Hobi mengoleksi”action figure” tokoh superhero menjadi keasyikan tersendiri. Dua sahabat, Rene Isaac dan Efran, tak berhenti hanya mengoleksi “action figure”, tetapi membuatnya menjadi diorama. Jangan membayangkan diorama kusam yang biasa ditemui di museum. Diorama ini jauh lebih menarik.
OLEH SUSIE BERINDRA
Adegan pertarungan di hutan penuh salju yang membuka film Avengers :Age of Ultrom dipilihRene dan Efran untuk dijadikan diorama. Action figure lima tokoh Avengers, yaitu Iron Man, Hulk, Captain, America ,Hawkeye, Thor, dan Black Widow, berada dalam satu kotak kaca. Tentu saja, mainan itu dibentuk mirip sekali dengan tokoh aslinya dengan ukuran 1/6 dari ukuran aslinya. Bukan hnya kemiripan wajah, mainan juga dibentuk sesuai dengan gaya tangan dan kaki superhero. Diorama, Avengers ini dipamerkan di Gandaria City saat pemutaran film Avengers age of Ultrom.
Rene dan efran membuat diorama yang dipesan dari country dDirector PT Walt Disney Indonesia sebagai distributor film Avengers: Age of Ultrom.” Kami hanya diberi sedikit gambaran mengenai adegannya. Untuk bikin dioramanya hanya butuh waktu dua minggu,” ujar Rene.
Sebelumnya pada maret, Rene dan Efran mengejutkan pengungjung Jakarta Toys and Comocs Fair 2015 dengan menampilkan diorama adegan film Iron Man 3, Yaitu Final Battle-Container terminal. Ratusan pengunjung saat diorama berukuran 2,5 meter x 2,5 meter x 3 meter itu dibuka penutup kain hitamnya. Mereka langsung mengitari diorama sambil memotret dengan ponselny.
Adegan pertarungan antara Tony Stark dan Aldrich Killian dianjungan pengeboran minyak digambarkan dengan apik. Tentu saja diorama itu dilengkapi action figure keluaran Marvel dengan berbagai pose,. Ledakan api ditengah anjungan pun menjadi semakin mirip dengan filmnya.
Rene mengungkapkan, salah satu keunikan yang dimiliki Red Diorama, semua bagian yang dipakai untuk membuat diorama dihubungkan dengan magnet kecil.” Semuanya ringan kok, meski tampak besar. Bahkan, satu kerangka yang dipakai untuk membangun anjungan itu lebih ringan dari pada action figure-nya yang ukurannya1/6 ukuran manusia,” ujar Rene.
Selain diorama Iron Man 3, Rene dan Efran, yang mendirikan Red Diorama ini juga memamerkan 10 diorama lainnya yang lebih kecil, seperti Gundam battle Robots dan Batman : Dark Knight yang menampilkan adegan The Joker Shot The School Bus dan The Avengers.
Mimpi mendunia
Ide membuat diorama diawali ketika Rene datang ke sebuah pameran mainan dan melihat diorama buatan Efran. Rene membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk mengetahui siapa yang membuat diorama. Untuk mengajak Efran supaya mengerjakan ide-ide gila pun membutuhkan waktu yang lama.
Bukan tidak percaya, melainkan butuh waktu untuk memikirkan membuat usaha diorama lebih besar. Biasanya saya hanya membuat diorama dengan ukuran paling besar 60 senti meter x 40 senti meter,”ujar Efran, yang sebelumnya berjualan persel di wilayah pasr minggu, Jakarta selatan.
Pertemuan Rene dan Efran kemudian menghasilkan karya diorama The Avengers dengan ukuran 1,6 meter x 1,5 meter. Awalnya, Rene hanya mengunggah foto diorama itu di jejaring sosial facebook yang langsung mendapat 1.000 like. Banyak komentar yang menanyakan dimana bisa membeli diorama tersebut. Tak lama, tidak tanggung-tanggung, salah satu adegan yang melibatkan lima pahlawan itu laku sampai ke Amerika Serikat dengan harga 1.300 dollar AS.
