
Dikawasan penghasil gula kelapa, tiap tahun selalu ada korban penyadap nira jatuh dari pohon. Sebagian dari mereka meninggak dunia. Sampai sekarang belum ada solusi memadai dari pemerintah setempat, untuk menanggulangi permasalahan ini.
Solusi yang dilakukan pemerintah, antara lain memberikan benih kelapa genjah kepada petani. Kelapa genjah pohonnya pendek, akan berbuah umur tiga sampai lima tahun.
Petani merespon negatif pemberian benih kelapa genjah ini, sebab hasil niranya akan sebanyak dan sebaik varietas kelapa dalam. Pemerintah kabupaten memberikan solusi dengan membagikan alat pengamanan berupa hardness, kern mantle dan carabiner.
Solusi ini juga direspon negatif oleh penyadap. Sebab mereka bukan pemanjat tebing sehingga peralatan justru memperlambat kerja merreka. Itulah sebabnya korban penyadap nira kelapa terus berjatuhan.
Sentra gula kelpa di Jawa ada di Ciamis, Pangandaran, Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Purworejo, Kulon Progo, Jember dan Banyuwangi. Jumlah penyadap kemungkinan sampai ratusan ribu.
Sebagian besar gula kelapa ini diserap Indofood dan Unilever untuk bahan baku kecap. Sebagian lagi diolah menajdi gula semut (gula merah serbuk), untuk diekspor. Hanya sebagian kecil yang masuk ke pasar.
Sebagian besar gula merah yang ada di pasar, berasal dari tebu. Agroindustri gula tebu rakyat, sejak zaman Sriwijaya dan Mataram Hindu tak berubah. Digiling pakai tenaga kerbau atau sapi, airnya direbus, dicetak jadi gula merah.
Gula merah berwarna sangat cerah dan beredar selama bulan puasa, sebagian besar merupakan gula tebu rafinasi, yang dicairkan, dicampur gula merah tebu, diberi potongan kelapa, lalu direbus ulang dan dicetak. Hanya sebagian kecil gula kelapa yang masuk kepasar umum, itupun sebatas pasar tradisional sekitar sentra gula. Selain dari kelapa dan tebu , gula merah juga diproduksi dari nira aren, lontar, dan nipah.
Mencontoh Srilanka
Di Bangladesh dan India, gula merah diproduksi dari pohon kurma Phoenix sylvestris.
Kelapa merupakan komoditas penting di Sri Lanka. Mereka benar-benar memanfaatkan komoditas kelapa secar optimum, mulai dari daging buahnya,tempurung, sabut, kayu sampai air niranya. Sri Lanka adalah penghasil kelapa nomor lima dunia dengan produksi 2,5(juta ton). Di atasnya Brasil 2,9 juta ton; India 11,9 juta ton;Fillipina 15,3 juta ton dan Indonesia 18,3 juta ton.
Sri Lanka benar-benar cerdas memanen kelapa, baikmbuah maupun air niranya. Mengambil air nira si penyadap harus naik dan turun pohon kelapa sehari dua kali. Kalau pohonnya 100, maka tiap hari si penyadap harus naik dan turun 200 kali. Penyadap nira di Sri Lanka berupaya mencari cara, agar hanya naik pohon sekali , turun hanya sekali. Itu pun pas naik dan pas turun harus nyaman.
Pemanjat Sri Lanka mengikatkan belahan sabut pada batang kelapa, dengan tali sabut. Jumlah ikatan sabut sekitar15 sampai dengan 20, bergantung jangkauan kaki pemanjat serta krtinggian pohon kelapa. Sabut-sabut itu diikat permanen pada dua batang kelapa, untuk naik dan untuk turun. Dengan peralatan sangat sederhana ini, pohon kelapa tidak rusak, dan pemanjat tidak bisa naik dan turun dengan mudah. Tajuk pohon kelapa tempat memanjat itu, selanjutnya dihubungkan dnegan tajuk pohon kelapa berikutnya menggunakan dua atau tiga utas tali, yang dipasang atas dan bawah. Demikian semua tajuk pohon kelapa yang akan disadap air niranya itu terhubung dengan tali.
Dengan cara ini, pemanjat bisa menghemat energi sehingga, kecelakaan jatuh dari pohon kelapa bisa diminimalkan. Sesuai pengalaman penyadap nira kelapa di Sri Lanka, dalam jangka waktu tiga bulan mereka akan terbiasa meniti tali yang menghubungkan pohon kelapa. Sri Lanka pernah mencoba beberapa cara. Misalnya memasang galah-galah bambu yang diberi tiang penyangga juga dari bambu. Ternyata biasyanya lebih mahal ketimbang pakai tali.
Pertama harga bambu lebih mahal dari tali, Kedua bambu cepat rusak, karena tiang-tiang penyangganya dimakan rayap. Mereka juga pernah mencoba aneka alat pemanjat. Dalam praktik, memanjat biasa dengan pijakan dan pegangan sabut yang diikatkan ke batang, lebih cepat dibanding alat lain. Selain faktor kecapaian, kecelakaan biasanya juga terjadi pada saat penyadap naik atau turun tajuk. Dalam kosa kata Bahasa Jawa, naik ke tajuk pohon kelapa disebut mapah (naik ke pelapah). Inilah saat paling kritis bagi si penyadap, hingga harus ekstat hati-hati.
Gambaran visual tentang penggunaan perangkat penyadapan kelapa ini, cukup banyak tersebar di dunia maya. Diantaranya bisa dilihat di https://i.ytimg.com/vi/DLH7wkh40-c/maxresdefault.jpg;https://www.youtube.com/watch?v=DLH7wkh40-c;https://www.youtube.com/watch?v=uWIMc-gmuwE.
Petani Indonesia perlu contoh cara penyadapan nira kelapa yang lebih ramah ini. Perusahaan pengguna gula kelapa seperti indofood dan Unilever perlu menggunakan dana tanggung jawab sosial (coryparate Social Responbility/CSR); untuk membangun petak demonstrasi (demonstrasi plot demplot). Petani cukup responsif, untuk meningkatkan produktivitas, mereka akan mengadopsinya.
Sumber: Kontan-8-14-Januari-2018.Hal_.21
