PEMERHATI sejarah kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, kontraktor Nederlandsche Aenneming Mij menerapkan setiap kavling menggunakan kontruksi yang dibuat seringan mungkin. “Yakni konstruksi kerangka beton bertulang dengan isian setengah bata,” ujarnya kepada Radar Surabaya.

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya ini menambahkan, karena lokasi rumah sakit di arag timur-barat, penyerapan panas di area ini diminimalkan. Perluasan ini teah dibagi menjadi lima bidang bangunan, yang dikerjakan secara berurutan.

“Pada bidang pertama meliputi dua paviliun kesehatan besar, paviliun tifus, departemen medis terkait, pembangunannya dimulai 17 September 1938 dengan waktu konstruksi 16 bulan,” jelasnya.

Chris mengatakan bangunan utama adalah bangunan bertingkat paling penting dan paling mahal. Bagian kontruksi, kompleks ini dimulai terlebih dahulu sehingga bidang lain yang lebih kecil dapat pembangunannnya menyusul. “Bangunan ini memiliki ciri khas. Bangunan dua lantai untuk keperawatan menggunakan lft pasien dan layanan katanya.

Selain itu, penutupan kaca dinding luar ruangan disepanjang bagian depan bangsa rumah sakit dan tembok pembatas antar ruang. Kemudian ada juga tempat disinfeksi untuk tempat tidur, juga ruang udara untuk tempat tidur dibelakang halaman. “Dinding bangsal rumah sakit tertutup terbalik,” ungkapnya. (bersambung/nur)