Beberapa minggu kemudian, Efran memberitahu ada pameran mainan. Nah, kalau mau ikut, enggak mungkinkan kami hanya membawa satu diorama. Saya tantang Efran untuk membuat Batcave (markas rahasia Batman),” ujar Rene.
Untuk mencari lahan yang paling bagus dan ideal dalam pembuatan diorama, Rene dan efran mencoba beberapa lahan . sebelum bertemu Rene, Efran menggunakan lahan tanah liat dan clay. Namun, kedua lahan itu tak bisa digunakan untuk membuat diorama yang lebih besar.
Setelah mencobah tripleks yang paling tipis dan bahan abs, akhirnya mereka memilih bahan PVC yang lebih lentur untuk dibentuk. Sementara untuk mainan, Red diorama menggunakan produk hot Toys yang bisa didapatmelalui distributornya di Indonesia, Multi Toys and Game.
Mimpi untuk menjangkau dunia pun sedikit demi sedikit mulai tercapai. Saat pertama kali mengikuti pameran mainan, Red Diorama sama sekali tak mendapat penghasilan. Dipameran yang kemarin, omzet kami hampir Rp 100 juta. Sekarang ini pemesanan bukan hanya dari Indonesia, melainkan juga dari luar negeri,”ujar Rene.
Saat ini, mereka sedang mengejar target pengerjan pesanan diorama dari sejumlah negara dan dalam negeri. Semua pengerjaan pesanan dikerjakan di showroom yang berada dikawasan puri indah,Jakarta Barat. Salah satu diorama yang sedang dikerjakan adalah Batman : Dark Knight yang menampilkan adegan The joker Shot The school Bus dan The Avengers.
Untuk melebarkan sayapnya, Red Diorama sedang dalam proses bekerja sama dengan pihak lain dari Malaysia dan Amerika Serikat. Kalau setahun lalu, mereka hanya mempunyai modal sekitar Rp 50 juta, kinidengan adanya tambahan kerja sama diharapkan bisa menembangkan usahanya.
Kami diajari oleh Chip Perrin dari Amerika Serikat yang mau bekerja sama menjadi distributor supaya tidak mengeluarkan biaya besar untuk pengiriman barang, bisa memakai container, dan disalurkan lewat distributor. Kalau mengirim satuan biayanya bisa sampai 900 dollar AS,’” kata Rene.
Untuk penggemar mainan yang ada diluar negeri, harga satu diorama yang bisa memuat lima mainan akan lebih murah dibandingkan dengan megoleksi mainannya saja. Misalnya, untuk satu action figure The Avengers bisa dibeli dengan harga 1.400 dollar AS sampai 7.000 dollar AS sehingga untuk satu set atau lima tokoh Avengers bisa menghabiskan 2.400 dollar AS. Bandingkan saja jika mereka membeli Diorama yang sudah memuat semua tokohnya dengan harga 1,300 dollar AS.
Dengan melihat pasar yang masih banyak belum tergarap, Red Diorama pun masih mempunyai mimpi mendirikan tempat yang lebih besar yang bisa dijadikan workshop. Semua dilakukan untuk memuaskan pengoleksian mainan
Rena Isaac
- Lahir: Jakarta,10 juni 1980
- Pendidikan: Waverley college,Sydney,Australia (1996-1999)
- Bachelor of commerce, curtin University, perth, Australia (2000-2003)
- Pekerjaan: -PT AFEX Indonesia (2008-sekarang)
- pendiri Red Diorama (2014-sekarang)
Efran
- Lahir; prabumulih,16 1983
- Pendidikan: S-1 jurusan desain komunikasi visual universitas Trisakti (2001)
- Pekerjaan: perusahaan Advertising (2005-2006)
- guru seni rupa SMP dan SMA pelita II, Jakarta (2007-2009)
- guru seni rupa global Art (2007-2009)
- pendiri Red Diorama (2014-sekarang)
Sumber: Kompas.20-Mei-2015.Hal_.16

