Menggarap Pasar Cokelat Sekaligus Meningkatkan Gairah Petani Kakao.

Tanpa Pemanggangan, Omzet Tembus Rp 300 Juta

Jawa Pos. 11 Februari 2024. Hal. 17

Sumber daya cokelat yang berlimpah memantik ide kreasi Olivia Putri pada bisnis artisan cokelat dengan proses produksi yang khas. Produknya sudah mampu menembus pasar luar negeri.

SEBAGAI penggemar cokelat, Olivia Putri dan seorang partner- nya melihat ada peluang besar di
Indonesia yang notebene punya resource cokelat melimpah. Sejak 2015, mereka pun menekuni dan. membuka bisnis cokelat. Sesuai lokasi saat memulai bisnis tersebut, Bali, mereka memberi nama Ubud Raw Chocolate & Cacao.

Olivia menuturkan, saat membuat bisnis Ubud Raw Chocolate & Cacao, fokus yang ingin dia kejar adalah membuat cokelat sehat, tapi tetap dengan rasa yang enak. “Untuk itu, kami membuatnya dari bahan biji kakao fermentasi, tanpa melalui proses roasting dan hanya menggunakan gula kelapa sebagai pemanis alami. Sehingga cokelat kami fully plant based,” papar perempuan yang saat ini berstatus co-founder Ubud Raw Chocolate & Cacao itu.

Lebih detail, Olivia menjelaskan produk Ubud Raw Chocolate & Cacao. Menurut dia, semua produk cokelat yang dia buat menggunakan biji kakao fermentasi tanpa proses pemanggangan. Tidak seperti cokelat umumnya yang diproses menggunakan proses pemanggangan. “Hal ini karena unroasted cacao memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi dibandingkan kakao yang di-roasting,” bebernya.

Saat ini ada tiga produk yang diproduksi dan ditawarkan oleh Ubud Raw Chocolate & Cacao.
Pertama adalah fresh raw chocolate. Cokelat yang ciptakan dengan menggabungkan susu kelapa ke dalam kakao. “Susu kelapa yang digunakan untuk cokelat ini juga merupakan cold press coconut milk yang kami olah sendiri,” ungkapnya.

Selanjutnya, ada bean to bar chocolate. Produk itu dibuat dari kakao yang diperoleh dari wilayah seluruh penjuru Indonesia, meng- gunakan pemanis gula kelapa, tanpa susu dairy. “Untuk varian ini, kami menciptakan cokelat dari house blend kami yang kami sebut volcanic beans dan juga ada single origin dari daerah tertentu seperti Jembrana, Bali,” urainya.

Terakhir, ada ceremonial cacao, minuman yang terbuat dari 100 persen kakao tanpa penambahan atau pengurangan apa pun sehingga memiliki kandungan nutrisi utuh seperti biji kakao. “Produk yang ini akan cocok untuk orang yang menyukai cita rasa kakao yang bold karena terbuat dari cacao block, bukan dari powder,” jelas Olivia.

Untuk saat ini, Olivia dan partnernya berhasil mengembangkan bisnis menjadi lebih ekspansif.
Total dibantu sekitar 20 karyawan. Dengan range harga produk kisaran Rp 30 ribu-Rp 300 ribu bergantung varian dan ukuran, Ubud Raw Chocolate & Cacao mampu meraup omzet sekitar Rp 300 juta per bulan. Padahal, pada saat baru memulai, modal pertamanya hanya sekitar Rp 1,5 juta. “Bisnis semakin ber- kembang karena selain dapat pasar domestik, kami juga dapat pasar overseas. Jadi, ada juga pengiriman pesanan ke Eropa, South Africa, dan Australia,” ujarnya.

Menurut Olivia, pelaku usaha artisan cokelat di berbagai skala saat ini semakin berkembang. Hal itu, menurut dia, menjadi sinyal bahwa potensi pasarnya cukup besar. “Saat ini khususnya tren bean to bar chocolate mulai berkembang di Indonesia. Kami sendiri baru saja membentuk Asosiasi Bean to Bar Chocolate Indonesia (ACBI). Kami bersama- sama ingin meningkatkan gairah petani kakao untuk menghasilkan kakao fermentasi berkualitas karena pasarnya ada,” ungkap Olivia. (agf/c6/fal)