Sejak dibangun tahun 1860-an, Stasiun Gubeng pun memperlebar jalurnya, yakni Surabaya-Pasuruan yang diresmikan pada 16 Mei 1678

 

KEMUDIAN berlanjut hingga Bangil sampai Malang yang diresmikan 20 Juli 1979. Lalu disusul jalur kereta api seperti Sidoarjo-Madiun (dari Sidoarjo-Mojokerto) diresmikan 16 Oktober 1880, hingga ke Kediri dan Blitar. Dan jalur Pasuruan ke timur sampai Probolinggo sepanjang 40 Kilometer yang selesai dibangun 1884, “Jadi ketika Stasiun Gubeng dibangun dan diperpanjang relnya. Berdiri juga stasiun yang disinggahi oleh rute kereta api. Namun bangunan stasiun di kabupaten tak seperti di Stasiun Gubeng. Jadi besar kecilnya stasiun tergantung letak wilayah nya,” kata Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Pustakawan dari Universitas Ciputra itu menjelaskan, stasiun Gubeng yang lokaisnya di pusat kota juga mempunyai kendala. Seperti kesulitan perpotongan jalur kereta api dan jalan raya utama. Sehingga harus dipecahkan dengan menempatkan jalur kereta di bawah permukaan tanah.

“Jadi sama dengan peletakan stasiun di Eropa yang letaknya di tengah kota. Punya masalah sendiri yang cukup unik dari segi tata ruang kotanya. Di Jawa seperti halnya Stasiun Gubeng tantangan crossing antar jalur kereta api dan jalan raya kota harus diatasi,” jelasnya.

Sementara itu, Chriyandi menyebut bahwa dari ebrbagai sumber literasi jaringan kereta api atau jalur kereta api di Pulai Jawa tahun 1860 hingga 1912 merupakan jalur terlengkap di Asia. Mulai diresmikan di kawasan Jawa Tengah yang meliputi Semarang-Kedung Jati. Kemudian merembet ke Jakarta-Bogor. Lalu Surabaya-Pasuruan, hingga Surabaya-Batavia.