Dalam kondisi pekerjaan yang sudah mapan dengan penghasilan relative besar di bidang pelayaran, Teddy Kristiadi (50) pada 2012 memutuskan keluar dari pekerjaannya. Lantas, ia menggeluti larva lalat untuk mengelola sampah organis di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat. Suatu bidang garapan yang tak banyak dilirik dan disukai orang.
OLEH SAMUEL OKTARA
Selain penuh tantangan, dari pihak keluarga, terutama anak-anak dan istrinya, yang kuranga setuju atas keputusan yang diambilnya, dia juga harus merintis kegiatan ini dari nol. Namun, tantangan tersebut tak menciutkan tekad Teddy untuk bergelut dengan sampah.
Teddy yakin, melalui teknologi biokonversi, yakni mengoversi sampah organis menjadi pupuk cair dan padat dengan menggunakan larva lalat, dapat menyelesaikan dengan mudah dan cepat problematika sampah, khususnya sampah organic di Kota Bandung. Sampah di Kota Bandung mencapai 400-600 ton per hari.
“Metode ini dapat mengurangi bau sampah karena larva lalat cepat mengurangi bau sampah karena larva lalat cepat mengurai sampah organic sehingga tak perlu menunggu sampah sampai membusuk dengan bau menyengat,” kata Teddy yang langsung keluar dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan Singapura yang bergerak di bidang jasa pelayanan di lingkungan pengeboran minyak lepas pantai, tiga tahun lalu.
Ketika mulai merintis, ia membuat tempat pemrosesan sederhana beratap terpal di Kompleks Antabaru 11, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung.
Dengan pengetahuan dari internet, laki-laki alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta, 1987, itu menggunakan larva lalat tentara hitam (Hermenia illucens), yang sudah di kenal di dunia sangat efektif sebagai makhluk pengurai sampah organic dan kotoran ternak.
Dipilihnya lalat jenis ini karena dapat mengurai sampah organic basah dalam waktu satu hingga tiga hari. Pengelolaan sampah menjadi sederhana dan mudah karena residunya menjadi bakal pupuk padat dan pupuk cair serta larva dewasa atau maggot dapat terpisah dengan sendirinya.
Larva ini dapat pula mengurai sampah tanpa henti sampai tahap metamorgosis berikutnya, juga akan mendominasi dan menurunkan perkembangan larva dan lalat lain, seperti lalat hijau. Pasalnya, cairan lalat ini tidak disukai oleh serangga yang lain. Lalat tentara hitam ini juga dapat mengurangi perkembangan lalat pembawa penyakit.
Perkembangan lalat ini pun tergolong cepat. Yang betina dapat bertelur 500-900 butir dan uniknya lalat ini bertelur pada bagian atas atau samping areal sampah organic sehingga mudah untuk dipindah. Telur akan menetas setelah empat hari dan larva dalam usia tujuh hari sudah sangat rakut melahap sampah organic.
Lalat ini mempunyai pula oeningkatan kemampuan reproduksi hingga mampu melebihi jumlah produksi sampah organic.”Oleh karena itu, perlu disiapkan bak-bak penampung sampah yang lebih banyak karena dalam waktu 50 hari dibutuhkan 20 sampai 100 kali lipat bak penampung,” ujarnya.
Teddy telah memproyeksikan dari cairan larva dapat dihasilkan pupuk cair seharga Rp 3.000 per liter dan larva dewasa untuk pakan ternak Rp. 5.000 per kilogram. Harga ini jauh di bawah harga pasar, seperti harga pelet, pakan ikan, Rp. 10.000 per kg. Dengan harga yang jauh lebih murah daripada jarga pasar diharapkan dapat membantu petani untuk mendapatkan pupuk dan akan ternak berkualitas.
Di luar negeri, teknologi biokonversi sudah banyak di terapkan dengan menetapkan sampah organic dalam bak penampungan yang sudah mengandung larva lalat ini. Bak itu terbuat dari bahan fiber, ember, semen atau drum.
Teddy berinovasi dengan membuat bak berbentuk persegi panjang dari bahan triplex atau kayu. Dia lalu bernegosiasi dengan Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung supaya dapat dipasok sampah.ke tetangga, rumah makan atau restoran, pasar, dan mal. Dia mengumpulkan sampah dapur, sisa makanan, kulit buah, sayur busuk, juga daging sisa.
Teddy juga dilarang mendirikan tempat pengolahan sampah di kawasan tersebut karena lokasinya berada di lahan milik Perum Perhutani. Naasnya, belum genap setahun, tempat pengolahan sampah organic itu pun roboh diterpa angina kencang.
Teddy sempat goyah, dia sempat beberapa waktu bekerja lagi di bidang pelayaran. Rumah pun sempat dijual karena tabungannya habis terkuras.
Bangkit
Dia kembali bekerja sama dengan PD Kebersihan Kota Bandung mulai Januari 2015. Teddy mendapat dukungan investor asal Korea yang menjanjikan modal Rp 2,6 miliar. Tahap pertama telah dikucurkan sekitar Rp 150 juta.
Pihak PD Kebersihan menyediakan bangunan berukuran 8 meter x 12 meter di atas lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jelengkong seluas 9 hektar di Desa Warga Mekar, kecamatan Balaeendah, Kabupaten Bandung. Letak TPA itu sekitar 20 kilometer dari Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat.
Teddy membangun empat bak penampungan sampah berbentuk persegi panjang yang masing-masing berukuran panjang 12 meter dan lebar 50 sentimeter (cm) dengan kapasitas total sekitar 400 kilogram. Larva lalat ini memiliki kecepaan biokonversi atau mengurai sampah sekitar 15 kg per meter persegi per hari.
Laki-laki jangkung ini juga telah melakukan uji coba dari larva dan pupuk yang telah dihasilkan. Salah satunya di kawasan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, pada tanaman brokoli dan kacang kapri serta di Lembang untuk tanaman cabai dan kacang panjang.
Teddy bermimpi mengelola sampah dalm skala besar. Pupuknya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktifitas pertanian, khususnya warga di sekitar TPA. Sayangnya, harapan Teddy itu belum kesampaian. Pada Mei 2015, pasokan sampah dari PD Kebersihan mandek yang menyebabkan ribuan larva mati karena tak memperoleh makanan.
“Hal ini membuat investor hengkang dan kembali ke Korea. Namun, mereka memberi tahu, inovasi yang saya kembangkan ini akan mereka terapkan di sana. Mereka melihat ini dapat menjadi bisnis raksasa,” kata Teddy.
Teddy sampai saat ini tetap gigih mengolah sampah organic di TPA Jelengkong meski dia juga menyayangkan mengapa PD Kebersihan begitu sulit memasok sampai.
“Saya sangat yakin, jika pengelolaan sampah organic ini dilakukan dengan betul, dalam waktu 1 tahun 6 bulan, persoalan sampah di Kota Bandung akan tuntas,” ujarnya.
KOMPAS, RABU 11 NOVEMBER 2015

