Tata bunyi ruang ibadah penting diperhatikan. Tujuannya untk menciptakan suasana yang khusyuk. Selain itu, memudahkan untuki menyampaikan informasi secara audio.

Pengeras suara elektronik belum secanggih sekarang. Kendati saat itu perusahaan listrik milik kolonial sudah berdiri. Untuk itu, pengondisian itu sudah dirancang semasa pembangunan.

Rancangan desain untk menunjang audio belum populer saat itu. Tapi, upaya itu patut dicoba. Karena mampu menekan biaya pembangunan. “Karena material akustik ruang saat itu cenderung mahal,” ujar Dosen Arsitektur Interior Universitas Ciputra, Freddy H Istanto kepada Radar Surabaya.

Menurutnya, proses desai yang akurat bakal memperngaruhi hasil suara. Banyaki hal yang diperhitungkan. Seperti ketinggian gedung, sistem sirkulasi udara, dan bahanh interior yang digunakan.

“Sebenarnya masih banyak faktor lain. Tapi ketinganya cukup mkewakili. Itu semua mempengaruhi suara yang sesuai standar dan meminimalkan risiko bising atau noise,” papar laki-laki yang juga Ketua Sjarikat Poesaka Surabaya ini.

Dia menyebutkan, tiga penanganan kualitas akustik ruang. Di antaranya, bentuk ruang dalam, penggunaan material, dan desain sistem penguat bunyi. Cara ini untuk menentukan waktu dengung ruang.

“Salah satu faktor utama penentu kualitas akustika ruang. Waktu dengung terlalu pendek menyebabkan ruangan seakan mati dan sebaliknya,” paparnya.

GKI Pregolan Bunder memiliki tinggi plafon cukup tinggi, hampir 10 meter. Permukaannya tidak rata, karena coran dan sabuk struktur bangunan utama itu cukup kedap.

“Struktur ini yang bisa menghasilkan audio yang cukup jelas dan gema yang tidak belebihan. Suara itu dihasilkan dari permukaan langit-langit yang dibuat tidak datar, pemilihan bahan jendela, dan meminimalkan ventilasi yang terbuka,” imbuhnya. (bersambung/nur)