LISTRIK masuk Surabaya pada 26 April 1909 ketika perusahaan gas Nederlandache Indische Gas Maatschappij (NIGM) pada tanggal 26 April 1909 mendirikan perusahaan listrik yang bernama Algemeene Nederlandach Indische Electriciteits Maatschappij atau ANIEM.
Pemerhati sejarah Kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, arsitek bangunan PLN Gumblongan adalah Job dan Sprey yang berasal dari Belanda, Gedung yang telah dibangun sejak 1930 ini saat ini juga masih digunakan untuk kegiatan yang burkaitan dengan listrik. “Yaitu sebagai kantor PLN ujarnya laki-laki yang juga pustakawan Universitas Ciputra itu kepada Radar Surabaya.
Sementara itu, Sejarawan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro dalam bukunya yang berjudul Dua Kota Tiga Zaman mencatat, jika NIEM untuk Batavia. maka ANIEM untuk memasok kebutuhan listrik kota Surabaya.
Menurutnya ANIEM punya relasi dengan jawatan listrik Jawa Timur (OJEM), Solo (SEM), Banyumas (EMB), Rembang (EMR), Sumatra (EMS), Bali dan Lombok (EBALOM), serta lainnya.
“Pada zaman Jepang, banyak aset negara diam- bil alih oleh pemerintahan pendudukan, termasuk perusahaan listrik di Hindia Belanda. Semua listrik di Jawa pun jadi urusan Djawa Denki Djigjo Kosja,” katanya.
Masa awal revolusi jelas masa sulit. Menurut Purnawan, sebagian besar pembangkit rusak parah karena salah urus di masa pendudukan Jepang. Selain itu, juru teknik kelistrikan masih jadi kendala.
“Orang-orang yang paham soal listrik masih langka. Pembangunan listrik sempat terhambat oleh kedatangan tentara Belanda yang berambisi mengembalikan tatanan kolonial. Pada 1947, setelah tentara Belanda menduduki banyak kota, listrik-listrik di beberapa kota diperbaiki. termasuk di Malang dan Surabaya,” jelasnya. (bersambung/nur)

