Liong barong kini sudah bukan milik etnis Tionghoa saja, melainkan sudah menjadi budaya yang universal. Sekarang sudah terjadi alkulturasi di antara para pemain liong atau barong.
Tujuh tahun lalu, untuk pertama kali Liong Barong masuk ke Tangsi Prajurit Batalyon Infanteri 315 Garuda di Kota Bogor, Jawa Barat. Selama enam bulan, para prajuritdilatih sampai mahir memainkan seni pertunujkan tradisional tersebut. Kelompok yang disebut “ Liong Yonif 315” itu pun turut memeriahkan pesta rakyat Cap Go Meh.
Arif Himawan (50), Ketua Persatuan Liong Barong Singa Rajawali Kota Bogor, adalah sosok yang “menggiring “ liong masuk Tangsi Yonif 315, seizin Komandan Yonif 315 saat itu, Letnan Kolonel Dani Alkadri. Bersama teman-teman, dia melatih prajurit hingga terampil mementaskan seni tradisional asal Tiongkok itu. Arifin, yang juga menjadi salah satu motor penggerak perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor, gembira dengan antusiasme para prajurit.
Di zaman Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, mustahil kesenian liong bisa masuk ke asrama tentara. Bahkan, untuk muncul di muka umum saja, seni tradisi itu dilarang. Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan , dan Adat Istiadat China menyebutkan, praktik keagamaan yang menampilkan elemen “China” hanya boleh dilakukan oleh keluarga atau perorangan.
Setelah Era Reformasi, Presiden KH Abdurrahman Wahid menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No 6/2000 tentang Pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Kebijakan Gus Dur itu membebaskan masyarakat keturunan Tionghoa untuk menjalankan agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya tanpa perlu izin khusus sebagaimana berlangsung sebelumnya. Hal itu berlaku sejak 17 Januari 2000.
Perubahan kebijakan pemerintah terhadap perkembangan kebebasan beragama dan bagi masyarakat keturunan Tionghoa . seiring dengan kebebasan alam demokrasi, budaya leluhur mereka pun kian tumbuh dan diekspersikan secara leluasa di ruang public.
Menurut Arifin, jika Gus Dur tidak menerbitkan Keppres No 6/2000, liong tidak mungkin bisa masuk tangsi. Tanpa kebebasan berekspresi, liong barong juga tidak akan bisa tampil terbuka secara meriah seperti dalam pesta rakyat Cap Go Meh di Bogor dan di kota-kota lain di Indonesia.
“Jadi, peran Gus Dur buat orang Tionghoa berarti sekali. Di mata kami, Gus Dur adalah pahlawan pluralism,” katanya saat ditemui di Sekertariat Cap Go Meh di Bogor, Selasa (16/2).
Saat ini, liong barong tidak hanya tampil pada tahun baru imlek dan Cap Go Meh, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sepanjang tahun. Peresmian pusat perbelanjaan, perumahan baru, perkawinan, atau sunatan saja kerap menampilkan liong barong.
Akulturasi
Bagi Arifin, liong barong kini sudah bukan milik etnis Tionghoa saja, melainkan sudah menjadi budaya yang universal. Sekarang sudah terjadi akulturasi di antara pemain liong atau barong. Mereka tidak lagi hanya dari etnis Tionghoa, tetapi sudah dari berbagai macam etnis. Pembuat liong barong di Bogor yang sudah di kenal, misalnya, justru dari etnis Sunda yang beragma Islam, yaitu Lili Hambali.
Arifin Himawan, yang akrab disapa Ahim, bersama teman-temannya, antara lain Guntur Santoso, Mardi Lem, David Kwa Hidayat, Suhendy Arno, Frangky, mendorong bangkitnya kembali perayaan Cap Go Meh di kota Bogor yang selama 30 tahun di larang pemerintah.
Lewat pesta rakyat Cap Go Meh yang digelar setiap tahun sejak 15 tahun lalu, telah terjadi akulturasi budaya. Panitia melibatkan orang dari berbai agama karena sifatnya pesta rakyat. Kegiatan ini memperkuat komunikasi lintas agama.
“Cap Go Meh sendiri kita sebut sebagai ajang pemersatu bangsa,” kata Ahim yang juga aktif dalam kegiatan Badan Sosial Lintas Agama Kota Bogor.
Kebetulan Ahim dipercaya sebagai Ketua Panitia Cap Go Meh di Kota Bogor yang bakal digelar di sepanjang Jalan Suryakancana sampai Jalan Siliwangi, Senin ini. Selain menampilkan tradisi Tionghoa, pentas itu juga melibatkan kesenian dari berbagai daerah.
Tahun ini, pergelaran Cap Go Meh di kota Bogor untuk kedua kalinya menghadirkan tim kesenian dari Taiwan. Ada juga festival drum band dan Bogor Fashion Carnaval. Dengan begitu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pesta budaya yang bisa dinikmati khalayak luas.
Ratusan ribu warga Bogor dan luar Kota Bogor rutin menyaksikan pesta rakyat yang dilaksanakan 15 hari setelah tahun baru Imlek itu. Sejumlah restoran dan pedagang makanan/minuman juga turut menangguk untung dari kegiatan itu.
Ratusan tahun sudah Cap Go Meh diselenggarakan di Kota Bogor. Pentas ini kian kukuh berkat dukungan Pemerintah Kota Bogor dan Kementrian Pariwisata. Apalagi, Presiden Joko Widodo pernah menghadiri pembukaan kegiatan itu tahun 2015. Pada 2016, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menurut rencana akan hadir pada pembukaan pesta rakyat itu. Beberapa duta besar dari sejumlah Negara juga menyatakan akan dating.
“Tahun 2016 ini, kami mengusung moto ‘Bogor untuk Indonesia dan Indonesia untuk internasional’. Semoga kegiatan ini bisa menjadi contoh yang baik bagi kita semua,” kata Ahim.
ARIF HIMAWAN
- Lahir : Bogor, 24 Februari 1966
- Istri : Yuda S Putri (42)
- Anak :
- Priscilla Finda Himawan (20)
- Natasha Finda Himawan (20)
- Pendidikan : Fakultas Ekonomi UKI Jakarta 1991
- Organisasi :
- Kepala Bidang Pembinaan PB Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI)
- Ketua persaudaraan Liong Barong (2001-2007)
Ketua Persatuan Liong Barong Singa Rajawali Kota Bogor (2006-sekarang)
(FX PUNIMAN,
Wartawan Tinggal di Bogor)
UC LIB-COLLECT
KOMPAS.SENIN.22 FEBRUARI 2016.HAL.16

