Virus ada ratusan jenis. Tidak semua menghadang manusia. Sebagian populasi virus hanya hidup pada hewan selain hanya pada tanaman. Sejumlah virus hewan ada yang dapat menyerang manusia juga. Kita menyebutnya penyakit zoonosis. Habitat virusnya di tubuh hewan, namun bisa juga hidup di tubuh manusia. Virus corona habitatnya di kelelawar, yang bisa menyerang tubuh manusia. Virus dengue menumpang pada nyamuk, lalu menyerang tubuh manusia juga.
Kita mengenal virus gila anjing, yang pada tubuh anjing membuang anjingnya sakit, lalu menularkan virusnya kepada manusia dengan cara melalui gigitannya. Virus polio dengan cara menelannya, virus hepatitis A lewat makanan-minuman, virus hepatitis tipe lainnya lewat darah dan hubungan seks.
Demikian pula cara masuk virus herpes maupun HIV (human immunodeficiency virus). Virus cacar dapat melalui udara selain kontak langsung, sebagaimana umumnya virus flu, virus otak meningitis serta encephalitis. Virus mata conjunctivitis melalui selaput lendir mata, selain beberapa virus di udara yang setiap saat bisa memasuki tubuh lewat selaput lendiri hidung dan tenggorokan.
Pintu masuk virus
Semua bibit penyakit yang menyerang manusia, mulai dari bibit penyakit terbesar golongan parasit sampai terkecil berupa virus yang tak kasat mata, punya pintu masuknya masing-masing memasuki tubuh manusia maupun inangnya. Sudah disebut di atas, ada yang lewat udara pernapasan, atau menelannya, lewat selaput lendir rongga dan saluran pernapasan, selaput lendir organ kelamin, atau bisa juga lewat darah, selain kontak langsung orang-ke-orang, serta sentuhan kulit ke kulit.
Yang lewat darah dapat menempuh beberapa cara, melalui jarum suntik, jarum infus, jarum transfusi darah, alat tattoo, pisau cukur, peralatan bedah dan peralatan dokter gigi, berciuman (deep kissing) serta hubungan seks sendiri, baik yang wajar maupun yang tidak wajar. Untuk DB virus dengue memerlukan nyamuk, dan nyamuknya khusus nyamuk kebun Aedes sp untuk memindahkannya ke tubuh manusia lalu memasuki aliran darah.
Selain secara naluri virus memilih cara masuknya ke dalam tubuh manusia, virus juga akan dengan sendirinya mencari dan menuju organ tubuh yang menjadi habitatnya. Virus polio menempuh alirah darah tubuh manusia setelah menelannya, kemudian virus menuju sistem saraf lalu bersarang di sana, menimbulkan kelumpuhan.
Virus radang otak juga lewat alirah darah bersarang di selaput otak, atau organ otaknya sendiri, sebagaimana halnya virus gila anjing. Virus hepatitis mencari organ hati, virus parotitis (gondongan) lewat alirah darah mencari kelenjar ludah bawah telinga, virus cacar air (varicella) dan cacar (variolla) selain virus herpes bersarang di kulit, dan selaput lendir.
“Tubuh yang dimasuki oleh virus apa pun, belum tentu selalu harus jatuh sakit. Peperangan berlangsung di dalam tubuh yang sudah dimasuki virus oleh karena tubuh memiliki perangkat kekebalan”
Dr. Handrawan Nadesul
Belum tentu jatuh sakit
Tubuh yang dimasuki oleh virus apa pun, belum tentu selalu harus jatuh sakit. Peperangan berlangsung di dalam tubuh yang sudah dimasuki virus, oleh karena tubuh memiliki perangkat kekebalan, atau sistem imun, baik berupa cairan dalam darah maupun berupa sel darah putih. Keduanya secara bermitra menyerbu tempat di mana virusnya masuk.
Namun belum tentu perangkat kekebalan tubuh punya semua senjata penumpas untuk melawan virus yang sudah telanjur masuk. Atau kalaupun punya senjatanya namun oleh karena, misalnya, jumlah virus yang masuk sangat banyak, dan atau jenis virusnya tergolong ganas, maka akhirnya tubuh kalah perang.
Pada ketika tubuh kalah perang inilah, setelah melampaui masa tunas penyakit virusnya, untuk virus corona sekitar 14 hari, maka tubuh pun tumbang, dan penyakit virusnya mengejewantah.
Bisa juga terjadi virus yang sudah memasuki tubuh berhasil hanya sebatas dijinakkan saja oleh perangkat kekebalan tubuh, sehingga virus gagal menjadikan tubuh jatuh sakit. Virusnya hanya pingsan, maka penyakit terbilang gugur, misal pada polio. Polionya batal muncul. Hanya bila kekebalan tubuh berhasil menumpsa virusnya, maka penyakit virusnya gagal menjadikan tubuh yang dimasukinya akan jatuh sakit. Setelah gejala penyakit virus antara lain demam tinggi, lalu menyembuh sendiri.
Ihwal perangkat kekebalan tubuh sendiri awalnya berkembang secara alami, yakni sewaktu bayi memperoleh dari ibu sejak dari kandungan, sehingga bayi baru lahir bisa terbebas dari penyakit infeksi oleh kekebalan warisan tersebut. Setelah lewat beberapa bulan, kekebalan alami bayi menurun, dan memerlukan kekebalan buatan dari imunisasi.
Kekebalan alami berkembang dari riwayat terserang infeksi. Makin sering dan beragam infeksi dialami tubuh, makin lengkap perangkat kekebalan tubuh yang terbentuk. Sistem imun tubuh sudah mengenal dari pengalaman jatuh sakit siapa virus atau bibit penyakit lain yang pernah menjadi musuhnya. Jadi begitu terserang ulang oleh bibit penyakit yang sama, kekebalan sudah mengenalnya, lalu menumpasnya karena sudah punya jenis senjata pemusnahnya.
