Dahulu kawasan Stasiun Kota memang terkenal dengan S.asiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut yang merupakan stasiun sepuluh pat pemberhentian akhir Surabaya bagi kereta api yang melewati jalur selatan atau kereta api menuju jalur timur.

Mus Purmadani Wartawan

 Radar Surabaya

STASIUN ini merupakan salah satu saksi sejarah Surabaya melawan Penjajahan belanda.  Pemerhati Sejarah Kota Surabaya Chri- syandi Tri Kartika mengatakan, Kawasan Stasiun Semut ini terhubung dengan salah satu pusat belanja tertua di Surabaya, yakni Pasar Atom.  Kawasan ini menjadi pemuk penduduk padat penduduk.

“Dibangunnya jalur kereta api pada masa itu kian saya menambah deras arus pekerja dari daerah-daerah sekitaran Surabaya, seperti Lamongan, Sidoarjo, Gresik, dan lainnya. Para migran ini banyak terserap di sektor industri dan bekerja sebagai buruh kasar,  “katanya kepada Radar Surabaya.

Kehadiran Staatsspoorwegen (SS) di Surabaya membuat proyek perkeretaapian lintas Jawa semakin semarak.  Pabrik-pabrik gula yang mulai bermunculan di kawasan Sidoarjo dan Pasuruan diharapkan dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat yang berada pada waktu konsumsi gula di Hindia Belanda maupun di Eropa.

Jalur kereta api Surabaya-Pasuruan merupakan jalur kereta api pertama Staatsspoorwegen yang selesai pada tanggal 16 Mei Surabaya, “imbuhny. 1878.” Jalur ini melewati Bangil dan Sidoarjo, menghubungkan pabrik-pabrik gula di Sidoarjo dan Pasuruan dengan pelabuian.

Pada tahun 1880-an, Staatsspoorwegen kemudian mengembangken jalur kereta api yang menghu- bungkan Surabaya dan Sidotopo  dengan pelabuhan Kalimas.  Jalur tersebut selesai pada tanggal 1 Januari 1886 termasuk membuka stasiun barang baru di utara Fort Prins Hendrik (sekarang Stasiun Benteng).  (bersambung / nur)

Sumber: Radar Surabaya. 11 Maret 2021. Hal.3