Selama ini perguruan tinggi lebih banyak mengajarkan moral dan profesionalisme, sedangkan pengajaran di bidang entrepreneurship masih tertinggal. Dengan memasukkan entrepreneurship dalam kurikulum diharapkan sarjana di Indonesia menjadi pembuka lapangan pekerjaan.
Entrepreneurship diusulkan masuk dalam kurikulum perguruan tinggi. Dengan memasukkan entrepreneurship dalam kurikulum diharapkan sarjana di Indonesia dapat menjadi pembuka lapangan pekerjaan, bukan peminta kerja.
Usulan tersebut, disampaikan pengusaha properti Ciputra pada acara Jakarta Marketing Week 2017 di Mall Kota Kasablanka, 9 Mei 2017 lalu. “Perguruan tinggi kita selalu mengajarkan moral dan profesionalisme, tapi bidang entrepreneurship masih tertinggal,” ujar Ciputra.
Dengan meningkatnya jumlah lapangan kerja, maka pendapatan per kapita Indonesia juga akan meningkat. Kenyataan yang memprihatinkan saat ini masih banyak sarjana di Indonesia yang masih menganggur. Karena para sarjana tersebut adalah para pencari pekerjaan bukan pencipta pekerjaan.
Ciputra menjelaskan, hanya entrepreneurship yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa. Menurut Ciputra, pendidikan dan pelatihan, serta penanaman entrepreneurship menjadi kunci untuk mengentaskan kesenjangan sosial di Indonesia.
Pendidikan dan pelatihan untuk buruh merupakan jalan pintas untuk dapat mengatasi persoalan kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia. Ciputrra percaya dengan meningkatnya keahlian buruh, maka produktivitas akan meningkat dan akan berakibat pada bertambahnya penghasilan buruh. Dengan demikian, masih banyak pihak yang merasa bahwa mengentaskan kesenjangan melalui entrepreneurship memerlukan waktu yang terlalu lama. Banyak pihak yang hanya berpikir jangka pendek, supaya terlihat berprestasi dan terpilih kembali. Contohnya adalah membagi-bagi uang untuk mengentaskan kesenjangan, padahal hal itu bukan contoh yang mendidik.
Budaya Entrepreneurship
Kisah sukses pengusaha Indonesia minimal dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok. Pertama, menjadi pengusaha karena “terpaksa” atau “dipaksa” oleh keadaan. Pengusaha jenis ini muncul berawal dari persoalan ekonomi, keluarga miskin, tetapi mereka memiliki motivasi tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka dipaksa keadaan dan situasi untuk dapat melahirkan ide kreatif yang memiliki nilai tambah ekonomis. Banyak pengusaha atau konglomerat yang berjaya di Indonesia masuk dalam kategori ini.Orang-orang ini pekerja keras dan mengalami pasang-surut dalam berbisnis dan memulai bisnis dari bawah. Ada yang saat merintis usaha tidak punya modal uang sama sekali kecuali keuletan dan kepercayaan.
Kedua, kalangan keluarga pengusaha. Mereka dari kategori ini telah dipersiapkan dan ditempa oleh keluarga meneruskan usaha yang dirintis. Jaringan bisnis terbentuk melalui dinamika usaha keluarga. Pengusaha sekelas Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, dan Putra Sampoerna berasal dari kalangan ini. Kegigihan pendahulu mereka dalam merintis dan mengembangkan bisnis telah banyak dituang dalam kisah sukses baik berupa buku maupun tulisan di jejaring sosial.
Dalam berwirausaha tidak selamanya modal uang merupakan hal yang mutlak dibutuhkan. Berbagai kiat dapat dipelajari dan ditiru dari pengusaha sukses. Tidak memiliki produk sendiri bukan berarti tidak bisa berwirausaha karena bisa menjualkan barang orang lain juga.
Karakter Entrepreneurship
Karakter entrepreneurship menyuburkan pola pikir kreatif, menciptakan produk atau gagasan, dan menjadikannya memiliki nilai tambah ekonomis. Sejumlah perguruan tinggi telah siap dengan gagasan mulia ini karena kesulitan menemukan pengampu (dosen) mata kuliah entrepreneurship yang cocok dengan karakter mata kuliah.
Pengajar entrepreneurship adalah mereka yang mampu membangkitkan motivasi mahasiswa untuk membuka usaha. Pengajar bertindak juga selaku mentor di lapangan (menjalankan bisnis), jadi proposal bisnis (business plan) tidak sebatas tulisan di atas kertas. Secara periodik kampus dapat menajak dunia industri masuk kampus dan sebaliknya mahasiswa masuk ke dunia industri kreatif dan bisnis. Jadi akan tercapai simbiosis mutualistis yang dibutuhkan kedua belah pihak.
Menurut Prof. Dr Musa Asy’arie, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, materi entrepreneurship seharusnya diberikan oleh orang yang betul-betul pengalaman dan bergelut di dunia entrepreneurship. Seorang guru atau dosen yang sekadar tahu teori entrepreneurship tapi tidak mengalaminya langsung di dunia wirausaha, tidak tepat mengajar materi tersebut. Karena materi entrepreneurship tidak cukup diberikan teorinya saja lalu diujikan. Justru yang lebih penting adalah praktiknya di dunia nyata.
Keberadaan semacam “laboratorium usaha” di kampus yang bisa menjadi tempat mahasiswa belajar entrepreneurship lebih efektif ketimbang memberikan mata kuliah entrepreneurship tidak disertai praktik. Namun tentu jika keduanya bisa disiapkan, maka hasilnya akan jauh lebih baik lagi.
Penting juga diketahui, belajar entrepreneurship bukan sekadar bisa berdagang. Tetapi bagaimana mengembangkan inovasi dan kreativitas agar bisa menghasilkan produk baru yang belum ada di pasaran dan bernilai jual.
Sumber : Majalah Inacraft. No. 022. 15 Juni-15 Juli 2017. Hal. 80-81.

