Menelusuri Sejarah RSUD Dr Soetomo (16). Lokasi Nieuw CBZ dan NIAS yang Berdekatan.
19 Januari 2023
Tujuannya untuk mempermudah para mahasiswa mengikuti perkuliahan dan mendekatkan tempat kuliah dan laboratorium, maka dibangunlah gedung Nederland Indische Artsen School (NIAS) di wilayah Karang menjangan Ini.
Berdirinya NIAS memberikan peluang yang sangat besar bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh pendidikan dokte. Pemerintah Kolonial hanya mengizinkan dua tempat pendidikan dokter di Indonesia, yaitu Jakarta dan Surabaya. NIAS merupakan lembaga tambahan untuk penduduk pribumi memperoleh pendidikan dokter selain di Jakarta (School tot Opleiding Van Inlandsche Artsen/Stovia).
Pemerhati sejarah kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan fungsi bangunan gedung NIAS secara umum sebagai tempat proses belajar mengajar bagi mahasiswa yang bercita-cita menjadi dokter. Setelah menjadi milik Universitas Airlangga (Unair), fungsi gedung tidak mengalami perubahan.
“Bagian gedung yang memiliki ruang yang luas difungsikan untuk aula pertemuan dan ruang kuliah. Fungsi ruang-ruang kecil lebih difokuskan untuk memberikan tempat pada masing-masing bagian, antara lain bagian mikrobiologi, histologi, patologi, dan anatomi.
Selain itu, gedung berfungsi sebagai kantor tata usaha fakultas dan perpustakaan serta Student Centre,” jelasnya.
Kedokteran resmi menjadi fakultas bersamaan dengan mulai diresmikannya pembukaan Unair, tepat hari pahlawan tanggal 10 November 1954 oleh pemerintah. Sebelum menjadi fakultas di lingkungan Unair, pendidikan kedokteran di Surabaya merupakan cabang dari fakultas kedokteran UI di Jakarta.
Saat pendudukan Jepang pada tahub 1942 waktu Perang Dunia II, NIAS ditutup. Karena pendidikan dihentikan, para siswa diperkenankan melanjutkan pelajarannya di Jakarta, yaitu setelah dibukanya Perguruan Tinggi Kedokteran pada tahun 1943 dengan nama Ika Dai Gakku. (bersambung/nur)

