Tugasnya sebagai Juru Pelihara Kompleks Percandian Penataran selama 23 tahun, di Blitar, Jawa Timur. Bondan Siswanto (52) tidak hanya menjalani tugasnya dengan mencabuti rerumputan di sela-sela batu candi. Ia juga menggugah pengunjung untuk meneropong jiwa zaman cagar budaya itu. Atas usahanya, Bondan dianugerahi sebagai salah satu Juru Pelihara Cagar Budaya Terbaik 2015 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
OLEH NAWA TUNGGAL
Cagar budaya menyimpan kisah sejarah manusia pada zamannya. Di situ masih ada nilai kehidupan manusia yang dapat kita pelajari untuk menjalani kehidupan sekarang,” kata Bondan ketika ditemui di kompleks percandian Penataran, Senin (5/10).
Meneropong jiwa zaman masa lalu, sebagai usaha Bondan menambah pengetahuan bagi pengunjung dengan mengisahkan relief bangunan percandian yang dinilai tetap relevan dengan kehidupan sekarang.
Misalnya, dari bangunan Pendapa Teras, ada relief-relief mengisahkan cerita Panji, meliputi Sang Seyawan Sri Tanjung, Bubuksah dan Gagang Aking, serta penggalan kisah lain yang belum diketahui.
Rp 1.000 per hari
Bondan menjadi juru pelihara candi itu sejak 1992 dengan honor Rp. 1.000 per hari. Kalau dihitung, sebuah ia menerima honor sekitar Rp 30.000. untuk mendapatkan nafkah tambahan, setiap hari Minggu Bondan menjaga parkir kendaraan pengunjung candi. Di rumah, Bondan juga memelihara burung kenari sebagai usaha kecil-kecilan.
“Ada dua hal yang membuat saya tetap bertahan menjadi juru pelihara candi meski honor yang saya terima sangat kecil. Pertama, tidak mudah mencari pekerjaan. Yang kedua, saya menyukai sejarah,” kata Bondan.
Bondan menceritakan itu, Bondan diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada 2007 atau 15 tahun kemudian sebesar Rp 300.000 per bulan. Sepanjang 15 tahun, naik 10 kali lipat, tetapi tetap saja gaji itu masih sangat rendah.
Berkat kesetiannya itu, Bondan diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) PADA 2007. Bondan sedikit merasa lega karena gajinya dinaikkan menjadi Rp. 800.000 per bulan. Berkat kesetiannya pula, pada 2 Oktober 2015, Bondan menerima anugerah Juru Pelihara Cagar Budaya Terbaik 2015 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan permuseuman Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Blitar memberi tahu ada lowongan pekerjaan hororer untuk juru pelihara Candi Penataran,” kata Bondan.
Ketertarikan dan rasa ingin tahu Bondan terhadap Candi Penataran akhirnya kesampaian. Menjadi juru pelihara candi memang digaji sangat rendah. Namun, Bondan senang karena cakrawala pengetahuannya soal sejarah selalu terkembang.
“Senang sekali bisa bertemu banyak ilmuwan sejarah dari banyak negara, seperti seorang arkeolog dari Jerman, Lydia Kieven,” kata Bondan.
Lydia Kieven dikenal sebagai arkeolog Jerman yang mendalami berbagai percandian di dunia, termasuk di Jawa Timur. Ia meminjamkan ketertarkannya terhadap relief-relief cerita Panji.
Sampai sekarang tetap tidak diketahui adakah hubungan masa lalu antara masyarakat di sekitar Candi Penataran dan masyarakat suku Maya.
Menurut Bondan, Lydia beberapa kali mengunjungi kompleks percandian Penataran. Tidak hanya melihat dan pergi, Lydia juga kerap berdiskusi dan menyampaikan pandangan-pandanganya secara ilmiah terhadap bangunan bersejarah yang ada di Penataran.
“Seperti pada relief ini. Ada seorang laki-laki mengenakan tekes (tutup kepala). Lydia Kieven menyebutkan, penggambaran tekes ini mirip dengan yang dikenakan suku Maya di Amerika Tengah,” kata Bondan.
Sampai sekarang tetap tak diketahui, adakah hubungan masa lalu antara masyarakat di sekitar Candi Penataran dan masyarakat Suku Maya.
Keprihatinan
Kompleks percandian Penataran kerap disingkat Candi Penataran saja. Ini merujuk pada nama lokasinya di Desa Penataran, Kecamataan Nglegok, Blitar. Menurut Bondan, meski sudah banyak diteliti orang asing dan dari dalam negeri, tampaknya candi itu masih membutuhkan berbagai penelitian lanjut.
“Penelitian soal pertalian sejarah dengan suku Maya masih sangat di butuhkan. Di Pendapa Teras juga masih banyak penggalan kisah dari relief yang hingga sekarang belum juga masih banyak penggalan kisah dari relief yang hingga sekarang belum juga disimpulkan judul kisah alisnya,” kata Bondan.
Kompleks percandian Penataran merupakan yang terluas di Jawa Timur. Areanya 12.946 meter persegi. Bangunannya membentang dari arah barat laut ke timur laut, memunggungi puncak Gunung Kelud yang ditemukan pada 1815 oleh Letnan Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Inggris Thomas Stamford Raffles (1781-1826). Raffles kemudian mencupliknya menjadi bagian dari bukunya, History of Java.
Inilah yang kemudian menginspirasi penelitian berikutnya pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada 1867, Andre de la Porte bersama seorang asisten residen bernama J Knebel meneliti kompleks percandian tersebut hingga membukukannya pada 1900 dengan judul, De Ruines van Penataran.
Sebelumnya, terdapat nama-nama peneliti J Crawfurd, Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1844), Jonathan Rigg (1848), dan NW Hoepermans (1866). Hoopermans berhasil menginvertarisasi isi kompleks percandian.
Beberapa bangunan penting masih tersisa. Dari pintu masuk, melintasi dua dwarapala atau area penjaga pintu dengan tulisan angka tahun 1242. Saka atau 1320 Masehi. Kemudian, berurutan dapat dijumpai bangunan-bangunan penting meliputi Bale Agung, Pendapa Teras, Candi Angka Tahun, Candi Naga, dan Candi Induk.
Candi Angka Tahun kerap disebut Candi Brawijaya karena bentuknya dijadikan lambing Kodam V/Brawijaya. Candi Induk adalah candi terbesar di antara semua bangunan yang ada.
Bondan merawat semua itu dengan hati. Kesadaran sejarah dan mengenali jiwa zamannya membuat Bondan terus bertahan dengan bangga meski di tengah keprihatinan kian meluruhnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap budaya bangsa sendiri.
KOMPAS, KAMIS, 12 NOVEMBER 2015

