NIAS merupakan sekolah kedokteran yang dibangun di Surabaya tahun 1913 untuk warga pribumi (Jawa). Alumnus NIAS dengan cara resmi disebutkan dengan gelar Dokter Djawa, meskipun beberapa pendidiknya mayoritas ialah dokter dokter militer Belanda.
Kemudian tahun 1948 pemerintah Hindia Belanda membangun Tandheelkunding Institut yang disebut cabang Universitas Van Indonesie Jakarta. Dan kembali membuka NIAS bernama Faculteit der Geneeskunde yang sebagai cabang Universiteit van Indonesie Jakarta.
Pemerintahan Republik Indonesia baru sah membuka Universitas Airlangga Surabaya dan jurusan yang tercipta waktu itu diantaranya kedokteran pada 10 November 1954.
“Karena perkuliahan dan ujian di Universitas Airlangga masih bergantung pada Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada, karena itu pemerintahan selanjutnya melakukan pemisahan. Sesudah pemisahan itu, Universitas Airlangga berkedudukan sejajar dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada dengan status sebegai universitas negeri,” jelas pemerhati sejarah kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.
Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya ini menambahkan, Fakultas Kedokteran cabang Surabaya, yang baru dipidah dari induknya Fakultet Kedokteran Universitet Indonesia pada 1954, dipadukan ke Universitas Airlangga.
Meski begitu, peranan Nieuw Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) atau kini disebut RSUD Dr Soetomo tetap tak tergantikan. Rumah sakit tersebut hingga kini tetap menjadi satu kesatuan dengan fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Peran RSUD Dr Soetomo dalam perkembangan pendidikan kedokteran dan dunia medis memang tak dapat dipungkiri. Dari menjadi rumah sakit mariner dan melayani segmen khusus hingga menjadi rumah sakit rujukan nasional, RSUD Dr Soetomo menjadi saksi kemajuan kedokteran hingga saat ini. (bersambung/nur)

