SURABAYA – Menjalani pola makan sebagai vegetarian bukan hal yang sulit untuk Risma Dwi Santoso, public relation officer Artotel Surabaya. Risma secara tidak sengaja sudah dibiasakan menjadi vegetarian sejak kecil. Dia tidak bisa memakan menu olahan daging selain buatan keluarga. Dengan demikian, mau tidak mau, ketika berada di luar rumah, dia harus memilih sayur-sayuran untuk dikonsumsi.
Memasuki usia dewasa, ketidakbiasaannya makan daging selain olahan keluarga terus tertanam di benaknya. Beberapa kali dia memaksa dan mencoba memakan masakan rekomendasi teman-temannya yang berbahan daging. Hasilnya, masakan tersebut selalu berakhir di tempat sampah. “Nggak bisa nelen padahal ada yang rekomendasi daging empuk katanya, tapi hasilnya nihil,” ujarnya.
Tetapi, dia bersyukur dengan kebiasaan itu. Efek yang dirasakannya sangat positif. Bentuk tubuh yang ideal serta wajah dan kulit yang terlihat masih muda saat menginjak usia 29 tahun membuatnya bersyukur “terpaksa” menjadi vegetarian. “Ternyata, manfaat jadi vegetarian itu banyak juga, saya jadi beruntung,” ungkapnya.
Alumnus Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tersebut juga mengungkapkan, hampir setiap hari, selain makan sayuran, dia kerap menjadikan buah-buahan sebagai camilan. “Minumnya juga air putih, susu, atau teh. Sehat sekali ya? Saya juga heran,” terangnya, lantas tertawa.
Seperti yang ditemui kemarin, Risma memilih menu wok flame tofu vegetables ditambah teh dengan irisan leci di dalamnya. Menu berbahan brokoli, kol, sawi putih, bawang, jamur, serta tahu sutra itu menjadi favoritnya sejak bekerja di hotel di pusat kota tersebut. “Lengkap dan mengenyangkan, tapi yang terpenting tidak bikin gemuk,” ucapnya, lantas tersenyum.
UC Lib-Collect
Jawa Pos.1 Januari 2016

