Sumber:https://www.indozone.id/kolom/2486146416/menyelamatkan-anak-lewat-layar-urgensi-media-sehat-untuk-generasi-emas?page=3

Menyelamatkan Anak Lewat Layar: Urgensi Media Sehat untuk Generasi Emas

23 Juli 2025

INDOZONE.ID – Hari ini, 23 Juli 2025, kita kembali memperingati Hari Anak Nasional—sebuah momentum reflektif untuk menengok sejauh mana bangsa ini melindungi, mendampingi, dan membekali anak-anak sebagai generasi penerus.

Di tengah gegap gempita perayaan seremonial, ada pertanyaan mendasar yang patut diajukan: Sudahkah kita memberi anak-anak ruang tumbuh yang layak, khususnya melalui media yang mereka konsumsi setiap hari? Sebab dalam era digital, layar bukan sekadar alat hiburan; ia telah menjadi ruang belajar, ruang bermain, sekaligus ruang pembentukan karakter.

Anak-anak adalah investasi jangka panjang bangsa. Mereka adalah calon pemimpin, inovator, dan warga negara aktif yang akan mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045. Namun, investasi ini bisa gagal jika lingkungan tumbuh mereka tercemar oleh paparan konten yang tidak sehat.

Sayangnya, ruang digital anak-anak saat ini justru dipenuhi dengan tayangan sensasional, kekerasan yang dinormalisasi, bahasa yang kasar, hingga konten viral yang miskin nilai edukatif. Layar yang seharusnya menjadi jendela pembelajaran, kini perlahan berubah menjadi lorong gelap yang menyesatkan arah masa depan.

Kita patut bertanya lebih jauh: apakah bangsa ini sungguh serius mempersiapkan generasi emas jika layar mereka justru dikuasai oleh konten destruktif? Dalam situasi di mana waktu anak di depan layar terus meningkat, media seharusnya menjadi mitra pendidikan (Tkacova et a., 2022), bukan musuh dalam selimut.

Namun yang terjadi, tontonan yang layak dan membangun justru semakin langka. Tayangan anak-anak di televisi menurun drastis, sementara platform digital membanjiri anak dengan konten yang belum tentu sesuai usia dan nilai.

Peran media dalam membentuk karakter anak tidak bisa dianggap sepele. Media bukan hanya cermin realitas sosial, tetapi juga alat yang membentuk wacana, nilai, dan orientasi moral (Robertson, & William, 2024). Apa yang dilihat, didengar, dan diserap anak-anak hari ini akan menjadi fondasi cara pandang mereka terhadap dunia esok hari.

Jika kita ingin mencetak generasi emas, maka pembangunan karakter mereka tidak bisa dilepaskan dari kualitas media yang mereka konsumsi setiap hari. Menyelamatkan anak lewat layar bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan moral dan strategis.

Krisis Konten Media Anak

Krisis konten media anak kini menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang generasi muda Indonesia. Di berbagai platform, mulai dari televisi hingga media sosial seperti YouTube dan TikTok, anak-anak terpapar pada konten yang tidak ramah usia: kekerasan verbal dan fisik, bahasa kasar, body shaming, glorifikasi kekayaan instan, hingga konten sensasional yang miskin nilai edukatif.

Konten seperti ini bukan hanya mengganggu proses belajar anak, tetapi juga membentuk persepsi yang salah tentang realitas sosial. Bahkan, banyak dari mereka meniru gaya bicara atau perilaku yang mereka lihat tanpa bisa membedakan mana yang pantas atau tidak sesuai norma (UNICEF, 2021).

Kondisi ini diperparah oleh minimnya tayangan anak yang berkualitas di media arus utama. Televisi nasional kini hampir sepenuhnya meninggalkan program anak-anak. Menurut laporan tahunan KPI, jumlah tayangan khusus anak di televisi nasional terus menurun drastis sejak 2015, bahkan pada 2022 hanya 2,4% dari total jam siar yang dialokasikan untuk program anak (KPI, 2022).

Kekosongan ini akhirnya diisi oleh platform digital, yang meski memberi ruang lebih luas bagi konten kreator, tetap tak menjamin kualitas dan keamanan konten yang dikonsumsi anak-anak secara luas. Sayangnya, regulasi dan pengawasan terhadap konten digital untuk anak masih sangat lemah.

Undang-Undang ITE dan berbagai kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika belum mampu menandingi derasnya arus konten digital yang menyasar anak, baik secara langsung maupun terselubung. Algoritma platform seperti YouTube dan TikTok lebih mengutamakan jumlah klik dan durasi tonton daripada kualitas moral atau edukatif konten (Kominfo, 2023).

