Sebagai sekolah kedokteran tentunya membutuhkan fasilitas penunjang pengajaran. Disinilah peran Nieuw Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) atau yang sekarang bernama RSUD Dr Soetomo, selain sebagai pusat layanan kesehatan juga menunjang pembelajaran dan praktek di NIAS.

Gedung NIAS dibangung oleh Wiemans, arsitek ulung dari Burgerlijke Openhari Werken (BOW). Keberadaan BOW sama persis seperti Dinas Pembangunan Umum Pemerintah Kolonial Belanda yang mengelola masalah pembangunan gedung-gedung negara.

Pemerhati sejarah kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, bangunan ini bergaya arsitektur Indish, dengan ciri bangunan simetri. Pintu utama melengkung setengah lingkaran. Bentuk atapnya mengadopsi gaya Eropa, tetapi bangunan tropis-basah dengan atap yang tinggi dan bukaan untuk sirkulasi yang lebar. ” Ventilasi terbuat dari jendela besar dan bentuk lubang-lubang kecil persegi empat di atas jendela, “katanya kepasa Radar Surabaya.

Ciri lain bangunan tropis-basah di zaman kolonial adalah adanya selasar teras yang panjang, yang berfungsi sebagai filter sinar matahari langsung dan tempias air hujan. Sirkulasi udara mengalir dengan nyaman. Bentuk bangunan menggambarkan bentuk simetri untuk menambah kesan monumentak. “Gaya arsitektur kolonial Indisch sangat melekat pada bangunan ini. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pintu utama setengah lingkaran atau lengkung pada bagian atas,” katanya.

Live draw hk

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya ini menambahkan, para mahasiswa di NIAS kala itu melakukan praktek ataupun magang di Nieuw CBZ. Apalagi saat itu Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting yang terkenal dengan sebutan Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ), yakni rumah sakit Simpang ditutup tahun 1923.

“Jadi keberadaan RSUD Dr Soetomo sangat penting, selain pelayanan kesehatan juga menjadi rumah sakit pendidikan, ” tukasnya. (bersambung/nur)