Mengenal Produk Layanan Keuangan Mi.Readers Digest.Juni 2015.166-167

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menggandeng bank maupun lembaga keuangan non-bank (LKNB), sedang giat memperkenalkan produk layanan keuangan mikro. Program yang dinamai Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif) tersebut memiliki tujuan mulia : Menambah daya penetrasi produk keuangan di masyarakat, serta meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh Sri Rahayu Widodo, deputi komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK.

“Literasi keuangan di Indonesia baru 21,84%. Sementara di negara tetangga Malaysia sudah 60-70%, dan Singapura malah mencapai 98%,” ujar Sri dalam acara Semiloka Perlindungan Finansial dan Sosial bagi Perempuan di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW), bekerja sama dengan Citi Indonesia. “Yang unik, walau banyak masyarakat belum atau tidak paham keuangan, masyarakat Indonesia justru sudah punya tabungan, deposito, memanfaatkan pegadaian, bahkan menginvestasikan uang mereka di reksadana. Angkanya sebesar 59,74%.”

Layanan keuangan mikro sendiri adalah layanan produk dan jasa keuangan dari berbagai industri jasa keuangan, yang bersifat low cost atau terjangkau bagi masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah. Agar layanan itu dapat langsung dirasakan oleh masyarakat dari kalangan paling bawah sekalipun, dibuat kios-kios layanan keuangan mikro dan direkrut agen-agen layanan keuangan tanpa kantor. Di tempat dan melalui agen-agen itu para nasabah keuangan mikro bisa mendapatkan berbagai layanan keuangan mikro, termasuk pengiriman uang.

Di bawah ini adalah produk layanan keuangan mikro yang digadang-gadang OJK untuk masyarakat Indonesia :

TABUNGAN.

Berbeda dengan produk tabungan pada umumnya, produk tabungan layanan keuangan mikro yang diberi nama TabunganKu tidak mengenakan biaya administrasi bulanan kepada nasabah. Setoran awalnya pun hanya Rp 20 ribu, dengan minimum setoran Rp10 ribu. Bandingkan dengan tabungan regular yang setoran awal mencapai Rp 500 ribu. Tentu saja, dengan kemudahan tersebut, maka suku bunga TabunganKu lebih rendah dari tabungan regular. Asal, niatnya memang untuk menabung – bukan untuk bertransaksi aktif.

 

ASURANSI.

Sepertiga penduduk Indonesia, atau 77 juta jiwa, tidak memiliki simpanan yang dapat di andalkan, jika mereka mendapatkan musibah yang tak terduga. Di situlah asuransi mikro dapat memberikan jalan keluar bagi keluarga berpenghasilan rendah, untuk mengalihkan risiko, agar tidak semakin terperosok ke jurang kemiskinan. Itu sebabnya asuransi mikro biasanya menawarkan premi murah – di bawah Rp 50 ribu. Misalnya, asuransi mikro khusus demam berdarah – hanya Rp 20 ribu per orang per tahun, kecelakaan diri, panen gagal dan sebagainya.

 

KREDIT.

Konsep kredit mikro berawal dari Grameen Bank, yang dirintis oleh Profesor Muhammad Yunus di era ‘70-an, yang memberikan pinjaman kecil tanpa agunan kepada masyarakat miskin Bangladesh. Tujuannya agar mereka dapat menggunakan uanga pinjaman sebagai modal memulai usaha sendiri, sehingga dapat menghasilkan dan menciptakan hidup yang lebih sejahtera. Itu dilakuka untuk menjembatani kesenjangan akibat banyak masyarakat yang tidak bankable – atau tidak mampu memenuhi persyaratan untuk menikmati layanan perbankan regular.

 

INVESTASI.

Sektor investasi pun tak dilupakan oleh layanan keuangan mikro, karena ada pula reksadana mikro, yang nilai awal investasi hanya Rp 100 ribu. Padahal, biasanya untuk mulai investasi reksadana dibutuhkan dana minimal Rp 500 ribu. Selain itu juga ada layanan pembiayaan investasi logam mulia dengan cicilan ringan. Nasabah dapat memiliki logam mulia di akhir cicilan, baik untuk disimpan sebagai investasi jangka panjang maupun dijual, bila terdapat kebutuhan.

 

UC Lib-Collect

06-2015