RSUD Dr Soetomo dibangun pada 29 Oktober tahun 1938 di Viaduct Straat, Desa Karangmenjangan. Rumah sakit tersebut dibangun untuk membantu Rumah Umum Pusat (Oude CBZ) Simpang Surabaya yang ada sejak tahun 1920.
Selain itu juga menjadi rumah sakit pendidikan bagi mahasiswa kedokteran di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair).
Pemerhati Sejarah Kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, Dr Soetomo dan Prof Dr moestopo mejadi bagian kecil dari sekumpulan dokter yang ikut dalam perjuangan melawan penjajah.
Tidak hanya NIAS namun jga School Tot Opleiding van Indische (STOVIT) yang sekarang adalah Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), tepat disamping NIAS juga memanfaatkan Nieuw CBZ untuk rumah sakit pendidikan.
Ia menambahkan, NIAS dibangun pada 1921-1922 oleh Wiemans, arsitek ulung dari Burgerlijke Openhari Werken (BOW). Keberadaan BOW sama persis seperti Dinas Pembangunan Umum Pemerintah Kolonial Belanda yang mengelola masalah pembangunan gedung-gedung negara.
“Kekuasaan lembaga ini membawa pengaruh yang sangat besar sekali terhadap bentuk dan arsitektur bangunan negara kolonial di Indonesia. Seni bangunan negara yang dihasilkan setelah tahun 1900 mempunyai kualitas yang memenuhi standar praktis dan asitektonis,” jelas Pustakawan Universitas Ciputra Ini.
Menurutnya bangunan BOW yang mempunyai kualitas yang sama dengan bentuk dan arsitektur gedung NIAS antara lain gedung HARS (SMA kompleks dijalan Wijaya Kusuma), gedung STM I (Jalan Patua), Kantor Pos Besar (Jalan Kebon Rojo), dan Kantor Gubernur (Jalan Pahlawan). secara geografis, bangunan NIAS dan STOVIT berada dikelurahan karangmenjangan, Kecamatan Gubeng, gedung ini menghadap ke selatan. Di sebelah utara berbatasan dengan kampung Kedungsroko, disebelah selatan berhadapan dengan Nieuw CBZ. (bersambung/nur)

