Setelah diresmikan oleh Gubernur Jenderal Van Lansberg tanggal 20 Juli 1879, ada dua kereta api yang berangkat dari stasiun Gubeng menuju Pasuruan.
Ketika itu kereta pertama berangkat pukul 07.00 dan tiba di Pasuruan pukul 09.17. Sementara kereta kedua dari Stasiun Semut berangkat pukul 14.30, sembilan menit kemudian tiba di Stasiun Gubeng dan pukul 17.20 tiba di Stasiun Pasuruan.
Menurut Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, penumpang kereta dahulu adalah orang-orang Eropa dan pegawai yang berdinas di pemerintahan.
“Jadi dulu ada dua ke reta api yang melayani rute pulang-pergi (PP), dari Pasuruan kereta api berangkat pukul 06.18 dan pukul 14.07, kata Chrisyandi kepada Radar Surabaya.
Sedangkan untuk tarif ketika itu sekitar 50 gulden. Selain itu, kereta api juga melayani untuk pengangkutan pengangkutan barang atau logistic, terutama untuk hasil perkebunan dan pertanian. “Mereka juga memanfaatkan kereta untuk mengangkut hasil bumi,” terangnya.
Sementara itu, di akhir abad 20-an, perkembangan transporta si terus berkembang pesat. Hampir di wilayah Jawa, jalur kereta api tersambung. Setelah pembangunan Sta siun Bandung di tahun 1884 diopersionalkan, jalur rel Bandung mulai tersambung ke Surabaya (Stasiun Gubeng). Kereta cepat mulai diadakan. Pemerintah Hindia Belanda dan perusahaan pengelola Staatssporwegen (SS) merumuskan tarif penumpang untuk kereta api cepat di tahun 1939.
Chrisyandi menjelaskan, untuk tarif penumpang Surabaya Gubeng- Bandung pulang pergi ketika menggunakan kereta api cepat untuk kelas 1 27,30 gulden, untuk kelas 2 19.10 gulden, dan kelas 3 9,60 gulden.
Untuk kereta api cepat siang hari dari Surabaya-Bandung PP ketika itu berhenti di Kroya Yogyakarta. “Кеtika di Kroya kereta berhenti karena dilakukan pergantian gerbong. ujar Chrisyandi. (bersambung/nur)

