Setelah jalur kereta api Surabaya-Pasuruan tersambung, kemudian dilanjutkan jalur Bangil-Sengon, Sengon-Lawang, Lawang-Malang, Stasiun Gubeng merupakan terbesar dan menjadi kereta api jalur seletan.

 

MESKI saat itu jalur lainnya seperti Batavia (Jakarta) hingga Bandung ketika itu masih dalam perencanaan, jalur di Jawa Timur ini sudah cukup lyas jangkauannya.

Menurut Pustakawan Sejarah Chriyandi Tri Kartika, dalam beberapa tahuun setelah rampung pembangunan jalur penghubung antara stasiun Gubeng hingga Malang Kota, dilakukan perencanaan kembali pembangunan jalur rel oleh pemerintahan Kolonial Belanda.

Terutama untuk menggabungkan Jakarta-Bogor-Bandung-Surabaya. Namun pembangunan tersebut ternyata secara bertahap sudah dilakukan oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) melalui jalur Jakarta-Bogor-Bandung.

“Pemerintah pun berencana untuk membeli lintas jaliur rel dari NISM. Namun apabila penbelian tersebut batal maka pemerintah akan membangun sendiri melalui jalur timur sungai Ciliwung,” kata Chriyandi.

Target pemerintah mengadakan jalur itu untuk mengangkut hasil perkebunan teg, karet, kina yang ada di daerah Priangan. Terutama untuk membuka daerah Priyangan Timur dan menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mendesaknya pembangunan jalur rel kereta api ketika itu, menurut Chrisyandi dikarenakan semakin melimpahnya hasil produksi. Sehingga perusahaan swasta terus mengajukan permintaan untuk pembuatan rel kereta api.

“Sekitar tahun 1880 dikeluarkan konsesi kepada beberapa perusahaan kerta api swasta seperti NISM hingga SS,” pungkasnya.