Anak dari negara yang lingkungannya belum bersih, kekebalan alami terhadap virus polio, misalnya, lebih tangguh, dibanding anak dari negeri yang lingkungannya sudah serba bersih, berkat tertular virus polio dari lingkungan yang belum bersih. Maka booster vaksinasi polio bagi anak yang lingkungannya bersih perlu lebih sering diulang, karena tubuhnya belum kebal secara alami terhadap polio dari lingkungannya yang bersih. Demikian juga halnya untuk jenis penyakit virus berasal dari lingkungan lainnya, atau virus flu, virus saluran pencernaan, dan virus infeksi mata.
Selain itu diperlukan obat antivirus yang baru pula untuk menumpasnya, yang untuk novel corona sekarang ini belum ditemukan, apalagi ditemukan vaksinnya.
Tidak demikian halnya untuk jenis (strain) virus baru. Kita tahu semakin bertambah saja jenis virus baru akibat berubah tabiat (mutasi) oleh pengaruh lingkungan, sebut saja rumah kaca, perubahan iklim, bocor lapisan ozon, dan polusi udara. Maka berlahiranlah virus ebola, flu burung, dan lain-lain virus yang bisa menyerang manusia secara tidak biasa. Belum kemungkinan sengaja merekayasa penciptaan jenis virus baru yang belum ada sebelumnya.
Kita tahu jenis virus corona sendiri ada beberapa, dan yang sekarang jenis novel corona, yang tentu memerlukan jenis kekebalan baru untuk menumpasnya. Tubuh yang pernah kebal sebelumnya oleh virus corona jenis lain, tentu belum kebal terhadap virus corona sekarang. Selain itu diperlukan obat antivirus yang baru pula untuk menumpasnya, yang untuk novel corona sekarang ini belum ditemukan, apalagi ditemukan vaksinnya.
Bangun sistem imun yang tangguh
Tiada pilihan lain untuk menghadapi musim virus baru sekarang ini, selama belum ada obat penangkal dan belum pula ada vaksinnya, kita hanya mungkin memperkuat, mempertangguh sistem imun tubuh saja. Perangkat kekebalan tubuh dibangun. Caranya dengan melakoni gaya hidup sehat.
Gaya hidup sehat berarti tepat memilih menu harian, karena dari apa yang kita makan, itu yang akan mengisi bahan pembangun sistem imun tubuh kita. Utamanya asam amino selain vitamin dan mineral. Makin lengkap semua zat gizi yang tubuh butuhkan kita konsumsi, makin terpenuhi semua bahan untuk membangun perangkat kekebalan tubuh.
Telur salah satunya. Mengapa telur? Oleh karena telur paling lengkap kandungan asam amino esensialnya, selain ada vitamin dan mineral penting. Untuk membangun kekebalan perlu kelengkapan vitamin selain mineral. Sebut saja mineral zine (Zn).
Orang yang kalau makan milih-milih (picky) tidak lebih tangguh ketahanan fisiknya dibanding yang pemakan segala. Tentu konsepnya tetap, yakni menu seimbang (balanced diet), lebih banyak porsi karbo, kemudian protein, dan paling sedikit lemak.
Ragam menu perlu lebih dari satu macam setiap santap, agar terpenuhi 45 zat gizi yang tubuh butuhkan, yang sebagian dari itu zat gizi yang bersifat esensial, atau zat gizi yang tidak boleh tidak harus tersedia dalam menu harian oleh karena tubuh tidak bisa membuatnya. Hanya bila menu harian lengkap, perangkat kekebalan tubuh memungkinkan dibangung.
Gaya hidup lain setelah menu harian yang tepat, tubuh kita kodratnya tidak boleh berdiam diri melainkan harus senantiasa bergerak. Bergerak berarti memacu jantung menderaskan aliran darah. Sistem imun berlangsung lewat darah, juga bila ada bibit penyakit yang masuk, aliran darah yang membawa perangkat kekebalan mencapai titik sasaran tempat bibit penyakit masuk, perlu lancar dan deras.
Pada awalnya sistem imun tubuh bermuara di saluran pencernaan. Pelihara dan rawatlah sistem pencernaan dengan memilah menu yang menyehatkan saja. Bukan daging melulu (animal-based food) melainkan perlu lebih banyak sayur-mayur (plant-based food), perlu cukup serat, biji-bijian, kacang-kacangan, selain bebuahan.
Flora usus atau kurnan bersahabat dalam usus perlu dirawat agar fungsi usus optimal, termasuk mampu mengenyahkan bibit penyakit yang memasuki mulut. Probiotik inilah yang selalu perlu disuburkan oleh yang menjadi makanannya yakni prebiotok, bisa diperoleh dari jenis bebuahan serta bawang-bawangan.
Selebihnya tentu hidup tertib teratur, jadwal makan, tidur, jeda, dan bekerja diatur selalu tertib, sehingga tubuh terbiasa efisien mengerjakan fungsi setiap organ tubuhnya. Tak kalah penting jiwa perlu bugar juga, jauhkan pikiran negatif, tidak membiarkan dirundung stress, kejarlah kebahagiaan untuk setiap jam kehidupan.
Makin galau jiwa makin berat beban fisik akibat penderitaan jiwa dihibahkan kepada badan. Jauhkan itu oleh karena itu juga terkait dengan makin menurunnya sistem imun.
Perhatian lebih perlu diberikan seiring dengan bertambahnya umur, sistem imun semakin mengendur, makin perlu upaya lebih untuk tidak menjadi telampau runtuh dengan cara memilih gaya hidup sehat sepanjang hayat.
Sumber: Intisari, Maret 2020






