etnis yang bermukim di kawasan tersebut, sehingga lambat laun warga Eropa berpindah ke arah selatan. “Jadi mereka warga Eropa akhirnya terdesak dan pindah di sisi Timur, yakni di pegirian,” katanya kepada Radar Surabaya.

Chrisyandi menuturkan warga Eropa juga berpindah ke kawasan Kapasan, dan Simolawang. Karena semakin banyaknya pendatang dari bangsa Arab, sehingga kampung-kampung disana ter-kelompokkan.

“Kalau melihat dari kampung di sana, ada kampung Arab karena mereka awalnya menyiarkan agama Islama, jam dan juga berdagang lambat laun bermukim di situ,” terangannya.

Seiring berubahnya zaman, juga Melayu dan kawasan Pecinan, karena kawasan sekitar Nyamplungan menjadi strategis bagi para pedagang dan akhirnya dijadikan tempat untuk bermukim.

Selain itu karena center (pusat) berada di Ampel, maka jalan di kawasan tersebut memang jalan tua, sehingga untuk syiar agama dahulu ada menggunakan banyak jalan untuk menuju ke arah Ampel, termasuk juga Nyamplungan.

“Dulu sebelum Eropa datang jalan itu menjadi tempat untuk menuju Ampel, sehingga Jalan Nyamplungan sudah lama ada, dan penduduknya dulu bermacam-macam ( semua etnis, Red),” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 23 April 2020. Hal. 3