ERA globalisasi menuntut adanya transaksi perbankan yang lebih cepat dan mudah. Itulah yang mendorong penggunaan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) terus meningkat. Dalam lima tahun terakhir, jumlah kartu yang dipakai untuk bertransaksi melalui APMK, khususnya Anjungan Tunai Mandiri (ATM), meningkat dua kali lipat dari 48,9 juta unit pada 2010 menjadi 98,6 juta unit pada 2014. Dari jumlah itu, nilai transaksinya mencapai Rp4,4 triliun dari 4,07 miliar kali transaksi. Sebanyak 65%-nya merupakan transaksi tunai.
Meningkatnya jumlah dan nilai transaksi perbankan melalui mesin ATM membuat pihak bank semakin gencar mengakomodasi nasabah mereka. Tahun lalu, ada empat bank yang tercatat gencar menambah mesin ATM mereka, yakni Bank Mandiri sebanyak 3.000 mesin, lalu BNI, BCA, dan BRI masing-masing 2.000 mesin. Keempat bank tersebut menguasai 67% pangsa pasar ATM di Indonesia.
Jika melihat jumlah mesin ATM secara nasional sekitar 100.000 unit, sebenarnya belum sesuai kebutuhan masyarakat. Itu tergolong sedikit bila dibandingkan dengan negara-negara seperti China dan India. Untuk menyiasatinya, interkoneksi antarbank melalui ATM menjadi hal yang tak terhindarkan.
Di Indonesia, kini ada empat perusahaan penyedia jaringan ATM antarbank. ATM Bersama dikelola oleh PT Artajasa Pembayaran elektronis beranggotakan 83 bank dan lembaga nonbank yang terhubung melalui 49.000 mesin; ATM Prima dikelola oleh PT Rintis Sejahtera beranggotakan 55 bank dan lembaga nonbank yang terhubung melalui 63.664 mesin; ATM Alto dikelola oleh PT Daya Network Lestari; dan ATM Link dikelola oleh PT Sigma Cipta Caraka.
Interkoneksi ini dianggap sebagai win-win solution atara pihak bank dan nasabah, sehingga nasabah mendapat kemudahan untuk melakukan transaksi antarbank sementara pihak bank memperoleh keuntungan dari fee (biaya) transaksi.
UC Lib-Collect
Insight. 3 Mei 2015
ERA globalisasi menuntut adanya transaksi perbankan yang lebih cepat dan mudah. Itulah yang mendorong penggunaan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) terus meningkat. Dalam lima tahun terakhir, jumlah kartu yang dipakai untuk bertransaksi melalui APMK, khususnya Anjungan Tunai Mandiri (ATM), meningkat dua kali lipat dari 48,9 juta unit pada 2010 menjadi 98,6 juta unit pada 2014. Dari jumlah itu, nilai transaksinya mencapai Rp4,4 triliun dari 4,07 miliar kali transaksi. Sebanyak 65%-nya merupakan transaksi tunai.
Meningkatnya jumlah dan nilai transaksi perbankan melalui mesin ATM membuat pihak bank semakin gencar mengakomodasi nasabah mereka. Tahun lalu, ada empat bank yang tercatat gencar menambah mesin ATM mereka, yakni Bank Mandiri sebanyak 3.000 mesin, lalu BNI, BCA, dan BRI masing-masing 2.000 mesin. Keempat bank tersebut menguasai 67% pangsa pasar ATM di Indonesia.
Jika melihat jumlah mesin ATM secara nasional sekitar 100.000 unit, sebenarnya belum sesuai kebutuhan masyarakat. Itu tergolong sedikit bila dibandingkan dengan negara-negara seperti China dan India. Untuk menyiasatinya, interkoneksi antarbank melalui ATM menjadi hal yang tak terhindarkan.
Di Indonesia, kini ada empat perusahaan penyedia jaringan ATM antarbank. ATM Bersama dikelola oleh PT Artajasa Pembayaran elektronis beranggotakan 83 bank dan lembaga nonbank yang terhubung melalui 49.000 mesin; ATM Prima dikelola oleh PT Rintis Sejahtera beranggotakan 55 bank dan lembaga nonbank yang terhubung melalui 63.664 mesin; ATM Alto dikelola oleh PT Daya Network Lestari; dan ATM Link dikelola oleh PT Sigma Cipta Caraka.
Interkoneksi ini dianggap sebagai win-win solution atara pihak bank dan nasabah, sehingga nasabah mendapat kemudahan untuk melakukan transaksi antarbank sementara pihak bank memperoleh keuntungan dari fee (biaya) transaksi.
UC Lib-Collect
Insight. 3 Mei 2015

