
Siyam Sumartini
Lagu itu merepresentasikan pemikiran siyam tentang kondisi sampah yang kini bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Bertahun tahun tinggal berdampingan dengan tempat pembuangan akhir sampah Kota Madiun membuat perempuan 50 tahun itu jengah. Tumpukan sampah menyebabkan bau busuk yang menusuk hidung, serbuan lalat, dan lingkungan menjadi kumuh.
Lingkungan yang “sakit” itu pun menyebabkan warga penghuninya rentan terserang beragam penyakit, seperti diare dan gatal – gatal. Klimaksnya terjadi saat kampungnya menjadi daerah endemis demam berdarah. Banyak warga terserang dan nyawa mereka pun terenggut.
“Saat itulah saya merasa situasi seperti ini tidak boleh dibiarkan. Saya harus berbuat sesuatu. Tetapi apa yang harus dilakukan,”ujar Siyam di rumahnya. Sabtu ( 2/9 ) lalu.
Sumber masalahnya sampah. Ironisnya, semakin sampah dijauhi, semakin besar masalah yang ditimbulkan. Siyam pun akhirnya berpikir bagaimana caranya menyelami sampah agar berubah menjadi sesuatu.
Awalnya, dia berkreai dengan sampah. Beragam barang bekas dikumpulkan dan dijadikan bahan aneka produk kerajinan. Bunga cantik yang teruat dari sendok plastik bekas, tas unik atau goody bag berbahan plastik keresek, dan beberapa barang lain.
Beragam kreasi daur ulang itu dia pamerkan di sejumlah acara dan dijual. Harganya pun tak murah. Sebagai gambaran, sebuah keranjang air minum kemasan dari gelas plastik dan koran ekas laku dijual Rp. 250.000. Adapun goody bag unik dijual Rp. 5.000 per unit.
Siyam menularkan kesuksesan kreasi daur ulangnya kepada tetangganya. Dia menunjukan barang bekas yang awalnya tak bernilai bisa di ubah menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi. Hasil penjualan itu bisa digunakan untuk membantu perekonomian keluarga.
Siyam juga mengajak warga di lingkungannya mengelola sampah rumah tangga dengan mendirikan Bank Sampah Matahari pada 2010. Tujuannya mereduksi sampah rumah tangga dengan cara memilih dan memilah sampah yang bernilai ekonomi atau bisa didaur ulang.
“Dengan adanya proses pemilahan dan pemilahan, sampah yang dibuang ke TPA berkurang. Di sisi lain, sampah yang dipilah bisa dijual langsung dan menghasilkan uang. Apabila menginginkan nilai tambah, sampah dikreasi menjadi produk daur ulang,”ujar Siyam.
Tidak mulus
Meski tujannya baik, perjuangan mengajak warga tidaklah mulus, sebab sampah berkonotasi negatif. Sampah dia berhasil meyakinkan warga tantang pentingnya mengelola sampah agar tidak menjadi bencana.
Dua tahun kemudian, perjuangan Siyam mulai berbuah manis. Tak hanya sukses memengaruhi lingkungan tempat tinggalnya di kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Pada 2012 dia berhasil memengaruhi pemerintah daerahnya untuk mengembangkan bank sampah di seluruh kecamatan.
Kini, Bank Sampah Matahari yang dirintsnya telah direplikasi di 27 kelurahan di Kota Madiun. Setiap kelurahan ada satu hingga dua bank sampah sehingga total terdapat 50 bank sampah di “Kota Pecel” itu. Pegawai negeri sipil di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Madiun ini didapuk menjabat sebagai Direktur Bank Sampah Induk Kota Madiun.
Kesuksesannya mengelola Bank Sampah Matahari semakin diakui
Sampah ini juga direplikasi di 106 desa dan kelurahan di Kabupaten Madiun serta Kabupaten Magetan.
Agar kegiatan bank sampah semakin menarik, Siyam menciptakan lagu “Sampah”. Sosialisasi yang dilakukan juga tak selalu lewat acara formal. Instruktur senam itu biasa melakukannya di sela acara sosial masyarakat, seperti arisan atau seusai senam sehat.
Dia ercita cita memuat sebuah gerai untu memamerkan aneka produk kreasi daur ulang dari 156 ank sampah.
Gerai itu manjadi kebanggaan sekaligus ajang promosi dan pemasaran yang isa dijangkau setiap tamu yang berkunjung ke Kota Madiun, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Magetan. Harapannya, tamu bisa membeli sebagai buah tangan. Bagi yang tertarik bisa memesannya langsung kepada produsen.
Jumlah elompok agar merea bisa menikmati hasilnya bersama – sama. Jika rencana itu berhasil, Siyam berharap bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat, terutama ibu rumah tangga.
Melalui bank sampah, Siyam juga merangkul masyarakat agar aktif pada kegiatan pos pelayanan terpadu agi ayi ataupun lanjut usia. Hasil penjualan produk kerasi ank sampah isa membiayai kegiatan posyandu agar masyarakat semakin bersemangat mengikutinya.
Siyam lahir, tumbuh, dan menempuh pendidikan di Kota Madiun. Luusan sekolah teknik menengah ini tak punya latar belakang pendidikan lingkungan. Saat kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana strata satu ataupun strata dua, dia mengambil bidang studi administrasi negara.
Siyam mengatakan ingin terus mengabdikan diri kepada masyarakat di bidang lingkungan. Bukan demi
Masyarakat mencintai sampah.
Dengan cinta itulah, mereka bisa mengubah sampah sebagai sumber bencana manjadi sesuatu yang bermanfaat atau menghadirkan berkah bagi umat manusia.
Mustahil rasanya menghentikan produksi sampah secara total. Namun, bukan hal sulit mereduksi sampah dan mengelolanya dengan baik. Pengelolaan inilah yang harus terus diperbarui, untuk menyesuaikan dengan kondisi sampah kekinian.
Sumber : Kompas. 18 September 2017. Hal 12
