
Janet Rine Teowarang | Peraih Australian Award
Kekuatan ekonomi dapat dimulai dari para perempuan. Asal diberi peluang, kesempatan, mereka bisa menjadi pilar kokoh untuk keluarga.
Penelitian salah satu dosen Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra, Janes Rine Teowarang, tahun ini memperoleh penghargaan dari Australia Awards in Indonesia. Selanjutnya, Janet melakukan proyek yang berhubungan dengan penelitiannya. Proyek itu didanai pemerintah Australia melalui Skema Hibah Alumni dan dikelola oleh pemberi penghargaan.
“jadi, saya sudah tiga tahun meneliti sustainable fashion. Nah, dalam perjalanan itu, saya memperoleh penghargaan,” ujar Janet, ditemui disalah satu ruang mengajarnya di FDB di Universitas Ciputra di Surabaya, akhir pecan lalu.
Proyek penelitian dilakukannya dengan menggandeng perajin dengan alat bukan mesin (ATBM) disalah satu desa, didaerah Pasuruan. Didaerah itu, ada salah satu desa yang sebagian besar warganya bekerja sebagai penenun. Namun, karena keterbatasan pengetahuan yang ada disana, para penenun bekerja seadanya, sehingga proses kerajinan tenun didesa itu bak mati suri.
“saya lihat disana, banyak rumah-rumah warga itu yang punya ATBM. Akan tetapi, mereka bekerja hanya kalau ada pesanan. Itu pun yang dikerjakan membuat keset,” papar Janet.
Dengan adanya alat dan keterampilan yang mereka miliki, para perajin bisa membuat sesuatu yang lebih dari keset. Mereka pun bisa bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak pernah berhenti.
Atas dasar pemikiran itulah, Janet memutuskan menggandeng salah satu desa di pasuruan itu, target proyek itu, para perajin terpilih dari desa itu akan membuat koleksi busana, berkolaborasi dengan label KaIND. Sebelumnya, Janet telah memberikan pelatihan pada 10-13 juli 2019 untuk membuka wawasan para perajin didaerah itu mengenai sustainable fashion.
“yang mengikuti pelatihan selama dua hari itu 50 peserta. Mereka adalah 35 perajin dan 15 anak muda. Saya adakan pelatihan terlebih dulu, juga supaya mereka saling mengenal dan bisa berjejaring,” ungkap Janet.
Nanti hanya akan terpilih lima anak muda untuk mengerjakan final dari proyek itu. Yang tidak termasuk dalam proyek final itu dapat bekerja sama untuk membuat proyek mandiri.
“didaerah itu anak-anak mudanya tidak tertarik untuk melanjutkan menenun. Alasan mereka karena factor ekonomi. Mereka lebih memilih untuk jadi buruh pabrik,” kata Janet.
Tak ingin melepas peserta pelatihannya begitu saja. Janet pun mendampingin pseseta pelatihan yang akan membuat proyek secara mandiri.
Semangat Janet untuk menjalankan proyek dengan semangat women empowerment itu didapat setelah melihat para perajin di Desa Tenun, Pasuruan. Para perajin itu 80 persennya adalah perempuan, ibu rumah tangga.
“disana, tenun itu menjadi salah satu sumber penghasilan utama. Nah, yang mengerjakan itu sebagian besar para Ibu rumah tanga,” ujar Janet.
Menurut Janet, ada tiga pilar yang harus berdiri dalam bisnis sustainable fashion, yaitu ekonomi, environment, dan social. Jika tiga pilar itu tidak terpenuhi, dampaknya tidak ada yang mau melanjutkan menjadi perajin.
Janet ingin agar kemampuan para perajin itu dimanfaatkan dan dikembangkan melalui peluang yang ia dapatkan. Peluang itu akan berkembang jika mereka meningkatkan keterampilan dan mengelola manajemen bekerja dengan baik.itu yang perlu didampingi sampai mereka bisa mandiri.
“Ada tiga pilar yang harus berdiri dalam bisnis sustainable, yaitu ekonomi, dan social. Jika tiga pilar itu tidak terpenuhi, dampaknya tidak ada yang mau melanjutkan menjadi pengrajin.”
Memberi kebanggan pada Anak Muda
Menyaksikan banyak anak muda didesa itu yang memilih bekerja dipabrik dari pada mengembangkan tenun membuat Janet prihatin. ATBM yang ada dirumah hanya dimanfaatkan sekedarnya. Jika ATBM itu dapat dioptimalkan, anak-anak muda itu bisa memiliki penghasilan dari rumah.
Itu yang membuat perempuan kelahiran 12 juni 1977 itu bergerak untuk bekerja sama dengan para perajin. Saat ini didesa itu anak-anak mudanya lebih memilih bekerja sebagai buruh pabrik. Sementara para ibu meneruskan bekerja sebagai penenun dengan garapan seadanya, tentu saja jauh dari cukup, sebab tidak setiap hari para perajin itu menggarap pesanan.
“bayangkan, waktu saya kesana, mereka itu sedang mengerjakan tenun keset padahal dengan skill dan alat yang ada, mereka itu bisa melakukan seusatu yang lebih. Apalagi, para perajin didesa itu sudah terorganisasi, Cuma belum berkembang,” kata Janet. Janet ingin proyek itu dimulai dengan terbukanya mindset para perajin dulu. Bagi janet, itu penting.
“itu supaya mereka ngak minder dan tahu bagaimana mengembangkan skill tenun yang mereka punya. Karena dari 50 peserta, ngak semuanya akan ikut sampai ke final project, berkolaborasi dengan KaIND,” papar perempuan kelahiran Jakarta itu.
Ibu 2 puti itu menggandeng memilih lima anak muda dari desa itu supaya perajin tenun yang ada didesa itu memiliki penerus. Sebagian orang tua yang saat ini menenun hanya bisa bekerja pagi.
Janet sudah oernah membuah Fashion menggunakan dengan kaun tenun Pasuruan. Salah satunya, setelah busana berwarna cokelat peach dan setelan biru dengan outer cokelat pekat. Diceritakannya, busana itu memiliki motif bunga krisan, sedap malam, serta hamparan pasir Gunung Bromo yang dianggap sebagai ciri khas daerah Pasuruan.
“Nantinya mereka akan membuat koleksi busana seperti yang saya buat ini. Namun, kreasi dan desainnya sesuai dengan kreativitas mereka,” ujar Janet.
Sumber: Surya. 28 Juli 2019
