Jalan Stasiun Kota tidak hanya tersohor dengan Stasiun Semut saja, tapi sejak dibangunnya stasiun di kawasan itu memang aktivitas piaga dan kinerja di sana yang terus tumbuh dan berkembang.  Bahkan hingga kini kawasan itu tetap menjadi kawasan ramai dan sibuk dengan hagai kegiatan perekonomian.

Mus Purmadani

Wartawan Radar Surabaya

SAAT ini, di Jalan Stasiun Kota dapat dilihat dari berbagai aktivitas perniagaan dan perekonomian lain.  Mulai dari pedagang barang bekas yang menjual tong dan jerigen-jerigen bekas, pertokoan, warung makan, hingga pusat perbelan-jaan (mal) dan perkantoran ada di sana.

Lokasinya yang strategi menjadi alasan utama kegiatan perekonomian muncul dan terus berkembang di kawasan itu.  Lokasi yang dekat dengan Sungai Kalimas, yang dahulu menjadi salah satu jalur perdagangan yang dilalui kapal-kapal yang membawa beragam komoditi.  Tak hanya itu, Jalan Stasiun Kota juga dekat dengan kawasan Jalan Karet (Chinesevorstraat), Jalan Kembang Jepun (Handelstraat), Jalan Rajawali (Heereenstraat), Jalan Jembatan Merah (Willenstraat), Jalan Veteran (Societeitstraat) hingga Jalan Pahlawan (  Aloon-Aloon Straat) yang dahulu memang menjadi jalan utama dan tempat berbagai aktivitas perekonomian dan pemerintahan yang berkembang.

“Saat itu, kawasan yang dekat dengan sungai sangat strategis. Karena jalur perdagangan kala itu kebanya kan menggunakan transportasi sungai, yakni dengan kapal, belum ada kendaraan darat atau kereta api, “papar pemerhati sejarah Kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Aktivitas perniagaan dan perekonomian ain di kawasan Jalan Stasiun Kota tersebut mampu bertahan hingga kini  Meskipun Stasiun Surabva Kota atau Stasiun Semut sudah tutup atau tidak difungsikan lagi, magnet kawasan tersebut untuk menjadi sentra perekonomian masih kuat.

“Tentunya yang berbeda dengan dulu, sekarang semakin berkembang. Kalau dahulu mungkin seputar perdagangan komoditi pertanian dan perkebunan, sekarang lebih beragam.  Even not only yang menjual secara fisik, tapi ada pula pusat perkentoran di imbuh Chrisyandi.  sana.

“Kawasan ini menjadi sentra perekonomian yang cukup ramai, bahkan sejak dibangunannya Pasar Atom sekitar tahun 1950-an dan Pasar Atom Mall, kegiatan perniagaan memang menjadi cirri khas kawasan tersebut.

“Bisa dilihat, kadang kalau siang hari jalan itu (Jalan Stasiun Kota) selalu padat kendaraan bahkan macet.  Bahkan kendaraan yang parkir di pinggir jalan juga banyak.  Itu menjadi bukti tetap hidupnya aktivitas perekonomian di sana, “pungkasnya. (* / Nur)

Sumber: Radar Surabaya. 13 Maret 2021. Hal.3