Padahal, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), salah satu pengaduan terbanyak yang masuk setiap tahun adalah terkait paparan anak terhadap konten yang tidak sesuai usia (KPAI, 2022). Dampak dari krisis konten ini sangat nyata dan mengkhawatirkan.

Anak-anak yang terlalu sering menonton konten kekerasan atau vulgar menunjukkan peningkatan perilaku agresif, kecemasan sosial, bahkan penurunan empati. UNICEF (2023) mencatat bahwa paparan terhadap konten digital yang tidak terkontrol secara signifikan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental pada anak, termasuk depresi dan gangguan perilaku.

Kondisi ini membahayakan kualitas generasi penerus bangsa yang seharusnya disiapkan menjadi generasi emas 2045—generasi yang cerdas, berkarakter, dan adaptif terhadap tantangan zaman (Bappenas, 2022).

Penting Kebijakan Afirmatif

Untuk mengatasi krisis konten yang tidak ramah anak, negara perlu mengambil langkah afirmatif melalui kebijakan yang tegas dan berpihak pada kepentingan masa depan generasi muda.

Salah satu kebijakan yang mendesak adalah penetapan kuota tayangan edukatif anak di jam tayang utama televisi nasional dan lokal. Kebijakan ini sejalan dengan fungsi media sebagai sarana pendidikan publik, bukan sekadar hiburan.

Selain itu, perlu ada insentif bagi rumah produksi dan kreator lokal yang berkomitmen membuat tayangan anak yang berkualitas, sesuai konteks budaya Indonesia, dan mengusung nilai-nilai karakter seperti toleransi, gotong royong, dan integritas.

Di tengah dominasi platform digital global, penting bagi pemerintah, industri, dan komunitas kreatif untuk berkolaborasi menciptakan ekosistem media yang sehat dan relevan bagi anak-anak Indonesia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, KPI, dan Kominfo bisa menjadi aktor utama dalam memfasilitasi kolaborasi antara pembuat konten lokal, platform digital, dan lembaga pendidikan untuk menciptakan ruang tayang yang edukatif sekaligus menarik bagi anak-anak.

Platform seperti YouTube Kids, TV Edukasi, atau kanal-kanal streaming nasional seharusnya menjadi arena strategis untuk distribusi konten positif yang mampu menyaingi daya tarik konten viral namun dangkal secara nilai.

Namun, intervensi struktural tidak cukup tanpa keterlibatan keluarga dan masyarakat. Literasi media digital menjadi bekal penting bagi anak-anak dan orang tua untuk bisa memilih, menyaring, dan memahami konten yang mereka konsumsi.

Program edukasi literasi media yang terintegrasi di sekolah dan komunitas akan membantu anak-anak menjadi pengguna media yang kritis dan bertanggung jawab.

Tanpa partisipasi aktif dari seluruh ekosistem ini, layar anak-anak Indonesia akan terus dikuasai oleh algoritma yang tidak peduli pada nilai. Sudah saatnya kita menempatkan masa depan anak dalam visi media kita—tidak sekadar menyelamatkan mereka dari konten buruk, tetapi juga menumbuhkan mereka melalui layar yang sehat dan bermakna.

Media Sehat untuk Generasi Emas

Anak-anak adalah cermin dari masa depan bangsa. Apa yang mereka lihat, dengar, dan serap hari ini akan membentuk cara mereka berpikir, bersikap, dan bertindak di masa depan.

Dalam dunia yang kian didominasi oleh layar, media menjadi ruang tumbuh kedua setelah rumah dan sekolah. Jika layar yang mereka konsumsi setiap hari dipenuhi kekerasan, sensasi kosong, atau nilai-nilai yang menjauhkan dari etika, maka kita sedang menanam benih yang salah untuk generasi mendatang.

Perlindungan anak tidak cukup hanya dengan regulasi formal, tetapi juga membutuhkan komitmen moral dari seluruh elemen bangsa untuk menyediakan ekosistem media yang benar-benar sehat, layak dan bermartabat.

Karena itu, Hari Anak Nasional bukan sekadar momen refleksi, tetapi ajakan untuk bergerak bersama. Kita membutuhkan gerakan kolektif yang melibatkan negara, industri media, pendidik, orang tua, dan komunitas kreatif untuk membangun media yang mendidik, menghibur dengan nilai, dan memperkuat karakter anak. 

Menyelamatkan anak lewat layar adalah tugas paling mendesak jika kita benar-benar serius mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Sebab masa depan itu tidak dibangun dalam ruang kosong—ia dimulai dari apa yang ditonton anak-anak hari ini.