Bangunan Bergaya Modern Karya Arsitek TopOleh Mus Purmadani
Kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya, mempunyai keunikan tersendiri. Selain dipenuhi pertokoan, juga memiliki arsitektur bangunan-bangunan klasik yang indah.
BEGITU banyak bangunan di sepanjang Jalan Tunjungan. Kntruksi bangunan-bangunan itu menyerupai etalase hasil karya Biro Arsitektur dan Arsitek terkenal seperti Profesor CP Wolf Schoemaker.
“Beliau merupakan profesor Institut Teknologi Banding (ITB) Bandung,” ujar Chrisyandi Tri Kartika, pemerhati sejarah Kota Surabaya, kemarin.
Profesor CP Wolf Schoemaker menghasilkan banyak karya bangunan seperti Villa Isola, Gereja Protestan Bandung, Gereja Santo Petrus, dan masih banyak lagi. Sedangkan di Surabaya, hasil karya Wolf Schoemaker ada di Jalan Rajawali, yaitu gedung Internasional Crediet en Handelsvereniging tahun 1927.
Lalu, di tahun 1928, Wolf Schoemaker mengarsiteki kolonial Bank di Jalan Jembatan Merah, yang sekarang menjadi PT Perkebunan Nusantara. Setelah itu, tahum 1925 Schoemaker bekerja sama dengan biro arsitektur Algemen Ingenieur Architectenbureau (AIA) merancang toko yang terletak di depan gedung de Vriendschap di Jalan Tunjungan.
“Toko ini dulu bernama Java Store. Gaya arsitekturnya berbeda dengan gedung-gedung di sekitarnya. Yang sering disebut sebagai arsitektur fungsional atau lebih dikenal gaya modern,” papar Chrisyandi.
Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya itu menyebutkan, pertokoan maupun kantor-kantor yang ada pada kanan kiri Jalan Tunjungan tempo dulu layaknya berada di mal atau plaza. Pada zaman kolonial itu masyarakat bisa melihat etalase setiap toko sambil menyusuri trotroar.
“Tanpa terlalu sering terkena sinar matahari langsung atau hujan,” katanya.
Sejak dulu kawasan Tunjungan sudah menjadi pusat bisnis yang ramai dikunjungi masyarakat karena konsep pertokoannya hingga trotoar. Konsepnya, pertokoan pun diberi penutup atau atau di jalur pedestrian. (*/rek)

Sumber : Radar Surabaya, 29Maret 2020 | Hal 3